Haji Samsir (kiri) sedang berada di gubuk Daeng Rani yang tampak reot itu. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Lelaki tua ini bernama Daeng Rani. Kini ia hidup sebatang kara. Daeng Rani menetap di Desa Mahahek, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng). Gubuk yang ia tempati itu sudah compang camping: dindingnya yang dari papan sudah lapuk sana sini tampak berlubang. Angin dan air hujan menembus masuk dalam gubuk, begitu pula jika sedang panas terik begitu terasa.

Ukuran gubuk Daeng Rani itu tak lebih 3×4 meter. Atap sengnya sudah berlubang pula. Entah mengapa jejak keluarganya tak diketahui sama sekali. Ia menetap di desa itu benar-benar seorang diri.

Kru laman ini coba menanyai warga desa sebagai tetangga Daeng Rani. Menurut mereka, pernah tahun lalu Pemkab Mateng mau memperbaiki rumah Daeng Rani tapi hingga kini belum juga terwujud.

“Kasihan dia tidak ada keluarganya di sini,” kata warga kepada laman ini pada Rabu, 3 Juni 2019.

Daeng Rani rupanya masih tegar berbicara. Kepada laman ini ia bilang, “Jangankan tanah untuk berkebun, tanah saat ini yang kutempati bikin rumah bukan milikku.”

Ketika ditanya siapa yang bikinkan rumah, Rani jawab, “Ini rumah milik saya, tapi bukan tanah saya. Saya tidak memiliki apa-apa, kecuali rumah ini saja pak. Tanah, kebun sama sekali tidak ada. Keluarga juga tidak ada.”

Ketegaran menjalani hidup bagi Daeng Rani adalah sebuah contoh hidup tak boleh menyerah.

Lalu, datanglah Haji Samsir. Sang dermawan ini membantu memperbaiki rumah Daeng Rani.

“Alhamdulillah, saya bersyukur ada orang yang mau memperbaiki rumah saya,” katanya.

Haji Samsir tak hanya membangunkan rumah untuk Daeng Rani, tapi tanah yang ia tempati itu ia juga bebaskan, artinya sepenuhnya dalam penguasaan si tua itu.

Berkat jiwa belas kasih Haji Samsir, rumah Daeng Rani kini berdiri lebih baik. (Foto: Ruli)

“Saya bangunkan rumah dan saya kasi juga tanahnya secara gratis. Sudah lama kasian menderita,” aku Haji Samsir.

Pian, salah seorang warga yang berdiri tak jauh dari rumah yang sedang dibangun itu menimpali, “Semoga niat mulia ini dibalas yang di atas.”

Pada Rabu itu, kru laman ini mengonfirmasi kepada H. Samsir, apa gerangan yang membuat hatinya tergerak membantu Daeng Rani.

“Itu berawal dari selentingan cerita mengenai kondisi kehidupan si nenek tua renta di desa itu. Saya dengar dari salah seorang tetangga yang menyebutka bahwa ada seseorang yang kehidupannya tak banyak diketahui orang,” cerita Haji Samsir.

Haji Samsir melanjutkan kisahnya, “Saya penasaran dan langsung ingin menemuinya. Ternyata benar kondisinya seperti itu yang dicerita oleh banyak orang,” katanya.

Besoknya, sambung Samsir, saya mengajak beberapa teman-teman dari Satpol PP Mateng untuk kembali mengunjungi nenek tersebut untuk membangunkan kembali rumahnya agar layak ditinggali.

Empati Haji Samsir tentu akan sangat membantu Daeng Rani. Di sekitar kita—mungkin—masih ada tetangga atau warga yang nasibnya tak jauh berbeda dengan Daeng Rani ini.

Tuhan ‘menyayangi’ orang-orang yang suka berbagi. Jangan tunda lagi.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini