Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar saat diwawancarai wartawan seusai membuka Safari Jurnalistik PWI – Astra Sesi II 2018 di d’Maleo Hotel & Convetion Mamuju, Jumat, 14 September 2018. (Foto: Sarman Shd)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Tampak terhibur benar Hendry Chaerudin Bangun bersama satu rombongan kecil dalam ‘satu kelompok terbang’ dari Jakarta ke Mamuju, Sulawesi Barat, pada penerbangan Jumat siang, 14 September 2018.

Canda Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar (ABM) saat beri sambutan pada acara pembukaan Safari Jurnalistik PWI – Astra Sesi II yang berlangsung di ruang Camar d’Maleo Hotel & Convention Mamuju pada Jumat Sore, 14 September, membuat Hendry yang Sekjen PWI Pusat itu terlihat kerap terkekeh sembari menatap ke arah gubernur ABM yang berdiri di mimbar.

Di sore itu, ABM seolah hendak menumpahkan segala unek-unek dan leluconnya di hadapan sejumlah tamu penting itu. Dari PWI Pusat sendiri ada Sekjen Hendry Ch Bangun, Ketua Bidang Pendidikan dan Pengajar di LPDS Marah Sakti Siregar, serta Widodo Asmowiyoto, dan ibu Taty. Sementara dari Astra Internasional ada Head of Corporate Communication Boy Kelana Soebroto bersama dua kawannya.

Ketua PWI Sulawesi Barat Naskah M. Nabhan dan yang mewakili Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun seolah tahu betul bahwa sambutan pendahulu keduanya haruslah sesingkat mungkin agar sambutan inti gubernur ABM leluasa pakai waktu yang lapang sampaikan banyak hal.

Ternyata betul. ABM bicara hampir satu jam. Meski tak runtut betul tapi cukup banyak hal yang layak jadi konsumsi media atas apa yang disampaikan ABM saat beri sambutan sekaligus membuka safari jurnalistik pada Jumat sore itu.

“Saya melayani siapa saja. 24 jam waktu saya melayani semua warga. Kecuali saat saya mau istirahat, ya, mengertiki’ juga. Kalau mau wawancara, bicara seperlunya saja, singkat-singkat saja. Kan tidak enak kalau saya bilang ‘sudahmi pak’ masih banyak yang lain menunggu. Iya to!” ujar ABM yang disambut tawa sekitar 95 hadirin yang ada di ruangan Camar itu.

Kegaduhan dalam ruangan kian menjadi tatkala ABM sebut dirinya bodoh. Penjelasannya begini. “Kalau hal-hal teknis, ya, bicaralah sama kepala OPD. Jangan semuanya taya ke saya, sedikit-sedikit taya saya. Pasti saya tidak tau semua persoalan, apalagi kalau yang menyangkut teknis. Nanti kalau saya salah, wartawan bilang lagi bodoh itu Gubernur. Ya, mamang saya bodoh, saya kan tidak mungkin tau semua persoalan,” ujarnya yang mengundang sorak-sorai seisi ruangan.

Kepala Dinas Kominfo Sulawesi Barat Muzakkir Kulasse (kiri) mendampingi Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar saat diwawancarai wartawan seusai membuka Safari Jurnalistik PWI – Astra Sesi II 2018 di d’Maleo Hotel & Convetion Mamuju, Jumat, 14 September 2018. (Foto: Sarman Shd)

Yang lebih heboh di saat ABM bilang, menyangkut urusan wartawan, ya kan sudah ada Kominfo Sulawesi Barat. “Makanya saya ajak pak Muzakkir selaku kepala Dinas Kominfo. Pak Muzakkir ini sebetulnya gubernurnya wartawan.” Saat mengucapkan kalimat itu, ABM juga terkekeh. Semua orang tertawa.

Tiga saja kelucuan yang diceritakan ABM telah mewakili dari sekian banyak hal yang ia sampaikan sore itu.

Tapi, ada satu pengakuan yang tak boleh dilupa. Pengakuan itu datang dari Hendry Ch Bangun—Sekjen PWI selama 10 tahun, yang saat ini digadang-gadang sebagai salah satu calon Ketua Umum PWI Pusat periode 2018 – 2023. Apa itu?

“Selama 10 tahun kegiatan Safari Jurnalistik PWI dengan mengunjungi begitu banyak daerah, baru Safari Jurnalistik di Mamuju ini yang dihadiri oleh seorang gubernur. Ini sejarah baru bagi PWI,” kata Hendry Ch Bangun.

Saat makan malam, saya sempat konfirmasi ke pak Hendry Ch Bangun perihal pengakuannya saat ia beri sambutan.

Apa benar, hanya di safari di Sulawesi Barat ini seorang gubernur hadir membuka acara?

“Ooo.. iya. Benar itu. Baru kali ini seorang gubernur mau hadir membuka kegiatan semacam ini. Ini luar biasa bagi PWI Sulawesi Barat karena mampu berkoordinasi dengan baik kepada pemerintah daerah di sini (Sulawesi Barat, red),” aku Hendry saat menjawab pertanyaan saya.

Safari Jurnalistik Ketiga

Selama saya bergabung di PWI Sulawesi Barat, saya sudah mengikuti tiga kali Safari Jurnalistik PWI. Pada 2016, kegiatan semacam ini PWI kerja sama dengan perusahaan Nestle Indonesia. Pada 2017 lalu, PWI kerja sama dengan Dewan Pers Indonesia.

Tahun ini, atau pada 14 September lalu, PWI Pusat datang bersama Astra Internasional. Salah satu perusahaan besar yang telah berumur 61 inilah yang membiayai kegiatan Safari Jurnalistik PWI ini.

Tampak Sekjen PWI Pusat Hendry Ch Bangun bebincang bersama pimpinan Stasiun TVRI Sulawesi Barat seusai pembukaan Safari Jurnalistik PWI – Astra Sesi II 2018 di d’Maleo Hotel & Convetion Mamuju, Jumat, 14 September 2018. (Foto: Sarman Shd)

Tentu jajaran PWI Sulawesi Barat layak bersyukur sebab PWI Pusat tak pernah lupa menempatkan kegiatan semacam ini di Mamuju.

Souvenir Astra untuk setiap peserta berupa selembar kain batik, juga sejumlah bahan bacaan menarik, tentu bukan itu yang utama. Tapi beroleh ilmu untuk tiga materi pokok dalam jurnalisme modern, itu yang penting.

Memang, tidak bisa lagi ditunda, wartawan Indonesia saat ini—pula yang ada di daerah—haruslah Profesional, Berwawasan, dan Beretika. Inilah tema yang diusung oleh PWI Pusat bersama founding Astra Internasional.

Pada Sabtu subuh, 15 September, gelombang pertama telah meninggalkan Mamuju menuju Bandara Tampa’ Padang seterusnya terbang ke Makassar. Gelombang pertama ini adalah 4 ‘orang penting’ PWI Pusat.

Dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin itu, di waktu masih pagi, panitia pelaksana Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Sulawesi Selatan telah menunggu dan akan mengantar pemateri dari pusat ini, sebab di Sabtu sore akan berlangsung pembukaan UKW untuk 3 kelas di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Pada Minggu malam, barulah keempat tamu terhormat kami itu—juga tetamu sejawat kami di Sulawesi Selatan sana—terbang ke Jakarta.

Dari kota Watampone itu, saya sempat dapat kiriman sekali tautan dalam layanan WhatsApp. “Kami sudah tiba di Soppeng,” tulis pak Hendry pada saya.

Di Mamuju, untuk gelombang kedua yang saya maksudkan adalah rombongan mini dari pihak PT Astra Internasional. Saat pamit lebih dulu pada Jumat malam, Boy Kelana sempat bilang, “Besok pagi kami masih mau bertemu dengan sejumlah personil dari perusahaan Astra di Sulawesi Barat. Sabtu siang baru kami terbang.”

Selamat jalan bapak-bapak. Selamat jalan bu Taty—perempuan 71 tahun, yang sudah 50 tahun mengabdi di PWI Pusat.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR