Warga Patulana sedang menyeberangkan sepeda motor di atas perahu pincara di Sungai Topoyo, Mateng, pada Jumat, 21 Juni 2019. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Mimpi Kazali tidak muluk-muluk. Ia bermimpi kapan desanya bisa memiliki sebuah jembatan penyeberangan. Kazali adalah seorang pemuda yang tinggal di Dusun Patulana, Desa Budong-Budong, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Keinginan pemuda Kazali akan sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan desanya dengan desa tetangga, ia luapkan kepada kru laman di rumahnya pada Jumat, 21 Juni 2019.

Pembangunan jembatan penghubung antara Dusun Patulana di Kecamatan Topoyo dan Dusun Mes, Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong sudah menjadi kebutuhan mendesak masyarakat yang tinggal di daerah pantai.

Kelak jika jembatan itu ada, sekaligus pula akan menjadi penghubung antara dua kecamatan yang bertetangga, Kecamatan Topoyo dan Kecamatan Budong-Budong.

Kazali hidup sudah tidak sendiri lagi. Ia sudah punya satu orang anak laki-laki. Sehari-harinya ia bekerja sebagai pemandu pincara: sebuah perahu penumpang yang menggunakan mesin katinting. Saban hari Kazali memandu pincaranya menyeberangi sungai dari Dusun Patulana ke Dusun Mes, dan sebaliknya.

“Sudah 10 tahun lamanya saya kerja pandu perahu pincara di desa ini. Hanya perahu pincara ini satu-satunya alat transportasi untuk menyeberangi sungai yang menghubungkan Mes dan Babana,” ujar Kazali.

Menurutnya, perahu ini dipakai memuat barang dagangan dari hasil kebun masyarakat desa untuk dijual di pasar Patulana. “Ini juga yang dipakai antar anak-anak SMP dan SMA ke sekolah,” kata Kazali.

Kazali, pemandu perahu pincara di Sungai Topoyo. (Foto: Ruli)

Dalam ingatan Kazali, jika tidak salah perahu pincara ini sudah ada sejak 30 tahun lalu. “Sejak itu pula perahu ini berguna karena jembatan penyeberangan tidak ada,” kisahnya.

Aspirasi masyarakat desa terbenam kuat dalam ingatan pemuda desa ini. “Kayak saya rekam. Saat saya membawa pincara ini, sering saya mendengar percakapan warga saat di atas perahu. Dipirampa inne diang jembatan lea. Ampunna’ nippikkirri, padahal Desa Patulana, Dusun Mes dan Desa Babana paling matuado (kapan kira-kira di sini ada jempatannya, padahal kalo dipikir-pikir Patulana, Mes dan Babana adalah desa paling tua di Mateng),” cerita Kazali.

Mendengar percakapan penumpangnya itu, seolah tersambut apa yang sudah lama hadir di benak—bahkan dalam mimpi—pemuda Kazali. “Koq sama dengan keinginan serta mimpi saya,” katanya sembari tertawa.

“Saya selalu berdoa dan berharap pada suatu saat di sungai ini ada jembatan penghubung antarkampung. Bagi saya kita harus bermimpi dulu. Mimpi juga itu merupakan doa, siapa tahu betul-betul terkabul toh,” katanya lugas.

Meski ia berharap untuk segera menikmati jembatan, tapi ia juga bilang, “Kalo bukan saya paling tidak anakta’ to yang massakding mimpita’.

Ia tutup dengan ungkapan dengan ‘bahasa ibunya’: “Mudah-mudahan kasik diang tenne jembatan dini, usek yaku’ kale kusakding mansokna, masok tomok kusakding todapak nasokna inne (Mudah-mudahan kasihan ada nanti jembatan di sini, saya rasa bukan cuman saya aja yang bermimpi, banyak orang juga yang bermimpi tentang ini).”

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini