Weekend ke Pangandaran, Atal S. Depari Naik Susi Air

640
Ketum PWI Pusat Atal Sembiring Depari menunggang kuda di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, akhir pekan kemarin. (Foto: Istimewa)

Jogging Pagi di Pangandaran, Pantai Tercantik di Jawa Barat

CATATAN ILHAM BINTANG

PANTAI Pangandaran, Minggu 19 Juni pagi,  Setiap sepuluh menit sekali, lewat pengeras suara, penjaga pantai memperingatkan pengunjung tidak berenang atau berada di pantai melampaui batas aman yang sudah dipasangi bendera. Jarak batas itu dengan tepian sekitar lima meter.

Pagi itu ketika berkunjung ke sana, laut sedang berombak tinggi. Riaknya menjulur sampai melampaui batas bendera. Bahkan sesekali lidahnya menjilati tepian pantai yang sedang ramai pengunjung. Seperti saya alami Sabtu 18 Juni ketika hari pertama jogging di tepi pantai. Tetiba lidah ombak merendam sepatu dan celana sampai bagian lutut.

Ancaman Tsunami

Meski terancam hantaman bencana tsunami setinggi 20 meter (berdasar penelitian dari ITB belum lama ini) itu tidak menyurutkan nyali pengunjung. Pantai Pangandaran memang obyek wisata paling favorit yang terdapat di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pantai menjadi lokomotif kemajuan ekonomi masyarakat Pangandaran.

Sejak Februari, seiring dengan meredanya pandemi Covid-19, masyarakat pun mulai ramai mendatangi obyek wisata itu. Terutama pada hari Sabtu – Minggu atau libur nasional.

“Libur Lebaran kemarin pantai sudah ramai pengunjung,” cerita Sariyem (50) pedagang pecal di sana.

Akibat pandemi Covid-19, lebih dua tahun ibu tiga anak dan satu cucu itu stop berdagang. Pemerintah selain membatasi kegiatan masyarakat juga menutup pantai.

Susi Pudjiastuti pemilik maskapai penerbangan Susi Air. (Foto: Istimewa)

Sariyem tidak berhenti memanjatkan puji syukur begitu keadaan sudah membaik seperti sekarang. Yang membuatnya dapat kembali mencari nafkah dari pengunjung pantai. Di tepi pantai itu Sariyem berjualan pecal, kopi, kacang dan berbagai jenis minuman ringan. Sebelum pandemi omsetnya sekitar Rp300 s.d. Rp500 ribu dari berjualan sejak pagi hingga petang.

Pagi itu Sariyem tetap memakai masker, meski alat pelindung tersebut hanya menempel di dagunya. Memang tidak terdengar lagi pengumuman penjaga pantai memperingatkan pengunjung kewajiban memakai masker. Beda dengan dulu, pengunjung yang kedapatan tidak pakai masker dihukum push up.

“Sekarang tidak wajib lagi,” kata pedagang pecal asal Jawa Tengah itu.

Sariyem benar. Tidak hanya di kawasan pantai, di tempat -tempat umum lainnya pun demikian. Waktu Salat Jumat di sebuah masjid di Pangandaran, rasanya hanya saya yang mengenakan alat pelindung serangan virus itu.

Kenangan 50 Tahun Lalu

Seandainya tidak diundang Susi Pudjiastuti dan diwanti-wanti datang, niscaya saya tidak pernah tahu Pangandaran telah menjelma menjadi Kota Kabupaten yang maju dengan pesona pantai yang menjadi andalan wisata Jawa Barat.

Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

Pertumbuhan ekonomi Pangandaran 2021 di saat pandemi Covid19 hanya terkoreksi 0,05 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, karena pertanian.

Di masa pandemi 27 persen warga pangandaran mendapat penghasilan dari sektor pertanian. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat belum ini bahkan mengumumkan warga paling bahagia se-Jabar adalah warga Kabupaten Pangandaran.

Hasil penelitian BKKBN itu menempatkan Pangandaran pada posisi tertinggi, yaitu 52,81 pada grafik 5.4 Persentase Indeks Kebahagiaan dalam Keluarga 2021.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu mengundang saya menyaksikan “Susi Air Jambore Aviation Jambore 2022” ( SAJA) yang berlangsung di Pangandaran 17-19 Juni. Dari Guest Housenya, Pantai Pangandaran bisa ditempuh 15 menit berjalan kaki.

Saya pernah sekali ke Pangandaran. Tapi itu di awal tahun 1970-an, waktu liburan sekolah, lebih setengah abad lalu. Untuk ke sana dengan kendaraan umum memerlukan waktu tempuh sekitar 15 jam karena berganti-ganti moda transportasi. Saya ingat truk pasir adalah tumpangan kami terakhir hingga sampai Pangandaran waktu itu.

Berbanding terbalik dengan kunjungan kedua, hari Jumat  17 Juni lalu. Dengan menumpang maskapai Susi Air, Jakarta – Pangandaran hanya menelan waktu 50 menit.

Taman di kawasan Pantai Pangandaran tertata rapi dan bersih. (Foto: Istimewa)

Sejak 2005 Susi Air sudah melayani penerbangan Jakarta – Pangandaran pulang pergi beberapa kali dalam sehari. Kemudian datang pandemi Covid-19 menyerang dunia dan menghantam hampir seluruh sektor ekonomi. Yang paling menderita adalah sektor pariwisata dan penerbangan.

Di masa pandemi, Pangandaran sepi, Susi Air pun paling banyak terbang seminggu dua kali. Padahal, sebelumnya setiap hari dengan beberapa penerbangan mengangkut wisatawan.

SAJA diinisiasi Susi Pudjiastuti antara lain untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata di Pangandaran.

Pantai Tercantik

Pantai Pangandaran memegang gelar salah satu pantai tercantik di Pulau Jawa. Pantai yang memiliki bentangan sepanjang 92 km itu resmi menjadi objek wisata sejak tahun 2012. Ia merupakan bagian dari selatan Pulau Jawa yang terkenal dengan ombak besarnya.

Namun, pantainya landai dengan rentang waktu antara pasang lautnya yang relatif lama. Ombaknya tenang dan pemandangan matahari yang spektakuler membuat pantai itu menawan hati terlebih ketika sore hari.

Kawasannya terbagi menjadi dua bagian yakni pantai Pangandaran Barat dan Pantai Pangandaran Timur. Keduanya dipisahkan oleh daratan yang menjorok jauh ke lautan atau yang biasa disebut sebagai teluk.

Keistimewaan Pantai Pangandaran posisinya menghadap ke Samudra Hindia. Punya pantai pasir putih dan pasir hitam, dengan kondisi alam dan lingkungan yang bersih, serta pemandangan matahari terbenam yang indah dan spektakuler.

Cagar Alam

Lokasi tempat berjualan Sariyem di tepian batu persis di balik papan reklame “Pangandaran Sunset.” Seperti Pantai Kuta di Bali, itulah tempat paling favorit bagi seluruh pengunjung. Wisatawan domestik maupun asing.

Pantai ini juga memiliki sebuah daratan yang menjorok ke laut yang sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung. Cagar Alam Pananjung memiliki luas 530 hektar. Tanjung itu berfungsi menghambat atau mengurangi gelombang besar untuk sampai ke pantai.

Tanjung itu membuat jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan orang untuk berenang dengan aman. Di dalamnya ada gua-gua yang terbentuk sejak ratusan bahkan ribuan tahun.

Menurut Wikipedia, gua alam itu mengandung bebatuan stalagtit (endapan berbentuk batuan keras) dan batuan granit yang menggantung di langit-langit. Kondisi pantai yang menjorok ke laut membuat gelombang cukup landai sehingga banyak nelayan dari wilayah lain datang. Selain itu, terdapat pula menara pengawas milik bay watch atau biasa disebut life guard.

Kabupaten Pangandaran berpenduduk sekitar 430 ribu jiwa yang mendiami daerah seluas 168.509 Ha dan luas laut 67.340 Ha serta lebar pantai 91 Km memiliki banyak obyek wisata. Selain Pantai Pangandaran, juga Taman Wisata Cagar Alam, (Cagar Alam Penanjung), Pantai Batu Hiu, Pantai Batu Karas, Pantai Mandasari, Pantai Krapyak serta wisata sungai yaitu Cukan Taneuh (Green Canyon) dan Citumang Santirah.

Keindahan Pantai Pangandaran, tak salah pantai ini disebut-sebut pantai tercantik di Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

Kabupaten Pangandaran (pemekaran dari Kabupaten Ciamis) terletak di sebelah tenggara Jawa Barat. Atau sekitar 222 km dari selatan Bandung. Sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah tani dan nelayan, oleh kerena itu, dulu pantai ini mendapat julukan sebagai Kota Nelayan Kecil.

Jokowi Cukup Dua Periode

Kami bertiga jongging pagi hari Minggu itu. Saya, Ketua Umum PWI Pusat Atal Depari dan Pemred “Kumparan”, Arifin Asydhad. Sambil bersantap pecal, kami ngobrol asyik dengan Sariyem. Ia mengaku baru-baru ini menerima bantuan uang sebesar Rp300 ribu. Uang dibagikan pada waktu heboh minyak goreng dimainkan mafia.

Sariyem tahu uang itu dari pemerintah, tapi ia tidak akan bersedia memilih jika Presiden Jokowi masih mau lanjut tiga periode. Begitu pun kalau mau perpanjang masa jabatan, satu dua tahun lagi.

Apa alasannya?

“Ya, harus sesuai aturan. Cukuplah Jangan tambah-tambah lagi,” katanya.

Kami bertiga terdiam. Tidak ingin bertanya lagi. Waktunya memang harus kembali ke hotel, bersiap-siap menuju bandara untuk kembali ke Jakarta dengan penerbangan Susi Air pagi itu.

Adakah suara Sariyem itu yang notebene suara rakyat adalah suara Tuhan? Wallahu’alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini