Rayap, Rayap dan Rayap…….

633

WAKTU saya membeli rak buku untuk perpustakaan pribadi, sekitar 25-30 tahun tahun silam, saya pilih bahannya dari kayu jati. Alasannya, biar harganya mahal, tapi kuat dan yang terpenting, tak bakal dimakan rayap.

Berapa tahun silam saya baru sadar, tukang mebel yang menjual rak buku itu rupanya menipu saya. Ternyata yang jati cuma kulitnya saja, sedangkan dalamnya kayu biasa. Ambalan dan penutup bagian belakang, bukan jati.

Demikian pula manakala saya membuat lemari pakaian di kamar, yang seluruh depannya kaca, saya memesan dari bahan kayu jati. Minta yang bagus. Alasannya saya ya itu: biar pun mahal, tapi kuat dan yang anti rayap. Jadi, dihitung-hitung jangka panjang justeru dapat menjadi lebih murah.

Idem dito rupanya si pembuat lemari melakulan tipu daya sama: yang jati cuma lapisan luarnya, lainnya semacam kayu blotik biasa.

Walhasil, ada sebagian koleksi buku saya harus menerima nasib, menjadi bejad alias hancur dimakan rayap. Ada buku kuliah dulu, catatan pribadi, buku bidang khusus komunikasi dan hukum dan lain-lain. Buku benar-benar kosong melompong dimakan rayap. Selebihnya malah habis.

Tentu kayu-kayunya juga ringsek dimakan rayap-rayap itu. Dan rayap-rayap tersebut ganasnya bukan main. Buku yang enam bulan lalu saya periksa masih utuh, kini hancur lebur.

Beberapa tahun silam juga banyak piagam dan sertifikat saya sebagai pembicara juga dilahap para rayap keparat ini.

Demikian pula sebagian pakaian saya, termasuk baju batik-batik ATBM sutra disikat si rayap-rayap dengan rakus. Untung sempat ketahuan, jadi sebagian besar masih dapat diselamatkan.

Sialnya lagi, susah nian memberantas rayap ini. Mereka sudah seperti wabah korupsi: sulit dihilangkan. Berbagai cara sudah saya tempuh. Mulai dari teori induknya ada di luar, yaitu di tanah. Maka tanah pun sudah diberi obat khusus rayap. Tapi tetap tak manjur.

Kayunya disemprot dan dioles obat rayap. Sebentar berhasil namun setelah itu rayap muncul lagi.

Nah, ini pelajarannya: jangan percaya begitu aja ketukang mebel. Dan selalu pantau buku-buku kita dengan rutin dalam rentang waktu yang pendek. Kalau tidak, rayap bakal merajalela.

Apakah Sobat punya pengalaman perkara rayap rayap ini? Atawa mungkin punya resep manjur membunuh koloni rayap?

WINA ARMADA SUKARDI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini