Salah satu pemandangan di Desa Tondok Bakaru, Kabupaten Mamasa (Foto: transtipo)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Bercerita tantang Mamasa memang tak ada habisnya, selain daerah ini kaya dengan budaya dan adat istiadatnya, juga menyimpan sejumlah keindanhan alam yang tiada taranya.

Mamasa adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang berada di atas pegunungan. Di sebelah timur kota Mamasa terdapat sebuah gunung tinggi yang menjulang tinggi ke angkasa tentu menambah keindahan kota ini.

Pemandangan Indah di Desa Wisata Tondok Bakaru. (Foto: transtipo)

Gunung Mambulilling adalah salah satu gunung tertinggi yang dimiliki daerah ini dan hampir semua orang Sulawesi Barat mengenalnya. Namun siapa sangka, di bawah kaki gunung itu ternyata ada surga kecil di sana, yang tak banyak orang mengetahuinya.

Perkampungan Tondok Bakaru merupakan salah satu desa yang tepat berada di kaki gunung Mambulilling yang menyimpan setangkup keindahan alam. Hamparan persawahan yang dikelilingi perbukitan serta perpaduan perkampungan tradisional menjadikan desa di kaki gunung ini mempesona yang tiada tandingnya.

‘Perahu Cinta’ di Kabupaten Mamasa. (Foto: transtipo)

Saat ini sejumlah pemuda di desa itu sudah mulai menyadari akan potensi keindahan alam. Sejak 2016 lalu, pemuda di desa ini sudah punya komunitas anggrek lokal Mamasa yang diberi nama “Mamasa Orchid”, masing-masing dari mereka membuat taman anggrek di pekarangan rumahnya, namun tak disangka taman-taman anggrek itu menarik perhatian banyak orang dan selalu ramai pengunjung.

“Degan modal niat yang tulus menjadikan obyek wisata Desa Tondok Bakaru dikenal sebagai destinasi wisata dengan melibatkan komunitas sebagai kekuatan utama merubah pola berpikir masyarakat berlahan tercapai,” tutur Andre, salah seorang pengelola obyek wisata di desa itu, Minggu sore, 7 Juli 2019.

Pengunjung asal Perancis yang sedang berwisata di taman anggrek di desa wisata Tondok Bakaru, Mamasa. (Foto: Ist.)

Akhir 2018, komunitas ini berlahan mendirikan sejumlah tempat-tempat wisata yang dipadukan dengan taman anggrek dan saat ini sudah berdiri sedikitnya 6 tempat wisata keren di desa ini.

Objek Wisata Sawo, Wisata Tonbar Orchid, Wisata Andra, Villa Edelweys, Wisata Hutan Pinus, dan Objek Wisata Bukit Bunga, dari ke-6 obyek wisata semuanya berada dalam satu kawasan di desa itu.

Pemandangan Indah di Desa Wisata Tondok Bakaru. (Foto: transtipo)

Awal 2019 sejumlah objek wisata ini tiba-tiba viral di media sosial hingga membeludak pengunjung. Tak tanggung-tanggung pengujung mencapai 300 hingga 400 orang perharinya.

“Lumayan, dari hari ke-hari pengunjung ke desa ini tiap saat meningkat, tak hanya wisatawan lokal, namun wisatawan dari mancanegara sudah ada yang berkunjung kesini,” ucap Andre.

Salah satu spot foto yang berada di desa wisata Tondok Bakaru. (Foto: Andre)

Amelia, salah satu pengunjung asal Mamuju yang sempat ditemui laman ini mengatakan, awal ia mengenal obyek wisata itu lewat media sosial hingga mengajak rekan-rekannya untuk berkunjung.

“Di sini keren luar biasa dan tidak akan pernah ditemukan di tempat lain. Pemadangan indah dengan latar hamparan persawahan berpadu perkampungan tradisional dan perbukitan tersaji di sini. Selain itu kita bisa menikamti sejumlah taman-taman anggrek cantik. Pokoknya keren,” kata Amelia.

Obyek wisata Sawo yang berada di Desa Tondok Bakaru. (Foto: transtipo)

Keberadaan obyek wisata ini berlahan direspon pemerintah daerah. Pada Sabtu sore kemarin, 6 Juli, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Afredi Toding mengunjungi lokasi ini sembari mengajak sejumlah pengelola wsiata berdiskusi terkait pengembangan obyek wisata ini ke depan.

“Kami diskusi kemarin, ya, kita salut bahwa masyarakat di sana sudah ada kemauan dan kesadaran. Mereka sangat membutuhkan adanya fasilitator pendamping yang bisa mengarahkan mereka baik dari segi penataan maupun edukasi,” ungkap Alfredi saat dikonfirmasi transtipo.

Obyek wisata yang berada di Desa Tondok Bakaru. (Foto: transtipo)

Ke depan pihaknya akan melibatkan semua stakeholder yang ada guna membantu pengelolaan serta promosi wisata yang di desa itu.

“Hal ini sementara saya gagas dan kebetulan saat ini saya juga lagi diklat PIM3 yang fokus pada pengembangan destinasi berbasis desa wisata,” tuturnya.

Keberadaan obyek wisata yang ada di desa ini cukup terjangkau jarak dari kota Mamasa hanya berkisar 1,5 km dan bisa dijangkau roda 2 maupun roda 4. Cukup membayar 3-4 ribu rupiah saja Anda sudah bisa masuk di sejumlah objek wisata ini dan menikmati keindahan alam yang Tuhan sudah ciptakan untuk Anda nikmati.

FRENDY

TINGGALKAN KOMENTAR