TRANSTIPO.com, Mamuju – Salah seorang tokoh pendiri Sulbar, Doktor Rahmat Hasanuddin, juga hadir dalam Uji Publik RPJMD Sulbar 2017-2022 yang diselenggarakan oleh pemerintah Provinsi Sulbar di d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Sulbar, Selasa, 29 Agustus 2017.
Ditemui sejumlah wartawan di sela-sela acara uji publik, Rahmat mengatakan, “Saya tak tahu apa saya termasuk dalam tim ahli—atau dipandang sebagai tim ahli—tapi saya diundang sebagai salah seorang pendiri provinsi ini. Jadi tentu saya banyak tahu juga, ya,” kata Rahmat kepada sejumlah awak media.
Rahmat Hasanuddin, menilai kemajuan provinsi ke-33 di Indonesia ini cukup signifikan, meski masih terbilang muda.
“Sulbar akan memasuki usia ke-13 tahun. Waktu yang bisa dikatakan sudah lebih dari satu dekade, tentu masih mudah. Saya kira provinsi yang baru ini sudah berhasil menapak beberapa langkah. Saya katakan beberapa langkah karena provinsi ini sudah dipimpin oleh tiga gubernur terdahulu,” ujarnya.
Ia juga minta kepada masyarakat Sulbar untuk tak melupakan tiga penjabat gubernur sebelumnya yang telah banyak melakukan perubahan di Sulbar.
“Jangan dilupakan gubernur penjabat pertama, pak Untarto (Penjabat Gubernur Sulbar pertama, Oentarto Sindung Mawardi, red). Kemudian penjabat berikutnya adalah pak Syamsul Arif Rifai. Itu penjabat kedua dari Jakarta. Dan, yang ketiga, yang perlu digaris bawahi ialah gubernur ketiga yang pilih secara demokratis, pilihan rakyat,” kata Rahmat Hasanuddin.
Menurut Rahmat Hasanuddin, gubernur ketiga Sulbar (Anwar Adnan Saleh, red) cukup berhasil membangun Sulbar selama satu dekade memimpin Sulbar.
“Dia (AAS, red) melakukan langkah-langkah, yang menurut saya cukup berhasil, bahkan melakukan beberapa hal yang bisa dinilai cukup spektakuler. Hasilnya ialah gubernur menjabat dua periode. Kita lihat infrastruktur, sudah pasti kita sudah menikmati semua apa yang telah dilakukan selama 10 tahun,” aku Rahmat.
Namun ia juga menilai, masih banyak harapan masyarakat yang belum terpenuhi. “Tapi tentu saja masih banyak hal yang menurut harapan kita masih belum tercapai,” lanjutnya.
Doktor Rahmat Hasanuddin kemudian menutup pernyataan dengan mengatakan, “Saya tekenkan, perlunya kontinuitas dan sustainable—keberlelanjutan—dari apa yang sudah dilakukan. Yang bagus dilanjutkan, dan yang belum memadai disempurnakan. Saya kira itu yang paling hakiki daripada RPJMD ini.”
ZULKIFLI










