Dari Hawana Malaysia 2023: Jaminan Kemerdekaan Pers PM Anwar Ibrahim Masih Harus Diuji

1489
ILHAM BINTANG (kanan) di Kualalumpur, Malaysia, Selasa, 30 Mei 2023. (Foto: Istimewa)

CATATAN ILHAM BINTANG

DARI lantai 27 Hotel Tamu, sambil sarapan saya membuka catatan beberapa bahan tulisan di Note Iphone. Ada catatan saat berbincang dengan PM Malaysia Anwar Ibrahim seusai meresmikan peringatan Hari Wartawan Nasional Malaysia 2023 di Casuarina@Meru, Ipoh, Perak, Minggu, 28 Mei, petang.

Saya menanyakan ke Anwar Ibrahim, apa yang sudah dicapai setelah enam bulan jadi PM ke-10 Malaysia. Jawabannya cukup meyakinkan. Anwar bilang konsolidasi pemerintahannya sudah rampung.

Ini seakan menjawab isu di Malaysia tentang gonjang-ganjing di internal partai koalisinya. Jawaban atas pertanyaan lain juga melegakan. Program antirasuah pemerintahannya harga mati.

Ada Pusaka Keris di Hawana Malaysia 2023. (Foto: Istimewa)

“Kita perangi habis korupsi,” tegasnya. Itu sebabnya dalam pidato resmi di Hari Hawana 2023, berkali-kali Anwar Ibrahim menyatakan sokongan kepada kebebasan pers. “Pers Malaysia harus bebas untuk mengawal perang terhadap korupsi,” tandasnya.

Pernyataan itu seperti pula hendak menjawab isu mengenai Timbalan PM Malaysia Zahid Hamidi yang saat ini menghadapi 47 dakwaan kasus korupsi di pengadilan.

Saya juga membaca kembali catatan terbaru hasil bincang-bicang Senin, 29 Mei, malam dengan Dato’ Ismail Sabri, mantan PM Malaysia yang digantikan oleh Anwar Ibrahim.

Ismail Sabri Yaakob, PM Malaysia ke-9, termasuk tokoh politik Malaysia yang berhubungan baik dan dekat dengan banyak wartawan Indonesia.

Semalam Ismail menjamu kami makan malam. Dinner yang berlangsung dua jam Senin, 29 Mei malam tentu saja sarat informasi aktual mengenai dinamika politik di Malaysia dan Indonesia. Dalam urusan kekuasaan, politisi di mana pun sama, hatta itu politisi di negara kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat.

Simbol Perjuangan Bumiputera

Hotel Tamu berlantai 40, berlokasi di Kampong Bahru Kuala Lumpur, Malaysia. Sambil sarapan saya menikmati pemandangan Ibu Kota Malaysia yang berkabut.

Hotel ini termasuk bersejarah. Menjadi simbol perjuangan Bumiputera Malaysia yang tak henti memperjuangkan peluang sama di bidang ekonomi di tengah dominasi non Bumiputera.

Hotel Tamu memang berlokasi di perkampungan tua Melayu di tengah hutan beton gedung pencakar langit di Kuala Lumpur. Perkampungan otentik Melayu yang terbebas dari penggusuran. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari gedung kembar KLCC.

Imdeks Kemerdekaan Pers

Wartawan Malaysia tengah berbahagia hari-hari ini. Pada momentum peringatan Hari Wartawan Nasional 2023 (Hawana 2023) jurnalis negeri jiran itu mendapat kado istimewa. Lembaga nirlaba Reporters Without Borders (RSF) mencatat peringkatnya mengalami kenaikan signifikan.

Dalam Indeks Kemerdekaan Pers dunia yang dirilis awal Mei, Malaysia menempati posisi 73 (tahun lalu 113) dari 180 negara.

Maka, Peringatan Hawana 2023 di Hotel Casuarina@Meru, Ipoh, Perak, Minggu, 28 Mei petang berlangsung sangat meriah. Puncak acara itu diresmikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim dan dihadiri sekitar 1000 wartawan. Berkali-kali terdengar tepuk tangan meriah hadirin merespons pidato petinggi Malaysia.

Saya mencatat ada tiga kali tepuk tangan paling meriah. Yang pertama, saat Menteri Informasi dan Digital Malaysia Fahmi Fadzil dalam sambutannya mengumumkan Malaysia menempati peringkat ke-73 dalam Indeks Kemerdekaan Pers dunia. Dengan posisi itu, Indeks Kemerdekaan Pers di Malaysia tertinggi di Asean. Indonesia berada di peringkat 103.

Yang kedua, sambutan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang menyampaikan kebanggaannya pada wartawan Malaysia dan menegaskan jaminan bagi kebebasan pers.

Yang ketiga, saat Anwar Ibrahim mengumumkan tahap awal menyumbang 1 juta RM (Rp4 miliar) untuk program “Tabung Kasih” yang akan membantu kesulitan wartawan terutama yang berusia lanjut.

Wartawan senior Indonesia hadir acara puncak “Hari Pers” Malaysia 2023. (Foto: Istimewa)

Puncak acara Hawana 2023 dihadiri juga Timbalan Perdana Menteri Malaysia DR Ahmad Zahid Bin Hamidi, Menteri Besar Perak Dato’ Seri Saarani Bin Mohamad dan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono.

Hawana — semacam Hari Pers Nasional di Indonesia — baru untuk ketiga kali diselenggarakan. Dimulai 2018, di masa pemerintahan PM Najib Razak.

Sempat terhenti tiga tahun karena pergolakan politik di negeri jiran itu, juga oleh pandemi Covid-19. Yang kedua, diselenggarakan tahun lalu (2022) di Melaka yang diresmikan oleh PM Perdana Menteri Seri Ismail Sabri Yaakob.

Tiga kali penyelenggaraannya saya dan beberapa kawan wartawan dari Jakarta diundang mengikuti langsung peringatan hari wartawan Malaysia itu.

Hawana mengabadikan hari kelahiran surat kabar “Utusan Melayu” 29 Mei 1939. Utusan Melayu adalah surat kabar pertama berbahasa Melayu, yang sepenuhnya dimiliki, dibiayai dan dikerjakan oleh Bumiputera (pribumi). Modal pertama penerbitan koran itu hasil patungan para guru, nelayan dan supir taksi.

Hawana tahun ini turut dimeriahkan dengan Forum Media yang diikuti 150 wartawan Malaysia dan negara Asean. Pemred Jakarta Post, Muhammad Taufiqurrahman mewakili Indonesia dalam forum itu.

Ada juga program Mini Karnival di Mydin Mall, dan program Mencari Harta Karun yang diikuti 200 peserta dari Kuala Lumpur ke Ipoh serta pertandingan Bowling di AEON Kinta City.

Berbicara tentang kemerdekaan pers di Malaysia, tidak seluruhnya wartawan meyakini itu bisa mulus dalam pelaksaan di lapangan. Mereka menunjuk pada peristiwa ancaman dari Kementerian Informasi dan Digital kepada beberapa media belum lama ini karena pemberitaan yang kritis terhadap pemerintah. Meskipun PM Anwar Said Ibrahim berulang-ulang menegaskan jaminan kebebasan pers itu.

“Pemerintah yang butuh dikoreksi. Kalau kami salah, akan minta maaf dan memperbaiki ke salahan,” tegas Anwar Ibrahim. Janji itu tentu akan dicermati dan ditagih.

Wallahualam Bissawab.

Kuala Lumpur, 30 Mei 2023

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini