SILATURAHMI RAJA-SULTAN. Sri Sultan Hamengku Buwono X (tengah) Pemangku Kesultanan Deli, Tengku Hamdy Osman Deli Khan Al-Haj, Gelar Tengku Raja Muda Deli (kedua kanan) memegang pedang pada Silaturahmi Nasional Raja/Sultan se Nusantara, di Istana Maimun, Medan, Sumut. (Foto: Istimewa)

SAAT saya ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya, atau kedaerah lain dipulau Jawa. Ketika mereka menanyakan asal saya, dan saya menyebutnya dari Medan. Maka yang terpikir bagi mereka, saya adalah orang Batak.

Ketika disebut Batak, banyak orang dijawa atau daerah lainnya yang menganggap bahwa Orang Medan itu Suaranya kasar, dan Agamanya Kristen Serta ada sedikit Pikiran Negatif.

Namun seiring banyak pejabat di Negeri ini dari tanah Batak, Menteri dan Anggota DPR serta Para pengacara handal, perlahan pikiran negatif tentang Batak mulai hilang.

Apalagi sekarang anak Batak, banyak sekolah diluar negeri dengan nama-nama yg cenderung sama dengan Nama-nama orang Barat.

Namun fokus kita kali ini tentang Kota Medan. Kota Medan adalah Kota Metro Politan yang religius, Kota terbesar ke tiga setelah Jakarta dan Surabaya.

Ketika disebut Medan kita terbayang aroma dan legitnya Durian Bang Ucok, serta Bika Ambon yang menggoda.

Ditambah lagi pesona Masjid Raya Medan, Istana Maimun, dan Taman Sri Deli di Depannya.

Dari penjelasan diatas tentang Kota Medan, tidak satupun yang mencirikan Batak. Karena Medan adalah Kota Melayu Deli, peninggalan sejarah berupa Kesultanan Deli dan Masjid Raya, serta Taman Srideli membuktikan Medan adalah Tanah Melayu.

Karena Medan adalah Ibukota Provinsi Sumatera Utara, maka ketika orang-orang Batak pergi ke Luar Sumatera Utara, dan ada orang yang menanyakan daerah asal nya dari mana. Mereka selalu mengatakan dari Medan.

Padahal sebenarnya orang-orang Batak ini banyak Mendiami Kabupaten disekitaran Danau Toba, Kabupaten Toba, Kabupaten Tapanuli Utara dan sekitarnya.

Namun seiring waktu berjalan, mereka banyak merantau ke Kota Medan. Ketika sudah mulai sukses, mereka mengajak keluarganya juga ke Kota Medan. Sehingga penduduk di Medan banyak orang-orang dari tanah Batak.

Kalau di Sumatera Utara orang Batak ini disebut orang Toba, bukan Batak. Karena suku-suku lain yg diklaim Suku Batak tidak mau disebut Batak, seperti Suku Mandailing, Simalungun, dan Karo.

Menurut Wikipedia tahun 2020, Penduduk Kota Medan Saat ini berdasarkan Suku adalah: Jawa 33,01%, Toba 20,93%, Mandailing 9,36%, Melayu 6,59%, Tionghoa 10,65%, Minangkabau 8,60%,Karo 4,10%, Aceh 2,79%, Tamil dan lainnya 2,93%. Dari data ini sebenarnya mayoritas Penduduk Kota Medan itu adalah Suku Jawa, dan Suku aslinya Melayu tinggal 6,9%.

Berikutnya Banyak orang sudah berpikir bahwa Medan itu Orang Batak, karenanya juga mereka berpikir mayoritas Beragama Kristen. Itu tidak benar. Yang benar adalah Medan itu Asli Melayu Dan Mayoritas Ummat Islam.

Coba kita lihat Penduduk di Medan Berdasarkan agama : Agama Islam 64,53%, Kristen 26,10% (Protestan 20,99%, Katolik 5,11%), Buddha 8,28%, Hindu 1,04%, Konghucu 0,06%. Kesimpulannya tidak benar di Medan itu Identik dengan Agama Kristen, tapi Mayoritas Beragama Islam. Bahkan Sumatera Utara itu Mayoritas Muslim.

Selanjutnya kita lihat bahasanya, bahasa Medan itu adalah Bahasa Indonesia, Selanjutnya bahasa melayu, bahasa Toba, Jawa, Hokkien, Minangkabau, Aceh, Mandailing, Tamil, Mandarin, dan Bahasa Inggris.

Dengan demikian sudah jelas, bahwa MEDAN itu adalah Tanah MELAYU, AGAMA mayoritas ISLAM dan BAHASA INDONESIA dan MELAYU.

Namun banyak orang Medan di Perantauan disebut Batak. mereka diam jika menguntungkan. Artinya dengan disebut orang Batak orang lain segan atau takut. Namun tidak sedikit juga warga Medan yang asli Batak Toba, dan mereka memang senang disebut Batak, karena mereka Batak asli.

Demikianlah adanya, semoga kedepan tidak ada lagi yang yang menyebut Medan itu Batak, karena Medan itu Melayu. Jangan ada yang menyebut Medan itu Kristen, karena Medan Itu Mayoritas Islam. Dan Jangan ada yang menyebut Medan itu bahasa Batak tapi yang benar adalah bahasa Indonesia dan Melayu.

Dan kota Medan ini adalah Miniatur Indonesia banyak Suku dan agama yang berbeda dan tetap rukun dan damai dibawah naungan Pancasila dan UUD 45 serta Bhinneka tunggal ika. Ini Medan bung.

Smoga dengan tulisan ini semua orang yang datang kemedan, atau orang Medan yang datang ke Jawa atau kedaerahnya jangan lagi bertanya-tanya dalam hati, tentang warga Medan.

AR RANGKUTI

TINGGALKAN KOMENTAR