Menjaga Delimukan Sulawesi, Merawat Masa Depan Ekosistem Hutan Sulawesi

39
Manata’ atau Delimukan Sulawesi, —Gallicolumba tristigmata — adalah spesies burung darat endemik Sulawesi.
Manata’ atau Delimukan Sulawesi, —Gallicolumba tristigmata — adalah spesies burung darat endemik Sulawesi.

Oleh: Jaslan Tanniapa

Dalam kesunyian hutan Sulawesi Barat, terdapat ribuan spesies margasatwa yang menghuninya. Gemericik suara yang merdu nan syahdu serta nyanyian sayap-sayap burung adalah denyut kehidupan alam liar yang tak terjamah dusta. Keheningan mistis dan simfoni satwa menjaga kemurnian hutan ini.

Dalam kepungan polusi kendaraan kota, hutan Sulawesi masih berdiri kokoh menyangga ekosistem, menjaga habitat flora-fauna, dan merawat langkah ribuan koloni semut rangrang menenun dedaunan menjadi sarang. Pepohonan menonjolkan gradasi warna langit, bayangan yang lembut, dan sinar keemasan di senja hari.

Pepohonan yang rimbun dan belukar yang rapat meninggalkan jejak jalur baru kawanan Tokata —Anoa pegunungan (famili Bovidae) yang bermigrasi setiap tahun. Di Pundak Tokata, serangga-serangga hutan membersihkan bakteri yang menempel pada kulitnya.

Sekitar 350 spesies burung hutan khas Wallacea ada di hutan Sulawei Barat. Menurut berbagai literatur ornitologi global, saat ini kita mengenal lebih dari 11.000 spesies burung di dunia. merujuk checklist global yang dipublikasikan oleh BirdLife International dipublikasikan pada Desember 2025.

Burung-burung ini menghuni setiap sudut habitat, mulai dari puncak pegunungan bersalju hingga hutan hujan tropis. Menghiasi cakrawala Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, memberi kesejukan lewat kicau dan ragam kecantikannya. Sulawesi adalah salah satu pulau di Indonesia dengan eksotisme habitat hutan hujan tropisnya. Manata’ atau Delimukan Sulawesi, —Gallicolumba tristigmata dalam nama ilmiah, adalah salah satu penghuninya adalah

Populasi burung endemik Indonesia ini hanya ditemukan di dalam hutan hujan tropis pulau Sulawesi, itupun saat ini sudah langka meski kita berjalan dan menelusuri hutan tersebut. Entah karena populasinya yang sedikit atau karena perilaku burung Manata’ yang unik, berbeda dari perilaku burung hutan kebanyakan. Sulit sekali menemukannya, apalagi mengambil gambarnya.

Sesuai dengan kelompoknya (ground dove), Delimukan Sulawesi adalah burung terestrial. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di berjalan kaki mencari makanan, seperti biji-bijian, buah-buahan yang jatuh, atau serangga kecil. Mereka juga cenderung sangat pemalu di habitat aslinya.

Delimukan Sulawesi memiliki ciri khas yang eksotis. Hal ini membuat banyak warga yang hidup berdampingan dengan hutan Sulawesi menjadikannya sebagai buruan untuk dipelihara atau sekadar dikonsumsi dagingnya. Namun, untuk menjadikannya sebagai hewan peliharaan, proses merawatnya sangatlah sulit. Mengubah lingkungan awalnya dari hutan belantara menjadi dekat dengan manusia adalah pilihan yang pelik karena membuatnya sulit beradaptasi. Apalagi dengan perilakunya yang pemalu, perubahan lingkungan ini rawan membuatnya mengalami stres.

Banyak warga lokal yang tinggal di sekitar kawasan hutan mengaku pernah mendapatkan burung ini dalam jebakan mereka, dan mereka semua mengatakan hal yang senada mengenai sifat rapuhnya.

“Manata sulit bertahan hidup jika dijadikan peliharaan. Paling umurnya hanya satu sampai dua minggu, setelah itu mati. Makanya ujung-ujungnya dikonsumsi sebagai buruan hutan,” begitu keterangan dua warga yang memahami karakteristik Manata, Bapak Hadir dan Bapak Rahmadi.

Kenyataan itu menunjukkan bahwa Manata adalah satwa yang tidak bisa didomestikasi orang yang tidak berpengalaman. Ketidakpahaman masyarakat mengenai sifat biologis dan psikologisnya menciptakan siklus perburuan yang sia-sia. burung ditangkap, mengalami stres di dalam kandang, dan akhirnya disembelih untuk dikonsumsi sebelum jadi bangkai. Jika pola pikir dan kebiasaan seperti ini terus dibiarkan tanpa adanya edukasi yang masif, maka kepunahan Manata di alam liar Sulawesi Barat tinggal menunggu waktu saja.

Manata memiliki ciri fisik serta perpaduan warna yang khas dan unik. Pada bagian dahi, terdapat bercak bulu berwarna kuning oranye atau keemasan yang terang di depan mata. Terdapat pula garis melengkung mirip bulan sabit berwarna ungu tua atau merah bata yang sangat kontras di belakang mata atau telinganya. Mahkotanya mengilat, bulu di bagian atas kepala tersebut berwarna abu-abu keunguan dengan kilauan hijau zaitun (iridescent). Sementara itu, tubuhnya didominasi warna cokelat dengan bulu bagian sayap dan punggung berwarna cokelat zaitun (olive-brown). Siapa pun yang pernah menjumpai burung ini pasti akan terpikat dan memuji kecantikannya. Bentuk fisiknya menyerupai merpati, ditambah kaki yang panjang sekitar 10 cm dengan warna merah koral yang semakin menambah keanggunan burung ini.

Sayangnya, keindahan visual ini justru menjadi daya tarik utama yang memicu ancaman bagi kelestarian hidup mereka. Hal ini membuat banyak warga menjadikannya sebagai buruan utama untuk dipelihara di dalam sangkar atau sekadar dikonsumsi dagingnya sebagai hidangan alternatif. Proses perburuan tradisional yang masif di masa lalu telah menempatkan burung ini dalam posisi yang rawan.

Selama lebih dari lima dekade, Manata telah menjadi hewan buruan yang sangat dicari oleh beberapa kelompok masyarakat di pedalaman Sulawesi. Selain dijadikan sebagai hewan peliharaan dan bahan konsumsi, terdapat mitos sosiologis yang melekat kuat pada satwa ini. Manata diyakini oleh sebagian masyarakat tradisional sebagai burung pembawa keberuntungan atau prasyarat mistis dalam berburu. Beberapa pemburu lokal percaya jika mereka secara tidak sengaja mendapatkan atau melihat manata dalam awal perjalanan masuk ke hutan, maka mereka akan mendapatkan hasil buruan lain seperti Tokata dan Rusa, dalam jumlah yang sangat banyak.

Kepercayaan mitologis inilah yang mempercepat laju penurunan populasi mereka, karena pemburu merasa harus menangkapnya demi mendapatkan  buruan. Populasi serta batas peta habitatnya yang belum diketahui secara pasti oleh para ilmuwan dan pihak berwenang membuat penulis merasa sangat khawatir. Ada kemungkinan besar manata akan punah jika terus-menerus ditangkap secara liar tanpa adanya upaya konservasi yang konkret, regulasi yang ketat, serta penelitian habitat yang komprehensif dari pemerintah setempat.

Menjaga Manata agar tidak punah sama halnya dengan menjaga ekosistem hutan Sulawesi secara keseluruhan. Di dalam sebuah ekosistem hutan hujan tropis yang sehat, tidak ada satu pun makhluk hidup yang diciptakan tanpa fungsi. Ada banyak hal yang mungkin belum kita ketahui atau pahami secara ilmiah dari perilaku Manata dan seluruh satwa yang ada di dalam hutan tersebut. Sebagai burung pemakan biji-bijian di area bawah (seed disperser), manata memiliki peran ekologis yang sangat vital dalam menyebarkan benih-benih pohon hutan ke berbagai sudut area tanah melalui kotorannya, membantu proses regenerasi pohon-pohon endemik baru secara alami.

Mereka semua memiliki fungsi, peran, dan manfaat masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam agar tidak goyah. Manusia tidak perlu mengeksploitasi mereka demi kepuasan pribadi atau keuntungan sesaat. Kita hanya perlu menjaganya, menghormati ruang hidup mereka, dan membiarkan habitatnya tetap utuh agar manata tetap hidup lestari serta memiliki populasi yang banyak dan sehat di dalam Hutan Sulawesi.

Di sisi lain, secercah harapan mulai muncul ke permukaan. Saat ini, ada sekelompok masyarakat lokal dan pemuda peduli lingkungan yang kini telah memiliki pemikiran yang baik serta progresif terhadap kelestarian satwa endemik Sulawesi ini. Melalui program edukasi berbasis komunitas dan kampanye penyadartahuan, mereka perlahan mulai meninggalkan kebiasaan berburu.

Mereka sadar sepenuhnya bahwa menjaga dan melindungi satwa endemik Sulawesi, seperti Manata, bukanlah sekadar tugas dari pemerintah atau lembaga konservasi internasional saja, melainkan sebuah tugas dan tanggung jawab moral yang wajib dilaksanakan oleh setiap individu yang hidup dan mencari nafkah di tanah Sulawesi. Mereka kini tidak lagi menganggap manata sebagai komoditas buruan, daging konsumsi, atau mitos pembawa keberuntungan mistis. Sebaliknya, mereka telah menganggap Manata sebagai bagian integral dari warisan identitas kehidupan, budaya, dan kelangsungan ekosistem masa depan mereka yang harus diwariskan kepada generasi dan anak cucu mendatang. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini