Tungkai Zain Berpijak di Gunung

1858
Pj. BUPATI MAMASA Dr. MUH. ZAIN, M.Ag KETIKA BERKUNJUNG KE SEBUAH SEKOLAH REOT DI TRIWULAN PERTAMA MEMIMPIN MAMASA, 2024. (FOTO: ISTIMEWA)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Doktor M. Zain diterima begitu lapang dada Rakyat Mamasa, termasuk di dalamnya aktifis mahasiswa, LSM, para tokoh, juga kalangan pers.

Ada memang kritikan tajam jika dilihat dari demonstrasi di awal-awal masa kerja aktif M. Zain, tapi hanya berbilang pekan para pendemo bertahan di jalan, lamat-lamat meredup (baca: berkawan).

Para tokoh nyaris tak berbunyi. Kecuali mungkin satu dua tokoh belaka, itu pun bunyinya sekadar di beranda rumah, di luar pagar melempem.

Pers, kritiknya kulit-kulit luarnya saja. Muncul tenggelam, sesekali jua dalam hampir setahun ini.

Komumikasi Zain berbuah manis di Mamasa. Ia mampu merangkul semua kalangan, terutama Rakyat kecil. PNS, ya, jangan dibilang.

Lembaga swadaya pun demikian. Partai politik jauh panggang dari api. Mereka sibuk mengurus dirinya masing-masing. Yang penting konstituen aman. Juga orang di rumah. Jaminan asap dapur mengepul jauh lebih penting.

Pj Bupati Mamasa, Dr. Muh. Zain melangkah gontai. Ia mengerjakan banyak program tanpa berpikir mesti dilakukan tudang sipulung. Tak ada cakap-cakap pendahuluan. So must goes on — jalan terus tak jadi soal. Asal diniatkan pro-Rakyat, pekerjaan dikebut.

Telah 12 bulan lamanya memimpin Mamasa. Jika tak ada aral 8 Januari 2025 nanti Doktor Zain pamit di Mamasa untuk kembali ke Jakarta. Ia akan konsentrasi di Kemenag RI di Jakarta. Atau sebaliknya. Tambah 2 setengah bulan lagi.

Memang dari sana ia berasal. Dititip jadi Pj Bupati Mamasa tak lain nubuatnya mendinamisasi pembangunan dan mengelola sistem pemerintahan di Pemkab Mamasa pasca di tinggal Ramlan Badawi– kenyataannya setelah 19 September 2023 –demonstrasi seolah berpacu dengan waktu, beruntun menuntut penyelesaian kinerja untuk urusan publik, terutama keuangan.

Zain datang membawa angin segar, seperti segarnya udara pagi di Mamasa yang bersih dan sejuk dalam suasana dingin.

M. Zain begitu sering ke Jakarta, lantarannya berkantor di dua tempat: Mamasa dan Jakarta.

Bolak-balik Mamasa – Mamuju itu karena punggawanya di Provinsi Sulawesi Barat. Rumah pribadinya di Polewali.

M. Zain terbilang jarang menebar pesona ke Rakyat. Ia tak biasa main politik, mungkin ia pikir sekadar penjabat tak terlalu penting mengambil hati Rakyat terlalu dalam.

Tapi setiap ada musibah bencana alam ia datang ke lokasi bencana. Ia tunjukkan empati, lalu disusul bantuan sesuai kebutuhan warga terdampak bencana.

Tiga bulan pertama di Mamasa Muhammad Zain terlihat masih sulit menemukan ritme pemerintahannya. Bawahannya masih sungkan mendekat. Mungkin, para punggawa OPD Mamasa belum akrab setiap duduk mendapati ceramah ilmiah. Lama-lama bawahan mulai terbiasa gaya memimpin Zain.

Kondisi fisiknya kian terkuras. Ia tampak lebih kurus. Di banyak moment saat kunjungan kerja tampak celananya melorot. Tak sekali tangannya menarik ke atas ujung celananya. Meski pakai ikat pinggang.

Mamasa Sekarang, Transisi yang Sesungguhnya

Saya masuk ke dalam lalu keluar lagi, di komunitas perkotaan Mamasa. Dari asimilasi di kehidupan Rakyat Mamasa, sepotong cerita kebencian di masa Obed Nego Depparinding masih menyubur di hati Rakyat.

Menjatuhkan OND dan upaya memenjarakannya belum hilang oleh waktu. Peristiwa belasan tahun silam masih teramat singkat.

Pemerintahan Ramlan hampir 13 tahun seolah menjadi momentum bagi Welem Sambolangi. Politisi Tana Toraja ini memenangi Pilkada Mamasa 2024 berdasarkan perhitungan KPU Mamasa.

Welem akan dilantik (mungkin) sebulan ke depan, atau dua bulan lebih lagi jika jatuh di pertengahan Maret 2025.

Soal M. Zain, Pj Bupati Mamasa saat ini (2024-2025) transisi belaka. Yang paling menarik adalah, apakah Welem dan Sudirman mampu menjawab tuntutan Rakyat Mamasa yang dipendam menahun lamanya.

Kembali soal kemenangan WS-Sudirman. Welem itu dianggap antitesa Ramlan. Ia masih muda. Murah senyum. Selalu tampil sederhana. Meski di masa kampanye lalu ia kerap mengendarai Jeep Rubicon — mobil offroad mewah, yang harga bekasnya di pasaran resmi saja paling murah 1 miliaran per unit.

Politik kadang begitu gampang memoles rasa simpati Rakyat. Terutama di masa pilkada.

Messawa, Sumarorong dan M. Zain

Mengeluarkan Kurrak dari Messawa dua puluhan tahun lalu hanyalah tuntutan pengaturan wilayah administratif daerah, baik yang sudah dimekarkan maupun induk.

Pj BUPATI MAMASA Dr. MUH. ZAIN, M.Ag. (FOTO: ISTIMEWA)

Tapi kekerabatan dalam diri Zain tetaplah di Messawa, juga Sumarorong. Dalam album jejak ayahnya, pada 1958 sang ayah sudah kerap menginjakkan kaki di Messawa.

“Ayah saya sering ke Messawa, berdagang di Pasar Sikuku, Messawa. Saksi hidup pak Tallu Lembang, mantan Camat Sumarorong. Beliau sudah seperti ayah angkat saya,” kata M. Zain dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 5 Januari 2025.

Dr. Muhammad Zain, M.Ag lahir di Desa Tumpiling, Wonomulyo, Polewali Mamasa pada 6 Februari 1972.

M. Zain mengecap ilmu agama dalam lingkungan pesantren di Campalagian sejak belia. Ia mengelanakan hidup remajanya di pegunungan. Karena itu ia bilang, “Sejak kecil sudah dekat dengan warga Mamasa.”

Hidup Zain sangat familiar dengan kehidupan masyarakat Pattae’ di Polewali Mandar jalur pegunungam: dari Binuang hingga Matangnga.

Istri Zain yang selalu mendampinginya kemanapun ia pergi adalah dara Mandar tulen. Ia anak seorang punggawa di Polewali Mandar. Ayah mertua Zain, Haji Alimuddin Lidda, adalah tokoh kenamaan di Polewali.

Tapi di Polewali Mandar pula M. Zain menuai penolakan. Pengusulan Fraksi Golkar di DPRD Polewali Mandar dengan mencalonkan dirinya sebagai bakal calon Pj Bupati Polewali Mandar pada 2023 tak tersambut.

Rekomendasi itu hanya tampak dalam bentuk surat, di Kemendagri ia tak lulus. Pelbagai kekuatan politik elit di daerah menolak Zain, dulu.

Memang, sudah tak diragukan bahwa Zain adalah pembaharu dan tokoh intelektual muda di tanah Mandar. Tapi ketika berada di ranah politik, pencalonan dirinya tempo hari menuai kendala.

Naiknya Haji Ilham Borahima, seorang pejabat senior di lingkup Pemprov Sulawesi Barat, bukan cerita kosong pula.

Ilham Borahima memang seorang pejabat tekun sebagai birokrat yang tak pandai neko-neko. Namun soal yang satu ini mendudukkannya sebagai Pj Bupati Polewali Mandar.

Apa itu? Haji Ilham punya jalur khusus dekat dengan Menteri Bahlil Lahadalia, yang kelak penguasa partai Golkar.

Faktor lain Ilham relatif kenal dekat dengan punggawanya di provinsi, Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrullah, SH, yang pernah memimpin Dukcapil di Kemendagri. Sementara Ilham, sampai sekarang, kepala OPD Disdukcapil Sulawesi Barat.

Dari sinilah jalan mulus Ilham dituai. Zain tersingkir.

Sinar Zain tetap menyala. Wifi-nya on di mana-mana. Ia dikenal NU tulen dengan kader Nahdliyin ada di banyak lini, termasuk di pemerintahan. Ditambah dengan kemampuan intelektualitasnya.

Tak banyak orang di dunia birokrasi yang memadukannya lengkap: pamong negara, ilmuan pula. Dua sisi ini menguntungkan sosok Zain di pemerintahan.

Bersamaan dengan itu di Mamasa, pada bulan Januari maksudnya, Doktor Yakub F. Solon selaku Pj Bupati Mamasa sedang menjalani evaluasi tiga bulan pertama pemerintahannya di Kemendagri.

Yakub difinalty oleh Kemendagri. Jadilah M. Zain diutus ke Mamasa, sejak 8 Januari 2024, meneruskan masa kerja Pj Bupati Mamasa hingga 2025.

M. Zain paham benar eskalasi yang ditimbulkan sebuah gelaran pemilu (pilkada), apalagi pesta demokrasi barusan itu adalah pilkada serentak pertama di Indonesia. Zain tak pernah sekali pun — kecuali riak-riak kecil soal dana Pilkada Mamasa — merecoki agenda pelaksanaan pilkada. Soal netralitas hal mutlak.

Komisioner di KPU Mamasa pun pernah mengakui itu.

Soal pengangkatan pejabat, sebuah pameo sederhana perlu direnungi: seorang sahabat di puncak kerap mencari kawannya menjadi pejabat di bawahnya. Maka pandai pandailah memelihara kawan dan sahabat.

Catatan lain untuk M. Zain, juga yang lain, kelemahan pemerintahan mulai terlihat embrionya manakala terlalu dominan pengaruh istri, anak, dan kerabat lainnya dalam pemerintahan.

Ketika keluarga terdekat itu terlalu masuk mencampuri urusan pemerintahan dan pembangunan, maka sejak itulah bermula kerapuhan pemerintahan, dan…… ujungnya, Anda sudah tahun, kan!

Pasar dan Rumah Sakit, Urat Nadi Rakyat Mamasa

Penolakan M. Zain terkini, tak lebih karena dianggap ia kurang tegas terkait janjinya pada publik Mamasa.

Sedari awal Zain tegaskan akan mereformasi pengelolaan keuangan. Publik menangkapnya sederhana: pencairan dana publik lancar, aktifitas pemerintahan normal, dan kehidupan ekonomi menggeliat.

Memori lama di benak publik yang telanjur buruk, bisa menimpa Zain pula. Jika pulang ke Mamasa dan masuk kantor tahap dua, Zain bisa menuai protes keras manakala ia masih ambigu.

Jika ia tulus membangun Mamasa dengan perangai dan piawainya di birokrasi pusat yang cukup baik, tapi agak melempen di tengah elit bawahannya di birokrasi, justru kontraproduktif baginya.

Pasar Mamasa dan Rumah Sakit Modern baru hadiah Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Mamasa tahun lalu, menjadi kontrak amanah bagi M. Zain.

Rada-rada sulit kemudian M. Zain ditarik dari Mamasa. Kepercayaan mantan presiden dan telah menjadi atensi presiden baru, Prabowo Subianto, seolah menjadi garansi: Zain harus sukses kawal dimulainya groundbreaking pembangunan pasar dan rumah sakit di Mamasa.

Sulit figur lain tetiba masuk dengan jargon semangat baru di tengah masa transisi yang penuh sensifitas pembangunan dua ikon baru Mamasa ini.

Zain beruntung telah dipercaya pusat bangun Mamasa. Tapi segala onak dan duri menyertainya.

Doktor Zain mesti merubah performa dalam ketegasan memimpin Mamasa. Contoh kasus, pembebasan lahan pasar Mamasa yang telah dijanjikan Presidwn Jokowi dulu, mesti dieksekusi lebih cepat, tak boleh kalah cepat dari bawahannya di sekretariat daerah. Ia yang memegang kendali orkestrasi pemerintahan.

Rumah Sakit Kondosapata juga begitu. Publik Mamasa sudah tahu bahwa rumah sakit baru yang lebih modern akan segera dibangun, tapi masalah intern tak surut merintanginya.

Ia mesti berani merombak manajemen rumah sakit plat merah Pemkab Mamasa itu. Sudah waktunya — mulai 2025 ini — rumah sakit Mamasa tak sekadar menjadi pembuat rujukan bagi warganya untuk berobat ke Polewali atau ke Mamuju.

BPJS Kesehatan perlu dihadirkan duduk satu meja dengan Pemkab Mamasa. Minta transparansi posisinya dalam pengelolaan pelayanan cepat saji kesehatan warga Mamasa.

Pekerjaan Zain ke depan malah kian bertambah. Dan, pekan ke depan akan kita nantikan gebrakan pj baru (jika) di tangan Zain lagi.

Harapan besar ke M. Zain setali tiga uang potensi sumberdaya yang dimiliki: dari jangkauan pendidikan formal dan jejaring nasional di Jakarta.

Pendidikannya mumpuni setelah mencapai puncak akademik dengan gelar doktoral di kota Yogyakarta.

Telah 20 tahun bekerja dan bertarung hidup di Jakarta menjadikan namanya seorang pejabat penting di Kementerian Agama RI.

Terkini, ia bersedia memimpin lembaga daerah dengan jangkar nasional yang berpusat di Jakarta: Ketua Umum DPP Kerukunan Keluarga Masyarakat Sulawesi Barat (KKMSB).

Paguyuban masyarakat Mandar nasional ini lahir seiring terbitnya undang-undang pembentukan Provinsi Sulawesi Barat 20 tahun silam.

“Semoga sebagai Ketua Umum KKMSB, kita bisa bersinergi dengan semua Bupati dan Gubernur terpilih. Jalan masih panjang dan perjuangan baru mulai,” M. Zain menyitir narasi penting untuk penyemangat orang di daerah.

Prinsip Zain hendak menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembangunan di Mamasa, terutama pasar dan rumah sakit baru yang desainya mulai terpublis, adalah dambaannya teramat besar.

“Hal yang menggelisahkan saya adalah mewujudkan pembangunan yang berkeadilan di Mamasa dan Sulbar,” tulisnya pada Senin pagi, 6 Januari.

M. Zain sudah berbilang pekan wara-wiri di Jakarta. Berkantor di Kemenag. Ke DPR RI mendampingi Menag bahas masalah haji dan umroh.

Ke Kemendagri untuk memastikan lanjut tidaknya ia di Mamasa hingga pertengahan Maret 2025. Dan sudah barang tentu melobi orang lingkaran Presiden Prabowo Subianto.

Tulisan ini adalah janji saya pada M. Zain sejak triwulan pertama memimpin Mamasa.

Telah sekian bulan berlalu saat janjian duduk bersilang diskusi mengulik detail perjalanan dirinya, terutama selama menempuh pendidikan dan jadi pamong.

Hingga kini tak kesampaian karena kesibukan belaka. Zain selalu hadir dalam kabar-kabar dan wujudnya berkelebat semata.

Dari kota ke kota, melintas dari bandara ke bandara. Tak ada waktu luang. Bahkan di rumahnya di Polewali pun tak pernah singgah menetap lama.

Doktor M. Zain cukup lincah membawa fisiknya yang ringan. Ia merawat diri dengan sesekali puasa dalam sepekan. Selain untuk sehat juga menambah kekuatan psikis.

Kelebihan Zain– di antara banyak pejabat tinggi yang pelit bicara –relatif cepat merespon setiap pertanyaan dan sanggahan melalui hp pintar.

Tulisan ini lahir dari perspektif saya, satu dua pesan pendeknya sekadar pelengkap data pribadi dan bentuk kerja jurnalistik telah memenuhi syarat konfirmasi.

Bagi Mamasa, hari ini dan besok, Selasa, 7 Januari, merupakan detik-detik yang menentukan. Bayang-bayang dalam benak bisa terkabul, atau bahkan sebaliknya.

Nasib seseorang– juga pejabat sekalian — hanya Tuhan yang tahu. Yang diperjelas kebijakan matang oleh Jakarta.

Tulisan ringan ini sekadar bacaan pengisi waktu di awal pekan yang cerah ceria.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini