Anggota Fraksi Demokrat DPRD Sulbar Syamsul Samad sedang menjawab sejumlah pertanyaan wartawan, Mamuju, Selasa sore, 8 Agustus 2017. (Foto: Zulkifli)

Haji Sudirman—legislator Golkar dari Mamasa—berusaha ‘melerai’ dengan meminta pimpinan rapat agar soal ‘PAW’ Munandar Wijaya ditempuh sesuai mekanisme.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dua agenda penting yang dibawa dalam Rapat Paripurna DPRD Sulbar pada Selasa, 8 Agustus 2017, berjalan normal—dari awal hingga akhir.

Rapat paripurna pertama membahas penyampaian akhir komisi-komisi mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) LKPj Pelaksanaan APBD 2016. Paripurna kedua membahas Ranperda Hak Keuangan, Administrasi Pimpinan dan Anggaran DPRD Sulbar.

Kedua rapat tersebut oleh Ketua DPRD Sulbar Andi Mappangara (AM). Pada paripurna ketiga, AM menyorong palu pimpinan rapat kepada Wakil Ketua DPRD Sulbar Haji Harun (HR).

Tak dinyana. Baru saja HR membuka penyampaian tentang agenda pergantian pimpinan dewan atau ‘PAW’ Munandar Wijaya, interupsi sudah sekelebatnya menghunjam podium pimpinan rapat.

Siapa saja penginterupsi itu? Syamsul Samad, legislator dari Demokrat asal Polman. Ia minta pimpinan rapat tinggalkan meja pimpinan sebagai bentuk penolakan atas rapat lanjutan yang dianggap menyalahi mekanisme.

“Saya minta Ketua DPRD Sulbar (AM, red) dan Wakil Ketua DPRD Sulbar (HR, red) untuk tak melanjutkan rapat diluar dari dua agenda Ranperda yang sudah disepakati. Ini menyalahi mekanisme yang ada. Apa pun materinya, kami tetap menolak. Kalau dianggap ada rapat, faktanya tak ada undangan rapat Bamus. Hal itu benar saat kami kroscek ke anggota Bamus,” jelas Syamsul dengan suara keras.

Yahuda, legislator Demokrat lainnya, juga bersuara lantang. “Kami bukan menolak pada wilayah pergantian pimpinan atau tidak, namun mekanismenya tak sesuai,” kata Yahuda.

“Saya minta semua Aggota Fraksi Demokrat keluar,” tegas Yahuda lewat pengeras suara di ruang paripurna dewan itu.

Sudirman juga menginterupsi pimpinan rapat, HR. “Kalau proses ini tetap dilanjutkan, saya kira akan berdampak negatif. Jadi saya harapkan persoalan terima atau tidak terima pergantian pimpinan itu bukan urusan kami. Hanya proses di sini yang kami permasalahan karena tak sesuai mekanisme,” teriak Sudirman, sedikit beri solusi.

Mendegar dan melihat semua itu, HR pun tak ngotot lanjutkan rapat paripurna. Hingga ruang paripurna dewan benar-benar kosong melompong, selama sekitar 30-an menit jelang magrib Selasa petang kemarin itu, suasana rapat benar-benar gaduh, ricuh.

“Pimpinan rapat menyerahkan kepada saya. Sehingga saya sebagai wakil ketua dewan, ya, harus saya terima. Sebelum saya mulai, sudah ada beberapa anggota dewan interupsi. Itu kan biasa, itu haknya dia. Belum kita mulai dia sudah interupsi mempersoalkan masalah pengumuman penggantian pimpinan,” jelas HR ketika ditemui di ruang kerjanya beberapa menit seusai rapat yang gagal itu.

Anggota Fraksi Demokrat lainnya, Sukri Umar, yang ditemui sebelum beranjak dari Ragas baru juga bilang, “Itu paripurna gandengan yang mau disisipkan dalam dua paripurna yang sudah jalan tadi. Agenda tadi itu membonceng agenda yang sudah jalan. Itu tak boleh karena kita diatur oleh mekanisme.”

ZULKIFLI/RISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR