Para perempuan Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa sedang menenun kain Mamasa, pekan ketiga Maret 2018. (Foto: Frendy)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Pilahan kain dan gesekan itu melahirkan bunyi. Ya, memilin kain telah mengeluarkan bunyi. Suara alat tenun kain tradisional itu masih terdengar jelas di sebuah rumah Adat Mamasa di siang itu.

Pada pekan ketiga Maret ini, tepatnya di Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, kegiatan menenun mengisi hari-hari warga di situ.

Menenun, salah satu kebudayaan sebagai warisan leluhur masyarakat Mamasa, masih dirawat benar warga di daerah Balla.

Umumnya kaum perempuan di daerah itu, dari anak remaja hingga dewasa, terus menjaga salah satu warisan leluhurnya itu.

Saat itu Rabu, 21 Maret 2018. Komunitas ibu rumah tangga yang tergabung dalam Serikat Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) mengadakan festival tenun tradisional Mamasa.

Gelaran ini dilaksanakan di Desa Balla Satanetean yang menampilkan sejumlah hasil karya tenun tradisional Mamasa.

Festival menenun ini adalah upaya pengembangan tenun Mamasa agar tetap dikenal orang luar dan bisa menembus pangsa pasar nasional.

Dalam acara festival itu, puluhan ibu-ibu rumah tangga yang sudah menjadi tulang punggung kelurga menampilkan sejumlah hasil karyanya.

Direktur Serikat Perempuan Kepala Keluarga Nani Zulminarni, dalam kegiatan itu menuturkan, fesitival tenun yang dilakukan Komunitas Pekka Mamasa diharapkan bisa menjadi jembatan dalam menggaungkan produk kerajinan tenun tradisional Mamasa ke seluruh pelosok negeri.

“Semoga kegiatan yang dilaksanakan ini dapat dilirik oleh pemerintah (pusat dan daerah) sebagai salah satu aset untuk peningkatan perekonomian budaya di Mamasa. Dan, juga penenun tradisional Mamasa agar mendapatkan perhatian yang banyak dari pemerintah daerah dan pusat,” tuturnya.

Rangga, salah satu penenun yang dikonfirmasi saat festival dilaksanakan mengatakan, dirinya sudah menenun sejak lama dan dalam satu bulannya ia mampu menghasilkan kain tenun sepanjang 12 meter.

Hasil tenunan Rangga ini dijual di ke pasar kota, selain pula orang datang langsung membeli di desanya.

Festival tenun yang dilaksanakan Pekka menampilkan aneka ragam hasil tenun seperti selimut (Sambu’), pakaian, tas, selendang dan sejumlah asesoris lainnya.

Semua tenunan itu adalah karya penenun perempuan desa.

FRENDY CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini