Orang Baik, Wartawati Senior itu Telah Pergi

424
DR Sirikit Syah. (Foto: Istimewa)

In Memoriam DR Sirikit Syah

Catatan ILHAM BINTANG

SATU lagi sahabat pergi. Tadi pagi, Selasa, 26 April, di RS Islam, Surabaya, Jawa Timur. Meski sudah sekian tahun menderita kanker, tetapi kepergian wartawati senior Sirikit Syah (lahir di Surabaya, Jawa Timur, tahun 1960; umur 62 tahun) Surabaya, tetap saja membekaskan duka mendalam.

Sekian tahun Mbak Ikit — begitu ia akrab disapa — menderita kanker, dan rasanya sikap yang dia tunjukkan menghadapi sakit adalah sebaik-baik sikap perlawanan terhadao penyakit ganas itu. Dia tak menyerah. Ikit tetap merawat semangat.

Ia yang sejak muda kritis, tetap bisa menjaga daya kritisnya hingga ajal menjemput. Di beberapa WAG (WhatsApp) yang saya ikuti bersama dia sungguh perlawanan itu nyata dia lakukan. Bahkan ketika menjalani kemo pun ia tetap melayani polemik berbagai topik yang menguji daya kritisnya. Juga kesabarannya.

Sebagai kawan seprofessi saya turut bangga Ikit tak tergelincir (itu istilah dia) berkolaborasi dengan kekuasaan, ikut tren sebagian akademisi yang tak kuat “berpuasa” mencicipi nikmat hasil pembangunan rezim.

Belum lama Ikit malah menerima posisi sebagai anggota Dewan Pakar Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) Jawa Timur, yang berarti pandangan-pandangan kritisnya setuju diwadahi secara formal.

Otak-Otak Makassar

Saya mengenal Ikit pertama kali di Surabaya sebagai wartawan film, lebih empat puluh tahun lalu. Ikit bekerja sebagai wartawan Surabaya Post. Dia sering mengontak saya mengajak diskusi tentang perfilman Indonesia. Ia pun beberapa kali meliput acara Festival Film Indonesia (FFI) yang diselenggarakan di daerah. Ia memang paling suka bertugas di daerah. Tugas jurnalistik maupun sebagai pengajar.

Tahun lalu, ia bercerita, kota Bukittinggi, Sumatera Barat, kota dambaan yang belum sempat dia kunjungi. Pengalaman tugas di daerah mengenalkannya sekaligus dengan pelbagai kuliner khas daerah di Nusantara. Dan, kuliner Makasar yang mengesankan buat dia adalah Otak-Otak.

Tahun lalu, sepulang Kemo, Ikit mengontak saya. Ia pengen sekali makan otak-otak Makassar. Saya pun kontak kemanakan di Makassar memesankan segera mengirim penganan itu ke Ikit di Surabaya.

Pernah belasan tahun kontak kami terputus karena kesibukan. Namun saya mengikuti aktifitas Ikit yang kelak dikenal melalui karya-karya sastranya berupa esai, puisi, dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah media massa.

Sirikit Syah adalah alumni Universitas Negeri Surabaya dan menjadi salah satu akademisi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA – AWS) dan pendiri Sirikit School of Writing (SSW).

Catatan di Wikipedia, sejak usia muda Ikit memang sudah mencita-citakan menjadi guru. Itulah yang mendorongnya masuk kuliah di IKIP Surabaya pada tahun 1984. Namun setelah lulus, dia justru menekuni kariernya sebagai wartawati di Surabaya Post (1984-1990), RCTI/SCTV (1990-1996), dan The Jakarta Post (1996-2000).

Di sela -sela waktu, toh masih mengabdi di dunia pendidikan dengan mengajar di Universitas Dr. Soetomo (1996-2001).

Sepulang dari London dengan gelar Master Komunikasi (2001-2002), Sirikit dipercaya mengelola Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (STIKOSA).

Di luar aktivitasnya sebagai pengajar dan wartawan, dia juga menjadi pengamat media yang cukup kritis melalui Lembaga Konsumen Media (Media Watch!) yang didirikan pada tahun 1999.

Sebuah buku karya DR Sirikit Syah. (Foto: Istimewa)

DR Hernani Sirikit MA nama lengkapnya, berhasil meraih gelar doktor Ilmu Bahasa di Universitas Negeri Surabaya dengan disertasi “Naming anda Labeling In Terrorism News Reports Published di The Jakarta Post” (2018).

Sirikit Syah mengontak saya tiga tahun lalu menyampaikan ucapan terima kasih karena dimasukkan dalam jajaran pengurus bidang pendidikan di PWI Pusat.

Di WAG PWI Pusat, Ikit cukup aktif berdiskusi dan membagi link tulisannya yang berkaitan dengan kemerdekasn pers dan juga topik yang terkait dengan ketimpangan sosial.

Di WAG lain, Ikit belum lama berpolemik dengan novelis Akmal Nasery tentang invasi Rusia ke Ukraina. Polemik itu berlangsung berhari-hari, dan kami member WAG membiarkan saja mereka berpolemik saking menariknya. Istilah anak milenial, isinya daging semua.

Kepergian Mbak Ikit sungguh mengejutkan. Memang sudah tiga pekan ia tak aktif berkabar di WAG. Statusnya di Facebook 3 April lalu menceritakan kesedihannya tidak bisa ikut bergembira dengan cucunya yang hari itu berulang tahun ke delapan. Nah. Ini masih ketemu ulasannya di FB itu. Saya kutipkan. Sesuai teks aslinya.

“Hari ini cucu pertamaku, Harmoni Bumi ulang tahun ke 8. Meski diperingati di rmhku dgn pesan pizza utk berbuka puasa, aku tak bs ikut foto bareng. Kondisiku terus menurun.

Dia masuk kamar menawari aku pizza. Lalu kuberi dia amplop uang.

Aku: Bum maafkan eyang, ya. Gak bs ajak kamu ke toko buku. Ini uangnya terserah, utk beli baju atau mainan atau buku.

Bumi: Gak papa yang. Uang dari eyang ini kan kusedekahkan dan sebagian utk bayar les ngajiku.

Aku: Kenapa disedekahkan? Dan bayar les ngaji kan bunda?

Bumi: Aku gak perlu uang sebanyak itu. Baju dan mainanku sdh banyak. Pingin beli buku satu aja.

Aku: Terus, hadiah dr eyang utk Bumi apa?
Sambil memeluk aku dia bilang: Aku kan sdh pernah bilang kadoku ya eyang.

Subhanallah. Cucu yg sayang eyangnya. Ikit sudah tiada.

Tampaknya itu sekaligus status penghabisan Sirikit Syah di media sosial karena kondisinya yang drop sesuai yang dia katakan sendiri. Selain status di FB itu, ia juga meninggalkan hal yang sangat berharga: buku terbaru ‘Teori dan Filosofi Jurnalistik dalam Praktik”.

Yang ini menjelaskan, Mbak Ikit berhasil menghadapi kanker dengan sebaik-baik perlawanan. Selamat jalan Mbak Ikit. Semoga Husnul Khotimah.

Penulis adalah Wartawan senior Indonesia, Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Pusat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini