Cahaya Tanah Mandar
Hamparan hijau
Di bawah langit Mandar benderang
Membaca-berguru berjalan bergandengan tangan
Membuka jendela dunia terbentang luas
Bagi anak-anak Mandar masa depan
Di depan gerbang desa
Terdengar suara merdu
Guru mengaji menuntun dengan sabar dan tulus
mengeja alif-ba-ta di keheningan waktu
Mengalir berkah yang tak pernah putus
Kalian bintang-bintang kecil berbinar
Hiasan paripurna di tengah kegelapan
Ada rumah berdinding cinta kasih sayang
Menggenggam mimpi dan harapan
Ketulusanmu jauh lebih berharga
Langkah kecil dan fondasi kuat nan mulia
Bintang Kecil di Balik Lembaran
Langkah kaki ini mungkin belum sejauh samudra
Namun di dalam dada ada api yang terus menyala
Aku adalah lelaki yang membawa sejuta mimpi
Berdiri tegak berjanji pada ibu Pertiwi
Di ujung waktu tempat aksara bermuara
Kami membaca dan berguru membuka jendela dunia
Bukan sekedar membaca atau menjaga kata
Tapi menyalakan lilin di tengah gelapnya semesta
Aku Membaca dan Berguru
Setiap buku yang dibuka adalah harapan
Bersama baris kalimat dan lembar buku terbaca
Ada doa yang mengangkasa dan jiwa yang terjaga
Kami bintang-bintang kecil itu menjadi cahaya
literasi yang tak padam oleh waktu
Mengukir ilmu mengubah duka menjadi tawa
Menjadi Kompas di tengah badai
Lelaki hebat dia yang peduli pada sesama
Di dalam dada yang bising oleh ambisi
Ada ruang yang sunyi di tempat dunia melunak
Mendengarkan bukan sekedar bunyi dari bicara
melainkan meraba retak hati di hati sesama
Empati adalah jembatan yang kita bangun
Dari ego yang tinggi menuju jemari yang bertaut
Saat kau pahami perih dan mimpi mereka
Kecerdasan sosial bukan topeng kepalsuan
Dia adalah seni menata rasa dari riak gelombang
Ketika kamu mampu merangkul perbedaan
Karena pemimpin sejati tidak lahir dari titah
Bukan juga dari tingginya takhta yang bertakhta
Dia adalah mata air dari gersangnya jiwa
Yang menuntun tampak musti memaksa
Membawa sejarah memanusiakan manusia
Peduli bumi tak butuh gengsi
Di antara lipatan kemeja yang rapi
Pernah bersemayam ego yang tinggi
Takut jemari kotor ditunjuk mata
Takut dipandang rendah oleh sesama
Bukan tugasku bisik gengsi di masa lalu
Sembari berpaling dari tumpukan pilu
Namun lihatlah sekeliling kita
Ketika dunia perlahan renta
Mereka lalu lalang dengan mata buta
Melempar plastik seolah itu tanpa dosa
Bumi menjerit di balik beton dan baja
Sementara masyarakat sibuk menutup telinga
Hari ini, ku buang gengsi itu ke tempat sampah
Biar meluap, biar pecah
Kugulung lengan baju tampak ragu
Memungut sisa kerakusan yang membatu
Tak peduli cibiran atau tatapan sinis
Saat melihatku mengais di antara tangis
Untuk apa? Tanya mereka meremehkan
Tertawa di balik jendela yang nyaman
Mereka lupa tanah tempat mereka berpijak
Sedang sekarat menanti kehancuran yang bijak
Biar saja aku dianggap gila
Mengurus sisa yang tak mereka jaga
Sebab peduli butuh aksi bukan sekedar basa-basi
Dan mencintai bumi tak butuh selembar gengsi
TENTANG PENULIS
Rahmat Jasinal Ambas, adalah alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogja. Penggerak GUSDURian Jogja, juga petani. Ia merintis perpustakaan Bintang Kecil di desa Sugihwaras sebagai ruang literasi bagi masyarakat. Menyukai isu-isu kemanusiaan, lingkungan dan pendidikan.
Puisi-puisinya ini merupakan hasil dari Sekolah Menulis Stanifa Institute Yogyakarta dan Pustaka Bintang Kecil.










