
Saya sengaja hendak keluyuran di dinihari tadi. Memantau kondisi kota pasca banjir. Saya pakai jaket tebal lengkap dengan sepatu kets tak pakai pengikat. Terasa hangat di atas roda dua di tengah dinginnya suasana Mamuju.
Puing-puing tampak berserakan di pinggir jalan yang saya lalui. Hampir semua toko jualan tutup. Sejumlah swalayan berjaringan buka tapi tak melayani pembeli. Para karyawannya terlihat berhamburan membersihkan seisi ruangan dan pekarangan ‘gardu modern’ mereka itu.
Sebuah pemandangan yang tak biasa. Meski sudah waktu dini hari, kota Mamuju masih tampak ramai—yang duduk termenung meratapi nasib, ada yang sekadar berkumpul bersenda gurau, dan ada pula yang bercakap-cakap ria sembari meledakkan tawa seolah ini masa riang.
TRANSTIPO.com, Mamuju – Sudah sepatutnya saya menghaturkan terima kasih kepada sejumlah petugas keamanan kota di waktu diniharu tadi itu. Mereka duduk sigap di bawah sebuah tenda—entah milik tentara atau polisi.
Ada pula sejumlah personil yang tak duduk di bawah tenda dan berdiri di sisi sebuah warung makan yang sudah bersiap-siap tutup yang tak jauh dari tenda posko keamanan itu.
Di bawah tenda yang luas itu terdapat sekitar 20-an personil polisi dari kesatuan Mako Brimob Polda Sulawesi Barat dan tentara dari Kodim 1418 Mamuju.
Setelah saya mendatangi sejumlah rumah rekan-rekan yang saya tahu rumah mereka terdampak banjir pada Kamis pagi, 22 Maret, kemarin itu, rupanya sudah tampak gelap gulita. Tak ada setitik cahaya dari dalam rumah. Entah sudah terlelap di peraduan atau sedang mengungsi ke rumah sanak famili yang tak terdampak ganasnya banjir barusan.
Kemudi roda dua kemudian saya arahkan kembali ke jalan Jenderal Sudirman mamuju, salah satu jalan yang jadi viral di unggahan di media sosial di Kamis siang lantaran ia sempat berganti laiknya sungai.

Di jalan itu pula saya membelokkan kemudi dan menyinggahi sebuah posko pengamanan pasca banjir. “Barusan pak Kapolda dan Polsek Mamuju kota melintas pak. Mungkin beliau-beliau sedang memantau kota,” kata salah seorang personil tentara yang duduk di bawah tenda pleton itu kepada saya.
Dari sejumlah personil penjaga kota di dinihari itulah yang berita tahu saya bahwa kantor Bulog Sub Divre Mamuju paling merasakan dampuk serius akibat banjir kali ini.
“Di bagian gudangnya pak parah. Banyak saya lihat beras basah,” kata personil ini lagi. Dari informasi yang penting itulah yang kemudian menyudahi wawancara singkat saya dengan bapak-bapak tentara dan polisi itu.
Saya tiba di Kantor Bulog Sub Divre Mamuju tepat pukul 00.39 Wita, Jumat, 23 Maret 2018, dinihari. Berkali-kali saya membunyikan klakson pengantarku barulah salah seorang lelaki kekar berpostur sedang menghampiri saya. Rupanya dia adalah petugas jaga atau security kantor itu.
Setelah Jumrah—nama security itu—tahu bahwa saya adalah wartawan, ia pun menjawab sejumlah pertanyaan yang saya ajukan. Masih sedang memotret ratusan karung beras basah yang telah melantai itu, salah seorang lelaki berpostur pendek berkaca mata telah menghampiri di mana saya berdiri.
Rupanya Muhammad Arsalan, Kepala Gudang Dolog (Kagug) Kantor Bulog Sub Divre Mamuju. Lelaki yang sudah lama bekerja di Bulog ini setia bercerita pada saya, atau tepatnya melayani sejumlah pertanyaan yang saya ajukan.
Kata Arsalan, di gudang unit satu atau GBB 01 terisi 800 ton beras, termasuk ada 100 ton gula pasir.
“Kalau di gudang dua atau GBB 02 terdapat 500 to beras. Itu untuk persediaan penyaluran beras Bansos atau Rastra untuk bulan Januari hingga April. Sebagian sudah disalurkan,” kata Arsalan.
Penyaluran beras Raskin—kini disebut beras Rastra atau Bansos (bantuan sosial)—yang disebut Arsalan baru sebatas di Kabupate Mamuju.
“Ya, memang untuk Mamuju sudah hampir 90 persen, tinggal Kecamatan Kalumpang yang belum dapat.”
Jatah Mamuju Utara dan Mamuju Tengah, katanya, belum disalurkan. Memang, wilayah kerja Sub Dirve Mamuju mencakup tiga kabupaten ini. Sedangkan Bulog Sub Divre Polewali mengurusi Polewali Mandar, Majene, dan Mamasa.

Banyakya beras Rastra yang basah—yang itu berarti sudah rusak—diakui sendiri oleh Arsalan. Tapi ia tak bersedia berspekulasi dengan menyebut jumlah timbangan beras yang rusak itu.
“Saya tak mau sebut jumlahnya berapa. Saya kuatir salah, apalagi tim dari Kantor Divisi Regional (Divre) Sulawesi Selatan sudah tiba di Mamuju,” kata Arsalan.
Tim dari Divre Sulawesi Selatan yang dimaksud Arsalan berjumlah 2 orang. “Tim itu sudah sempat ke kantor tadi, tapi sedah agak gelap, malam. Dia menginap di hotel dan besok pagi akan datang cek langsung, sekalian menghitungnya berapa agkanya yang rusak.”
Arsalan menyilahkan saya mengira-ngira sendiri berapa jumlah karung beras yang rusak itu. “Kira-kira 200-an karung,” kata saya yang tak disahuti Arsalan. Setibanya di rumah, di ujung telepon Arsala masih kukuh tak bersedia menyebut angka pasti timbangan beras yang rusak itu.
Tapi ia akui tak sedikit minyak goreng yang rusak. “Tapi jumlah minyak goreng saya tak tahu. Kalau beras komersil jumlahnya kurang lebih 5 ton di GBB 01.”
Apa ada yang rusak atau basah, “Kemungkinan ada juga yang basah pak,” kata Arsalan lagi, jujur.
Baca: 6 Sopir Tidur di Teras Gudang Dolog
SARMAN SHD









