Oleh: Hanafi Pelu
Balai Diklat Keagamaan Makassar
MUHAMMAD Quthb dalam karyanya “Jahiliyah Abad 21” menghadirkan kritik tajam terhadap peradaban modern yang menurutnya mengalami kemunduran spiritual meskipun mengalami kemajuan material dan teknologi.
Istilah “jahiliyah” yang secara historis merujuk pada masa kebodohan pra-Islam, digunakan Quthb untuk menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer yang telah kehilangan orientasi nilai-nilai transendental.
Buku ini menjadi semacam refleksi mendalam tentang paradoks kemajuan zaman, di mana semakin tinggi pencapaian sains dan teknologi, justru semakin dalam jurang kekosongan spiritual yang dialami manusia modern.
Quthb berargumen bahwa peradaban Barat yang mendominasi dunia saat ini telah menciptakan sistem nilai yang materialistis, hedonistis, dan individualistis, yang pada akhirnya mengikis fondasi moral dan spiritual kemanusiaan.
Melalui perspektif Islam, Quthb menawarkan analisis kritis terhadap berbagai fenomena modern seperti dekadensi moral, budaya hedonisme di kalangan intelektual muda, serta dampak teknologi yang mengubah pola kehidupan manusia.
Karya ini menjadi penting bagi para pembaca, khususnya kalangan akademisi dan ASN, untuk memahami tantangan nilai di era globalisasi dan menemukan solusi alternatif dalam membangun peradaban yang lebih berkeadilan dan bermakna.
Dekadensi Moral di Era Modern
MUHAMMAD Quthb mengidentifikasi dekadensi moral sebagai salah satu ciri utama jahiliyah modern. Menurutnya, masyarakat kontemporer mengalami krisis nilai yang ditandai dengan relativisme moral, di mana standar baik dan buruk tidak lagi bersifat absolut melainkan tergantung pada konteks budaya dan kepentingan individu.
Dekadensi ini termanifestasi dalam berbagai bentuk seperti merebaknya pergaulan bebas, korupsi, kekerasan, dan lemahnya ikatan keluarga.
Quthb berpendapat bahwa akar masalah ini terletak pada pemisahan agama dari kehidupan publik (sekularisme), yang mengakibatkan kehampaan spiritual dan kehilangan kompas moral.
Masyarakat modern cenderung mengukur kesuksesan hanya dari perspektif materi dan status sosial, mengabaikan dimensi etika dan spiritualitas. Akibatnya, terjadi degradasi karakter di mana kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial semakin terkikis.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, dekadensi moral ini sangat berbahaya karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Quthb menegaskan bahwa tanpa fondasi moral yang kuat berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, peradaban akan rapuh dan mudah runtuh, meskipun tampak maju secara teknologi dan ekonomi.
Pemulihan moral hanya dapat terwujud melalui kembalinya manusia kepada nilai-nilai transendental yang memberikan makna sejati bagi eksistensi manusia.
Hedonisme Kaum ntelektual Muda
Quthb memberikan perhatian khusus pada fenomena hedonisme di kalangan generasi muda terdidik. Paradoksnya, mereka yang memiliki akses pendidikan tinggi justru sering terjebak dalam gaya hidup yang mengutamakan kesenangan dan kepuasan instan. Hedonisme modern ini berbeda dengan bentuk klasiknya karena dibungkus dengan rasionalisasi intelektual dan legitimasi budaya populer.
Kaum muda intelektual ini cenderung mengadopsi nilai-nilai liberal yang menekankan kebebasan individu tanpa batas, mengejar prestise sosial melalui konsumerisme, dan menganggap kebahagiaan identik dengan akumulasi pengalaman dan kepemilikan material.
Muhammad Quthb mengkritik sistem pendidikan modern yang hanya fokus pada pengembangan kemampuan kognitif dan keterampilan teknis, namun mengabaikan pembentukan karakter dan spiritualitas.
Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual namun miskin secara spiritual dan moral. Mereka mampu berpikir kritis tentang berbagai isu, namun gagal menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini dapat dilihat dari gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa dan profesional muda yang mengukur kesuksesan dari materi dan pengakuan sosial media.
Quthb menekankan pentingnya pendidikan yang holistik, yang tidak hanya mengasah intelektualitas tetapi juga membangun kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial, sehingga menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.
Dampak Teknologi dalam Kehidupan Kaum Milenial
Muhammad Quthb, meskipun bukunya ditulis sebelum era digital seperti sekarang, telah mengantisipasi dampak teknologi terhadap kehidupan manusia. Dalam konteks milenial masa kini, analisisnya semakin relevan. Teknologi yang seharusnya menjadi alat untuk memudahkan hidup justru sering berubah menjadi tuan yang mengendalikan manusia.
Ketergantungan pada media sosial, gadget, dan internet telah mengubah pola interaksi sosial, di mana komunikasi virtual menggantikan pertemuan tatap muka yang bermakna. Quthb memperingatkan bahwa teknologi tanpa panduan moral dapat mempercepat dehumanisasi, di mana manusia direduksi menjadi sekadar konsumen dan produsen data.
Generasi milenial mengalami paradoks konektivitas: terhubung dengan ribuan orang di dunia maya namun merasa kesepian dan terasing dalam kehidupan nyata.
Teknologi juga menciptakan budaya instan yang mengikis kesabaran dan kedalaman pemikiran. Informasi berlimpah namun wisdom (kebijaksanaan, kearifan) semakin langka.
Quthb menekankan perlunya literasi digital yang tidak hanya teknis tetapi juga etis, di mana teknologi digunakan sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan mengikisnya.
Bagi ASN dan akademisi, tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi untuk pelayanan publik dan pengembangan ilmu yang bermanfaat, sambil tetap menjaga integritas moral dan tidak terjebak dalam jebakan teknologi yang kontraproduktif.
“JAHILIYAH Abad 21” karya Muhammad Quthb tetap relevan sebagai kritik terhadap peradaban modern yang mengalami krisis spiritual meskipun maju secara material.
Buku ini mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari prestasi teknologi dan ekonomi, tetapi dari kualitas moral dan spiritual suatu masyarakat.
Dekadensi moral, hedonisme intelektual, dan dampak teknologi yang tidak terkendali adalah manifestasi dari kehampaan spiritual yang dialami manusia modern.
Bagi ASN yang sedang menempuh pendidikan lanjut, karya ini menawarkan perspektif kritis untuk memahami tantangan pembangunan bangsa yang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga mental dan spiritual. Solusi yang ditawarkan Quthb adalah kembali kepada nilai-nilai transendental yang memberikan makna dan orientasi hidup.
Dalam konteks Indonesia, ini berarti mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dan agama dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, membangun sistem pendidikan yang holistik, serta menggunakan teknologi secara bijaksana untuk kemajuan kemanusiaan yang hakiki.










