Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar (kedua kiri) bersama jajaran dari Pemprov Sulawesi Barat sedang mengunjungi sebuah perusahaan olahan rotan milik PPRM di Tasiu, Kalukku’, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu, 21 Maret 2018. (Foto: Humas Pemprov Sulawesi Barat)

Agak aneh memang dengan kenyataan ini: Singapura yang tak punya hutan—tempat tumbuhnya rotan—tapi sejak 5 tahun terakhir malah tercatat sebagai eksportir nomor 1 untuk bahan baku rotan. (Sumber data UN Comtrade, dikutip dari laman Liputan6.com, 19 September 2017)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Mencengangkan memang—dan tentu pula ini pukulan berat bagi industri rotan kita, pula kepada petani rotan Indonesia.

Masih kutipan dari laman tersebut di atas, pada waktu tayang yang sama, Indonesia memiliki 85 persen bahan baku rotan dunia, tapi sejak tahun lalu kita krisis.

Ini langkah karena ekspor ilegal.  “Kita memiliki banyak jalan tikus (untuk ekspor ilegal) seperti Entikong, yang paling besar jalan tikus ke Singapura. Mereka nggak punya hutan kok bisa ekspor rotan, kecuali kalau rakyat Singapura disuruh menanam rotan semua.” Ini disebutkan oleh Soenoto, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), di Jakarta, Selasa, 19 September 2017, tulis Liputan6.com.

Di Sulawesi Barat kini, pemerintah provinsi akan menggalakkan pengembangan pengolahan rotan. Memang, potensi rotan di daerah terbilang besar. Sebutlah misalnya, Mamuju, Polewali Mandar, dan Mamasa. Tiga kabupaten ini sudah lama dikenal penghasil bahan baku rotan.

Pada Rabu, 21 Maret 2018, Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar tengah melakukan pantauan pada Pusat Pengolahan Rotan Mamuju (PPRM) di Tasiu, Kecamatan Kalukku’, Mamuju, Sulawesi Barat.

Kunjungan gubernur ini dalam rangka hendak tunaikan rencana Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk mengembangkan pengolahan rotan. Yang ini pula termaktub dalam visi misi Gubernur–Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2017-2022: satu desa, satu produk (one village one program).

“Kita mau mendorong misi itu, satu desa satu produk. Ini yang perlu kita lanjutkan, baik dari rotan, kayu, meubel, atau pun kuliner. Jadi sekarang bagaimana caranya industri rotan kita bisa maju dan petani rotan kita kembali bersemangat. Kita akan olah produknya sehingga berkualitas, dan produk tersebut bisa masuk ke sekolah-sekolah dan kantor-kantor. Semua produk bersumber dari sini. Itu yang kita harapkan,” kata Ali Baal Masdar.

Untuk mendapatkan kualitas yang bagus, kata Aki Baal, perlu didukung peralatan. PPRM di Tasiu, peralatannya sudah bisa dimanfaatkan, hanya saja belum terkelola dengan baik.

“Alat-alatnya sudah bagus. Mesinnya juga tidak ada yang rusak. SDM juga sudah ada, tinggal didorong lagi. Akan kita coba perbaiki karena pabrik tersebut tidak berjalan selama ini. Insya Allah minggu depan sudah bagus,” begitu Ali Baal Masdar yakin.

Masih sebut Ali Baal, untuk memaksimalkan kembali pabrik pengolahan rotan tersebut, nanti kita akan pekerjakan orang yang profesional di sana. Hal yang sama juga akan dilakukan untuk pengembangan produk di bidang lain.

Seperti produk-produk kehutanan juga dikembangkan, ada gula aren atau gula merah, di mana bisa diminum dengan kopi. Begitu juga pengembangan sector perikanan, mengolah ikan menjadi abon. Sektor perkebunan dengan mengolah beras menjadi tepung. Coklat bias jadi coklat bubuk atau permen coklat. Kemudian kelapa bias jadi santan.

“Itu semua kita akan dorong yang akhirnya nanti tumbuh pengusaha-pengusaha kecil dan dasar untuk jadi pengusaha besar nanti. Begitu juga untuk produk kain kita di sini. Bagaimana kita bias menutupi produk tersebut, misalnya kain putih, bagaimana kita bias membuat sendiri dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Nah itu semua yang akan coba kita kembangkan,” urai lelaki yang akrab disapa ABM ini.

Untuk pengembangan ke depan, pekerjanya akan diberikan pelatihan sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih bagus, dan akan menggandeng Perusahaan Daerah (Perusda) agar produk yang dihasilkan bisa dikomersilkan, mencoba mengekspor produknya keluar.

“Kita juga akan pakai sendir. Kita sudah punya langganan di kota Cirebon. Kita bisa kirim ke sana barang jadi bisa juga setengah jadi,” kata ABM.

HUMAS PEMPROV SULBAR/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini