Shaifuddin Kadir (kanan) bersama HM Aksa Mahmud. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Makassar – Saya punya pengalaman menarik dalam konteks kerukunan hidup beragama. Pada 1989, Jawa Pos menugasi saya sebagai wartawan yang berpangkalan di kota Ambon, Maluku.

Jika tak salah ingat akhir Agustus tahun itu, Pemkab Maluku Tengah mengundang kami melakukan liputan sebuah kegiatan.

Perjalanan dari Ambon ke Masohi butuh ‘perjuangan’, sebab menyeberang laut dari pelabuhan Tulehu. Pilihan yang baik adalah naik kapal Ferry. Pilihan lain pakai speed boat.

Alhasil, kami tiba dan berada di Masohi, bermalam di satu penginapan melati. Saya bersama rekan, Herry Luturmas—memang biasa bersama dalam melakukan liputan, sehingga selalu juga sekamar dalam penginapan.

Hari ketiga—hari terakhir di Masohi—kami check out dari penginapan tepat jam dua siang dan langsung meluncur ke pelabuhan Ferry.

Masalah timbul ketika terjadi penundaan pemberangkatan Ferry, dari jadual normal jam sore ke jam 7 malam waktu setempat.

Herry Luturmas mengajak saya ke kediaman kakaknya Maria Luturmas untuk istirahat sejenak. Rumah itu tak jauh dari pelabuhan.

Setahuku, Herry bersaudara penganut Katolik yang taat. Ketika masuk waktu ashar, saya bermaksud mencari Masjid. Kakak Herry, Maria Luturmas, rupanya membaca gelagat saya.

Dengan santun Maria bertanya, “Pak, mau ke Masjid ya?”

Belum sempat kujawab, Maria sudah menawarkan saya untuk solat di rumahnya saja.

Dia secepatnya menyiapkan seember air untuk kupakai berwudhu dan menunjukkan kamar tempat solat.

Saya agak kaget, sebab dalam kamar sudah tersedia sajadah lebar dan harum pula. Seusai solat, saya berterima kasih kepada Maria.

“Kenapa ada sajadah bu?” tanyaku kepada Maria, bernada heran.

Maria menjelaskan, dalam rumpun keluarga kami ada yang menganut Kristen dan ada juga penganut Islam. “Kami saling mendukung dalam pelaksanaan ibadah masing-masing,” kata Maria pada saya, singkat.

Di rumah Maria itu, ada kamar khusus untuk Musolla yang diperuntukkan bagi keluarganya yang Muslim—lengkap dengan sajadah.

Saya sungguh rindu. Selembar sajadah di rumah Saudara Katolikku itu di Masohi, Ambon, Maluku.

SHAIFUDDIN KADIR

TINGGALKAN KOMENTAR