Melepas Cucu Masuk Arena Lomba Essay dan Debat Tingkat Dunia

1459
ILHAM BINTANG bersama keluarga dan salah seorang cucunya. (Foto: Istimewa)

RATUSAN bocah, “Gen A” atau Generasi Alpha “ngeriung” di Teater Aksra Hotel Pullman di Bangkok, Jumat, 25 Agustus pagi.

Cucu ketiga saya, Rania Adiradya Bintang (11) termasuk di dalamnya. Sebagai kakek, pemandangan itu menawan. Visualnya memanjakan mata menentramkan hati.

Menyaksikan Gen A membekali diri untuk masa depannya. Anak-anak “Gen A” merupakan generasi pertama yang benar-benar telah hidup berdampingan dengan teknologi canggih sejak mereka dilahirkan.

Perdefinisi, generasi yang sudah sangat akrab dengan teknologi digital. Walaupun ada penelitian yang menunjukkan justru Gen A tidak terlalu kecanduan dengan teknologi digital. Tidak seperti orang tua mereka (generasi milenial) yang sangat mengalami ketergantungan itu.

Cucu Ilham Bintang. (Foto: Istimewa)

Pemandangan di Teater Aksra pagi itu bagi Sang Opa, setidaknya mampu melupakan sejenak kerumitan hidup di Tanah Air. Sebuah keadaan yang sudah lama diciptakan para politisi, para “baby boomers” dalam memperebutkan kekuasaan.

3.500 PESERTA DARI 40 NEGARA

Pemandangan di Teater Aksra tersebut adalah sebagian dari total 3500 peserta dari 40 negara yang mengikuti World Scholar’s Cup di Bangkok.

Rania Bintang, putri sulung pasangan dr Yassin Bintang – dr Ratu Abigail Audity adalah siswi kelas 6 SD Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ).

Dia ikut lomba menulis essay dan debat. Rania bersama Tim –terdiri 15 pelajar MISJ — diutus sekolahnya mengikuti World Scholar’s Cup kompetisi yang berlangsung di Bangkok, Thailand, 25 s/d 30 Agustus 2023.

Mentari International School (MIS) atau yang kini berubah nama menjadi Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ) adalah salah satu lembaga pendidikan internasional di Jakarta yang menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB). MISJ telah telah berkali-kali mengikuti ajang World Scholar’s Cup.

Sebelum di Bangkok, Juli lalu dalam acara sama di Seoul, Korea Selatan, siswa MISJ juga memboyong banyak penghargaan. Prestasi itu diraih setelah sebelumnya MISJ lolos babak kualifikasi di World Scholar’s Cup Jakarta Round.

Dalam lomba yang diikuti 1.800 peserta dari seluruh dunia, MISJ mengirimkan beberapa tim untuk bertarung dalam Scholar’s Bowl, Writing, Subject Challenge, dan Debate.

MISJ menjadi sekolah pertama dalam sejarah program yang menyapu bersih penghargaan di Divisi Senior dengan menjadi juara pertama di empat bidang kompetisi.

Hal ini sekaligus mempertahankan tradisi kemenangan MISJ dalam ajang World Scholar’s Cup yang telah digeluti sejak tahun 2010.

World Scholars Cup terdiri 3 fase perjalanan atau tahapan. Diawali tahapan “Regional Round” atau tingkat nasional, lalu dilanjutkan ke Global Round dan pada akhirnya di tingkat teratas yakni Tournament of Champions di Yale University, Amerika Serikat

Rania ikut berkompetisi di tingkat global, setelah ia berhasil melewati babak regional di Jakarta, Mei lalu.

Dari event tersebut, ia berhasil memperoleh 3 medali emas dan 2 perak dalam lomba essay dan debat. Sekaligus dinyatakan memenuhi kualifikasi untuk maju berkompetisi di tingkat global.

APLUSAN

Saya dan istri, dr Yassin dan cucu pertama, Aisha Bintang Ramadhan (17) tiba di Bangkok sejak Selasa, 22 Agustus. Khusus mengawal untuk memberi spirit pada Rania sebelum berlaga.

Bundanya, berhalangan ikut rombongan kami karena bertugas menjaga gawang: menemani dua anaknya, Raihan Bintang dan Raisha Bintang untuk berbagai kegiatan di Jakarta.

Jumat, 25 Agustus petang Raihan menjadi “host” pada Pertandingan Basket Dunia – FIBA World Cup yang dibuka oleh Presiden Jokowi di Indonesia Arena, Jakarta.

Foto: Ilham Bintang

Kami sempat melihat video penampilan Raihan bersama teman-temannya dari Rangers Basktball Academy di Indonesia Arena sebagai little champions mengiringi para pemain basket dunia, termasuk video tos-tosan dia bersama kawan-kawan hostnya dengan Menteri BUMN Erick Tohir di acara tersebut.

Video itu saya teruskan ke kontak jalur pribadi Erick di WA.

“Terima kasih Pak Menteri sudah tos-tosan dengan cucu saya,” ucap saya menyapa. Spontan Erick Tohir pun merespons mengirim emoji dua jari tangan bersedekap.

Bunda Rania, hari Minggu, 27 Agustus, baru akan terbang ke Bangkok aplusan dengan kami yang hari itu kembali ke Jakarta.

Selanjutnya ia dan dr Yassin akan mengawal Rania hingga akhir lomba.

Lima hari mengawal Rania di Bangkok, kami memetik banyak pelajaran berharga dari Gen A. Betapa tenangnya mereka menghadapi lomba penulisan dan debat tingkat dunia itu.

Tidak sekalipun dia menunjukkan kecemasan atau perasaan was-was akan bertempur pikiran dan gagasan dengan anak-anak dari seluruh dunia.

Rania tetap tetap riang sepanjang hari. Bermain dan bercanda dengan kami. Sesekali mengontak kawan sekolahnya.

Namun, pada saat berkumpul di Teater Aksra dia pun segera berlari meninggalkan kami. Dia sudah harus berkonsentrasi menghadapi lomba tingkat dunia itu.

Pengantar atau kami hanya sampai di sini. Tidak bisa ikut masuk ruang itu. Pun sekedar hanya untuk menyaksikan.

Kami hanya tinggal mengerahkan barisan doa semoga dia berhasil. Mustahil ada intrik politik yang mengotori kegiatan tersebut.

Semoga begitu. Ah, masih saja menggelayut di benak kebiasaan buruk politisi kita.

ILHAM BINTANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini