Pengalaman Naik Tuk Tuk di Bangkok

630
ILHAM BINTANG ketika naik "tuk tuk bajaj" di Bangkok, Thailand. (Foto: Istimewa)

INILAH kisah tentang Tuk Tuk. Kendaraan roda tiga, sejenis Bajaj di Jakarta. Tuk Tuk mulanya dari Jepang.

Setelah dimodifikasi jadilah moda transportasi umum di negeri Gajah Putih.
Seperti Bajaj di Jakarta, begitulah TukTuk menderu-deru di jalan raya Bangkok.

Sepintas penampakannya di jalanan menegangkan. Seakan pengemudi tidak begitu perduli dengan rambu lalu lintas. Kerap behenti secara mendadak, berbelok pun acap tanpa aba-aba melalui lampu sein.

Meski sudah berkali-kali ke Bangkok, saya selalu khawatir naik kendaraan itu. Tapi kagum pada bentuknya yang unik.

Lebih seru di malam hari. Bodinya dilumuri lampu hias berbagai warna. Kayak gelas es campur raksasa tengah berkejaran di jalanan.

Yang selalu saya khawatirkan apabila terjadi kecelakaan, misalnya. Rasanya kendaraan itu kurang dapat melindungi penumpangnya. Ruangnya sangat terbuka, depan belakang, samping kiri kanan.

Bila turun hujan saja, paling sedikit penumpang akan menghadapi resiko basah kuyup. Tetapi Tuk Tuk berumur panjang di Thailand. Sangat disukai turis asing.

Tuk Tuk merupakan elemen penting menunjang pariwisata di negeri itu. Buktinya, Tuk Tuk tetap bertahan dengan berbagai modifikasi.

Beberapa tahun lalu ada wacana menghapus moda angkutan tradisional itu karena mengakibatkan polusi udara.

Tapi rencana itu batal. Polusi dapat diatasi menyusul penggantian bahan bakarnya dengan bahan gas. Rencana masa depannya Tuk Tuk akan mengggunakan tenaga listrik.

Kemarin dalam sebuah tulisan tentang Bangkok (Baca: Bangkok – Jakarta Sebelas Duabelas, 25 Agustus 2023), saya menyinggung sedikit tentang Tuk Tuk ini. Berdasar pada kejadian Kamis, 24 Agustus malam lalu saat santai di lobby hotel.

Foto: Ilham Bintang

Waktu itu perhatian saya tetiba disita oleh puluhan “Tuk Tuk” berhias lampu berwarna-warni mirip es campur dalam gelas raksasa menyerbu masuk halaman hotel. Seperti iringan festival, disertai irama musik riang yang disetel dengan volume kencang.

Saya menyaksikan Tuk Tuk menumpahkan penumpang turis, kebanyakan dari Afrika.

Ditingkahi aksi tepuk tangan dan sorak sorai panjang dan suara cekikikan penumpangnya. Bangkok malam itu memang dilanda kemacetan berat.

Sorak sorai turis mungkin ekspresi kegembiraan mereka terbebas dari penderitaan disiksa kemacetan berjam-jam di jalan.

Nama Lokalnya: Thermlow Kuruan

Seperti disebut di awal, Tuk Tuk dulu merupakan kendaraan bekas asal Jepang. Sekitar 30 mobil bekas tipe Daihatsu Midget DK yang dijual di Jepang pada tahun 1957 diimpor ke Thailand.

Daihatsu Midget tipe DK itu kemudian banyak digunakan di Chinatown, di Bangkok, Thailand.

Di kota kuno Ayutthaya yang dikenal sebagai situs warisan dunia di Thailand, menurut Young Machine, tipe MP Midget Daihatsu juga banyak digunakan di sana karena harganya murah.

Saat itu nama ‘Tuk Tuk’ belum familiar. Yang digunakan adalah sebutan Thermlow Kuruan yang berarti kendaraan roda tiga, dan dijual oleh beberapa merek Jepang seperti Honda, Hino, Mitsubishi, Toyo Kogyo (sekarang Mazda), dan juga Daihatsu.

Selanjutnya ketika merek-merek itu tidak lagi memproduksi kendaraan roda tiga di Jepang, maka riwayat Thermlow Kuruan di Thailand pun berakhir. Sebagai gantinya, muncul Tuk Tuk sebagai kendaraan roda tiga produksi lokal Thailand.

Pada awalnya Tuk Tuk digunakan untuk membawa barang, namun lama kelamaan mulai digunakan sebagai taksi.

Dan kata orang Thailand, kendaraan tersebut berjalan dengan suara mesin ‘tuk tuk’, maka kendaraan roda tiga ini pun disebut dengan nama Tuk Tuk sampai sekarang.

Bangkok, Thailand. (Foto: Ilham Bintang)

Pada tahun 2017 tercatat ada sekitar 20.389 unit Tuk Tuk yang terdaftar untuk penggunaan bisnis dan 1.636 untuk penggunaan pribadi, dengan total 22.025 kendaraan di Thailand. Sekitar 46% dari jumlah tersebut berada di Bangkok.

Jumat, 25 Agustus petang terjadi perkembangan menarik. Akhirnya, pertahanan saya tidak naik Tuk Tuk, bobol juga.

Tidak ada pilihan lain saat itu. Saya berada di Istana Raja mau ke obyek wisata lain, Sleeping Budha.

Jalan kaki dengan resiko disengat terik matahari siang atau tegang sebentar dengan naik Tuk Tuk? Jarak Istana Raja ke lokasi Sleeping Budha tidak terlalu jauh.

Taksi meter maupun Grab tidak masuk di dua lokasi itu. Bismillah. Kami pun, berempat dengan istri, anak, dan cucu naik Tuk Tuk. 100 Baht (Rp45.000).

Wuizz. Tuk Tuk pun melesat di jalan sekalian membawa perasaan was-was kami.

Untuk jarak pendek 1 Km di lokasi turis bolehlah mencoba Tuk Tuk itu. Joss juga. Tapi terserah Anda saja.

ILHAM BINTANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini