Gedung Asrama Putri HIKMAT Majene yang baru di Jl Andi Djemma, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulsel. (Foto: Rahmat)
Sekprov Sulbar Dr. Muhammad Idris DP beri sambutan saat Peresmian Gedung Asrama Putri HIKMAT Majene yang baru di Jl Andi Djemma, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulsel, Minggu, 30 Juni 2019. (Foto: Rahmat)

TRANSTIPO.com, Makassar – Tak bisa dipungkiri memang, bahwa menempuh pendidikan tinggi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) lebih menjanjikan dari segi kualitas. Berkualitas dalam hal sarana dan prasarana, juga fasilitas lain dan aspek pendukung lainnya.

Makanya itu, sudah sejak lama kaum pelajar muda dari Mandar—kini Provinsi Sulawesi Barat—kerap memilih Kota Makassar sebagai salah satu tempat favorit untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Nyaris sudah tak berbilang lagi, sejak berpuluh-puluh tahun silam, masyarakat Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), bergerak bagai laron-laron menuju Kota Makassar setelah mereka lulus di sekolah lanjutan atas.

Melihat antusiasme seperti itu, sebuah komunitas di Kabupaten Majene sadar betul akan pentingnya dunia pendidikan—khususnya di jenjang pendidikan tinggi. Komunitas dimaksud adalah perhimpunan masyarakat Tande, Majene.

Seperti yang diungkapkan Dr. Ahmad. Dalam sejarahnya, sejak 1976 warga HIKMAT Tande telah memiliki dua asrama mahasiswa di Makassar, Sulsel. Asrama mahasiswa Majene yang berada di Jl Landak Baru, dan yang satunya lagi berada di Jl Mallengkeri, Kecamatan Tamalate, Makassar.

Ketua Pengurus Pusat Himpunan Keluarga Mandar Tande (HIKMAT) Dr. H. Ahmad Asiri bilang, gedung asrama yang baru saja diresmikan ini merupakan hasil renovasi dari asrama sebelumnya, namun tetap berada di tempat yang sama yakni di Jalan Landak Baru, Makassar.

Upaya renovasi asrama mahasiswa HIKMAT di Jl Landak Baru itu, seolah seirama dengan nafas perubahan pada nama jalan itu. Pada Kamis, 9 November 2017, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto meresmikan pergantian nama Jl Landak Baru menjadi Jl Andi Djemma di Kecamatan Mamajang, Makassar. Peresmian pergantian nama jalan itu bertepatan dengan HUT ke-410 Kota Makassar.

Tampak hadir Hj. Jamila Haruna, SH dan sejumlah tokoh dari Kabupaten Majene saat Peresmian Gedung Asrama Putri HIKMAT Majene yang baru di Jl Andi Djemma, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulsel, Minggu, 30 Juni 2019. (Foto: Rahmat)

Tak sampai dua tahun setelah berubah jadi Jl Andi Djemma—meski di lokasi yang sama—kini berdiri sebuah bangunan asrama mahasiswa yang megah. Warga Kabupaten Majene layak bangga dengan terbangunnya asrama mahasiswa Mandar Tande di kota Daeng itu.

Dana pembangunan asrama baru ini dikumpulkan dari hasil swadaya warga Mandar Tande yang ada di Makassar maupun yang ada di luar Sulawesi.

“Anggaran pembangunan asrama sampai saat ini mencapai Rp693.000.000. Untuk penyelesaian pembangunan asrama, seperti aula dan ruang belajar, panitia masih membutuhkan anggaran Rp500 juta lebih,” ujar Dr. Ahmad.

Menurut Ahmad, pembangunan asrama mahasiswa tersebut belum mendapat bantuan dari pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Majene maupun Pemerintah Provinsi Sulbar.

“Selama ini memang belum ada (bantuan), kami betul-betul secara swadaya. Tujuannya ya tentunya untuk membantu peningkatan kualitas SDM di Majene dan Sulawesi Barat secara umum,” sebut Dr. Ahmad.

Rahmat, adalah salah seorang mahasiswa HIKMAT yang kini sedang menimba ilmu di UNM Makassar. “Kedua asrama milik HIKMAT tersebut dirasakan sangat membantu studi mahasiswa dari daerah yang melanjutkan pendidikan di Makassar,” ujar Rahmat.

“Disamping tidak berbayar, lokasi asrama juga strategis, berada di pusat kota, mudah akses ke banyak kampus yang ada di Makassar,” tambah Rahmat.

Gedung asrama mahasiswa Tande di Jl Andi Djemma itu diresmikan pagi tadi, Minggu, 30 Juni 2019. Sebuah papan nama terpampang jelas nama asrama ini: Asrama Putri “HIKMAT”.

Banyak orang yang datang saat peresmian asrama ini. Berbagai pihak menilai bahwa swadaya masyarakat Tande membangun asrama untuk pelajar dan mahasiswa patut dicontoh.

Sejumlah tokoh penting hadir, di antaranya Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar Dr. Muhammad Idris DP, Ketua HIKMAT Dr. Ahmad Asiri, HM. Zikir Sewai, Hj. Jamila Haruna, perwakilan Pemkab Majene, dan sejumlah tokoh-tokoh Mandar lainnya yang ada di Makassar dan Majene. Dan, tak ketinggalan pula adalah seluruh pengurus inti wadah berhimpun HIKMAT.

Salah satu sudut ruang yang ada di Gedung Asrama Putri HIKMAT Majene yang baru di Jl Andi Djemma, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulsel, Minggu, 30 Juni 2019. (Foto: Rahmat)

Yang didaulat meresmikan gedung asrama baru ini adalah Muhammad Idris DP. Muhammad Idris, bukan semata karena ia sebagai Sekprov Sulbar, tapi ia juga putra dari Kabupaten Majene.

“Kita bersyukur karena ini ada model, satu kerukunan keluarga Tande yang jika boleh disebut secara fenomenal bisa membangun asrama. Anggarannya tidak sedikit tapi bisa diwujudkan dengan semangat kebersamaan. Saya kira poinnya adalah tidak ada sesuatu yang sulit jika sama-sama memikirkan dan sekaligus mengerjakannya,” ungkap Muhammad Idris DP.

Dengan contoh yang dilakukan oleh masyarakat Tande ini, menurut Idris DP, komunitas (warga) lainnya patut mencontoh upaya dari himpunan keluarga Tande. “Dengan semangat kebersamaan, warga bisa membangun asrama yang tentu tidak sedikit biayanya,” kata Idris.

Dalam pengamatan Muhammad Idris, “Saya lihat asrama-asrama kita itu pada umumnya asrama yang tidak dikelola dengan baik, dan semuanya berbasis pada anggaran pemda semata. Nah, ini agak sulit, termasuk di Majene.”

Tanpa menafikan kehadiran pemerintah daerah dalam hal partisipasi membangun wadah dan infrastruktur pendidikan, Idris tetap berharap bahwa harus ada dukungan dari masyarakat yang secara kontinyu, jalan terus.

“Ini bisa dijadikan model. Walau begitu ya, pemda juga harus bertanggung jawab. Apa itu? Paling tidak untuk pemeliharaannya di masa depan, dan pemeliharaan juga itu tidak mudah,” terang Idris DP.

Tande.

Pada awalnya, sebuah daerah kecil di Kabupaten Majene berstatus desa, kini Kelurahan Tande. Meski ia kecil, tapi daerah ini menatap kemajuan pendidikan warganya—yang di kampung maupun di luar—terlampau besar. Warga Tande seyogyanya maju—seolah ini satu filosofi penting.

RAHMAT/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR