
TRANSTIPO.com, Makassar – Kabupaten Mamasa kini memasuki era baru di tangan pemimpin baru: Welem Sambolangi dan H. Sudirman. Ia terpilih pada Pilkada 2024 dan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mamasa di Jakarta pada 20 Februari 2025.
Welem dan Sudirman memimpin kabupaten yang telah berumur 23 tahun, berada di gugusan pegunungan Sulawesi Barat.
Salah satu ikon penting Kabupaten Mamasa adalah Rumah Sakit (RS) Kondosapata. Rumah sakit ini dibangun di masa kepemimpinan mendiang HM Said Saggaf, bupati pertama Mamasa, hampir 20 tahun silam.
Bangunan ini sudah lapuk, dan tentunya keterbatasan peralatan menyertai perjalanan kepelayanannya di bidang kesehatan masyarakat Kabupaten Mamasa.
Rumah sakit pelat merah ini bertengger di sebuah bukit seolah pintu gerbang sebelum memasuki kota Mamasa, ibu kota kabupaten.
Ia dibanggakan sebagai simbol bangunan tua, tapi kemanfaatannya belum memberi kepuasan untuk warganya. Rujukan berobat ke daerah lain, semisal ke Polewali dan Mamuju di pantai justru menjadi titik kontras filosofi daerah ini dimekarkan menjadi satu kabupaten otonom.
Upaya menghadirkan rumah sakit yang bonafid, modern menemukan simpulnya pada 23 April 2024 ketika Presiden RI ke-7, Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Telah umum diketahui bahwa kala itu, presiden menjanjikan akan membangun rumah sakit yang layak, masih di tempat lamanya. Bangunan lama yang telah berumur belasan tahun akan dirobohkan, termasuk rumah dinas para dokternya.

Ketika itu, selain meninjau lokasi pasar baru di seberang sungai dekat kota Mamasa, presiden Jokowi juga mengunjungi rumah sakit lama yang dijanjikan akan dibangun kembali.
Kunjungan Presiden RI di Mamasa kala itu turut didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Pj Gubernur Sulawesi Barat Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrulloh, dan Pj Bupati Mamasa Dr. Muhammad Zain.
Informasi yang dihimpun dalam sepekan ini, para pihak menyebutkan bahwa pembangunan rumah sakit Mamasa akan menelan biaya sekitar seratusan miliar.
“Rumah sakit Mamasa kelak ini akan menjadi rumah sakit paling bagus di Sulawesi Barat,” kata sumber media ini.
Selain rumah sakit, tentu yang menjadi perhatian publik Kabupaten Mamasa adalah Pasar Mamasa. Lokasi pasar ini berada di atas lahan Haji Zainal Tayeb alias Jenol.
Pemerintah Kabupaten Mamasa bergerak setelah kunjungan presiden. Pascakunjungan kepala negara yang bersejarah itu, para pihak di internal Pemkab Mamasa — di bawah monitoring Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat — menjemput peluang besar itu merubah wajah kabupaten.
Kontinyuitas pemerintahan dan respon baik yang telah ditunjukkan Pemkab Mamasa menjemput janji presiden terdahulu itu, yakni pasar baru dan pembangunan rumah sakit moderen mesti disambut baik hingga tuntas dan terwujud.
Lokasi Pasar Milik Pemkab
Memori laten tentang Pasar Barra’-Barra’ di Kecamatan Mamasa yang dibangun sekitar 9 tahun silam akan menjadi pelajaran penting mengapa pembangunan Pasar Baru Mamasa kini mesti jadi perhatian serius para pihak, terlebih Pemkab Mamasa.
Pembangunan fasilitas publik Mamasa itu akan menjadi urat nadi penting Rakyat Mamasa.

Polemik panjang terkait pembelian atau pembayaran lokasi pasar yang melibatkan dua pihak, antara Pemkab Mamasa dan pemilik lahan, Haji Jenol telah selesai di sisi pembayaran.
Pihak pemkab telah melakukan pembayaran pelunasan — tentu setelah bersepakat harga lahan — yakni Rp5,7 miliar.
Telah umum diketahui, pembayaran ini dilakukan oleh Pemkab Mamasa kepada pemilik lahan pada tanggal 25 November 2024, dengan besaran biaya Rp5,7 miliar.
Persoalan lain di luar dari komitmen pelunasan oleh pihak lain, itu terkait dengan persoalan individual di luar kewajiban pemkab dalam pelunasan lokasi pasar.
Bukti sahih atas kesepakatan pembelian dan pembayaran lokasi, setelahnya itu dilakukan formalisasi alih kepemilikan lahan yang dibuktikan dengan pemasangan patok atau papan bukti kepemilikan lahan oleh Pemkab Mamasa di lokasi pasar baru dimaksud dalam item pembelian/pelunasan lokasi pasar.
Para pihak yang kompeten, baik internal Pemkab Mamasa maupun wakil-wakil institusi vertikal, turut hadir di lokasi pasar baru, dibuktikan foto bersama di lokasi pasar (2024).
Catatan penting dari sajian ringan ini, Pemkab Mamasa — paling tidak untuk periode kepemimpinan lima tahun ini — ketika telah menghadirkan ikon Rumah Sakit Kondosapata yang baru dengan segala fasilitas kewajarannya yang digadang-gadang cukup lengkap, dan Pasar Baru Mamasa yang semi-modern, itu sudah terbilang istimewa.
Ikon berwajah baru itu akan mengukuhkan Mamasa benar-benar menjemput era baru. Tak mungkin semua hal baru ditimpakan di pundak pemimpin lokal di tengah lanskap pemerintahan sekarang yang menjadikan pangan sebagai pondasi masa depan kehidupan Rakyat.
Terdapat deretan anomali di tengah zaman bergerak kadang di luar prediksi. Mamasa membangun nyata ikon dimaksud di atas, hebat.
SARMAN SAHUDING









