Bangunan Miring Efek Pondasi Turun, Plafon Gedung Perpustakaan Mateng Ambruk

2069
Plafon pada Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat ambruk. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Gedung Perpustakaan di Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) kini menyisakan cerita miris dari kejadian yang mengguncang nalar publik.

Telah beredar luas sebuah video berdurasi singkat belaka, plafon sebuah bangunan ambruk yang kuat dugaan pengaruh air hujan tergenang di atasnya.

Video yang viral di media sosial dan media percakapan berjejaring beberapa waktu lalu itu terjadi di Tobadak, Kabupaten Mateng, Sulawesi Barat.

Pada video itu kemudian diketahui adalah bangunan sebuah gedung, yakni Perpustakaan Daerah Kabupaten Mateng.

Air hujan yang tertumpah ke lantai bangunan terjadi saat plafon dari lantai dua bangunan perpustakaan itu ambruk.

Air hujan kemudian menyebar di lantai dua, termasuk merembes ke ruangan tertentu di perpustakaan Mateng tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, hujan turun lebat terjadi pada Januari 2024 di Mateng. Air hujan yang ‘tertampung’ di atas plafon lantai dua dengan debit yang cukup besar mengakibatkan plafon bangunan tak mampu menahan beban air hujan tersebut.

Gedung Perpustakaan Mateng itu dibangun pakai dana DAK (APBN) dengan besaran sekitar Rp11 miliar.

Menanggapi video dimaksud itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kantor Perpustakaan Mateng, Ifrad mengatakan, hal itu benar namun terjadi pada Januari 2024 lalu saat hujan turun.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Gedung Perpustakaan Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Ifrad. (Foto: Ruli)

“Videi itu benar, tapi kejadiannya di Januari 2024 lalu, saat itu hujan deras,” kata Ifrad di ruang kerjanya, Jumat, 23 Maret 2024.

Menurutnya, genangan air di lantai itu karena air hujan masuk dari samping gedung ke atas plafon, dan kemungkinan rembesan air lainnya berasal dari corong atap yang lepas.

“Itu yang mengakibatkan plafon runtuh karena banyaknya air di atas,” ujar Ifrad. Tapi, katanya, kerusakan itu pada esoknya (di bulan itu) langsung ditangani oleh penyedia (pihak kontraktor).

Menuruut Ifrad, bangunan itu sebenarnya belum rampung 100 persen, baru sekitar 90,84 persen.

“Bangunan ini anggaran DAK pusat, Rp11 miliar. Masa kontrak dengan pihak pelaksana/penyedia, berakhir pada tanggal 10 Oktober 2023, saat itu belum rampung baru 90,84%, sehingga diberikan perpanjangan waktu 50 hari. Namun pihak pelaksana belum juga bisa merampungkan sehingga kita lakukan pemutuskan kontrak pada 29 November 2023,” jelas Ifrad.

Karena belum selesai, tambah Ifrad, rencananya dirampungkan atau dilanjutkan di 2024 karena sisa anggarannya masih ada sekitar Rp800 juta.

Ifrad, menambahkan, sebenarnya alasan kita numpang di sini karena kontrak di gedung sebelumnya sudah habis, jadi kita inisiatif numpang di gedung (baru) ini.

“Saat hujan turun aktifitas di kantor terganggu akibat rembesan air hujan yang tetap lari masuk ke dalam gedung akibat konstruksi bangunan yang sedikit mulai miring,” ujar Ifrad.

Terpantau, mengenai fisik gedung perpustakaan itu, tampak sudah agak miring. Hal ini kuat dugaan dipengaruhi oleh pondasi bangunan mulai turun (labil). Bisa dilihat di sisi kiri dan tengah pada bagian pondasi bangunan tersebut.

Makanya, dengan efek kemiringan gedung itu, ketika hujan turun air memungkinkan masuk ke bagian dalam gedung.

RULI SYAMSIL – SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini