Jejak Epos I La Galigo dalam Ritual Pa’bandangang-Peppio

168
Bustan Basir Maras, Sastrawan-Antorpolog
Bustan Basir Maras, Sastrawan-Antorpolog

“Siapa sangka jika sebuah upacara adat di Kampung Kajuangin, Malunda, Sulawesi Barat, ternyata memiliki benang merah dengan salah satu epos sastra terpanjang di dunia, I La Galigo.”


OLEH : JASMAN RANTEDODA

GEMURUH gagasan mengalir di pesisir Mekkatta, di Gazebo Cafe dan Korumta Pustaka, Sabtu 4 Juli 2026.

Sebuah Focus Group Discussion (FGD) digelar, bukan untuk membincang soal-soal politik, koperasi desa dan kelurahan, atau MBG yang belakangan ramai sorotan lantaran skandal koruptor masif, lebih-lebih bukan soal kepala daerah yang menerima penghargaan lantaran dinilai berhail mengikis pengagguran, tetapi percakapan yang lauh lebih intim, lebih dalam, dan lebih  bermakna tentang sebuah upacara adat di Kampung Kajuangin, Pa’bandangang-Peppio.

Bukan main, peserta diajak menyelami kembali denyut kehidupan masa silam, menelusuri jejak sebuah kisah yang telah hidup berabad-abad dalam epos I La Galigo. Siapa sangka jika sebuah upacara adat di Kampung Kajuangin, Malunda, Sulawesi Barat, ternyata memiliki benang merah dengan salah satu epos sastra terpanjang di dunia itu.

Temuan dalam penelitian, Bustan Basir Maras, ini membuka perspektif baru tentang kekayaan budaya di Sulawesi Barat. Sebuah kemungkinan menarik bahwa upacara Pa’bandangang-Peppio, yang hingga kini tetap dipraktikkan masyarakat Kajuangin, diduga memiliki hubungan saling silang dengan dunia naratif I La Galigo. Hubungan itu memang tidak hadir dalam bentuk kutipan atau cerita yang sama persis, melainkan berupa persinggungan nilai, simbol, dan ingatan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Temuan semacam ini menegaskan bahwa kebudayaan tidak pernah tumbuh dalam ruang yang terpisah. Tradisi bergerak mengikuti manusia, saling bertemu, berbaur, lalu meninggalkan jejak yang kadang baru terbaca puluhan, bahkan ratusan tahun kemudian.

Untuk menguak jejak-jejak itu, Bustan tak sekadar mengandalkan teks. Selama kurang lebih tiga bulan ia menjelajahi sejumlah kampung, mulai dari Kajuangin, Pettabeang, Mosso, Bambangan, Mekkatta, Taan, Pao-pao, hingga Allamungan Batu. Ia berbincang dengan para tetua, mendengar kisah yang diwariskan secara leluri, mengamati pelaksanaan tradisi, serta menelusuri berbagai koleksi pustaka di perpustakaan daerah hingga Laboratorium I La Galigo Universitas Hasanuddin.

“Ya, dari penelitian ini saya menemukan adanya keterkaitan secara tidak langsung antara epos I La Galigo dan Upacara Adat Pa’bandangan-Peppio,” ungkap Bustan.

Namun sesungguhnya, Bustan telah memulai penelusuran itu jauh lebih lama. Sejak 2008, Bustan terus mengumpulkan serpihan informasi mengenai Pa’bandangang-Peppio, sedikit demi sedikit merangkai mozaik yang kini memperlihatkan bentuknya pada penelitian terbarunya.

FGD menjadi ruang tempat mozaik itu disusun bersama. Para pelaku utama Upacara Adat Pa’bandangang-Peppio, tokoh masyarakat, guru, mahasiswa, pelajar, hingga pegiat budaya saling melengkapi potongan-potongan ingatan yang mereka miliki.

Salah satu temuan yang menguat adalah keberadaan folklor tentang Sawerigading yang masih hidup dalam tutur masyarakat Malunda. Tokoh utama I La Galigo itu ternyata tidak hanya hidup dalam naskah kuno, tetapi juga berdenyut dalam cerita-cerita yang terus dituturkan di beranda rumah, di kebun, atau dalam percakapan sehari-hari.

Dalam perspektif antropologi, cerita lisan semacam itu bukan sekadar dongeng. Ia adalah arsip budaya. Di dalamnya tersimpan jejak cara pandang, sejarah, hingga hubungan antarmasyarakat yang tidak selalu tercatat dalam dokumen teks. Folklor menjadi jembatan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

Namun diskusi yang ritmis itu ditingkahi kegelisahan akan bagaimana nasib tradisi tersebut di masa depan? Di tengah derasnya arus budaya global yang mengalir melalui layar telepon, ruang hidup budaya lokal semakin menyempit. Banyak anak muda mengenal tokoh-tokoh populer dari berbagai belahan dunia, tetapi belum tentu mengetahui kisah yang lahir dari kampung  halamannya sendiri. Karena itulah, para peserta menilai kegiatan seperti FGD tersebut tak hanya penting bagi penelitian, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi generasi milenial dan generasi yang lahir, tumbuh, dan besar di era digital atau generasi Z, untuk mengenali dan melestarikan akar budayanya.

Pelestarian budaya, bukan semata menjaga ritual tetap berlangsung. Jauh lebih penting adalah menjaga agar makna di balik ritual itu terus dipahami. Sebab, sebuah tradisi akan kehilangan rohnya ketika hanya diwariskan sebagai seremoni tanpa pengetahuan.

Penelitian Bustan, menunjukkan bahwa merawat warisan budaya memerlukan kerja bersama. Peneliti, masyarakat adat, komunitas budaya, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, hingga lembaga pendanaan memiliki peran yang saling melengkapi. Ketika semua unsur itu bertemu, tradisi tidak hanya terdokumentasikan, tetapi juga memperoleh ruang untuk terus hidup dan berkembang.

FGD itu dipungkasi menjelang siang. Namun, percakapan tentang budaya belum selesai. Di sela makan bersama, obrolan berpindah dari satu meja ke meja lain. Lagu “Malunda” dan “Mesa Kada” mengalun pelan, diiringi petikan gitar klasik yang membuat suasana terasa akrab sekaligus syahdu.

Di sanalah pelestarian budaya menemukan bentuknya yang paling sederhana, bukan hanya dalam ruang seminar atau laporan penelitian, melainkan dalam kebersamaan, percakapan, nyanyian, dan kesediaan untuk terus mengingat.

Bustan mengajarkan satu hal, bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah denyut yang terus hidup, menunggu untuk dikenali kembali. Dan bisa jadi, di balik setiap upacara adat yang kian seret di pelosok Nusantara, tersembunyi serpihan kisah besar yang selama ini belum sepenuhnya dipahami.

Dua pelaku utama  Upacara Adat Pa’bandangang-Peppio, Bapak M. Aman dan Bapak Sulaiman Ferdiansyah, Hadir sebagai narasumber, berikut tokoh masyarakat lainnya, serta para tenaga pendidik, tokoh pemuda, penggiat budaya, juga sejumlah siswa dan mahasiswa, pulang dengan pemahaman baru bahwa mencintai tradisi moyang bukanlah sebuah ketertinggalan, di sana ada nilai luhur, identitas, dan jembatan pengetahuan masa lalu dan masa kini. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini