Hj. Maemuna Djud Pance. (Foto: Muhammad Munir)

Bagian II

Oleh: Muhammad Munir (*

MAEMUNA. Ia adalah sosok yang tak bisa diabaikan dalam melisan tuliskan perlawanan dan perjuangannya di masa silam. Maemuna merupakan pejuang yang secara terang-terangan menentang Belanda. Begitu melelahkan, begitu menyiksa. Kendati begitu ia kerap lolos dari maut. Tapi beberapa kali juga ia ditangkap dan disiksa dalam tahanan. Baginya, jiwa dan raganya ia telah hibahkan untuk bangsa dan negara.

Perlawanannya sejak muda di dunia pendidikan dan membela tanah air ia padukan. Tugasnya sebagai guru harus ia tinggalkan untuk ikut bergabung dan menjadi pemimpin salah satu organisasi pergerakan terbesar yang ada di Majene, saat itu.

Tanggungjawabnya sebagai pimpinan gerakan rahasia bersama rekan seperjuangannya di GAPRI 5.3.1 menjadi prioritas. Maka tak berlebihan jika Maemuna kita sematkan gelaran tokoh pendidikan, tokoh wanita pejuang kemerdekaan.

Jika I Calo Ammana Wewang cocoknya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan, maka Maemuna bisa menjadi sosok Pahlawan Revolusi. Terkait jasa jasanya, negara telah memberikan tanda jasa yang sangat mungkin menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional.

Persoalannya adalah pernah tidak pemerintah (baca: pemerintah daerah mengusulkannya) melakukan upaya untuk proses itu? Pertanyaan klasik yang telah menahun tak menemukan jawaban. Padahal selain Maemuna dan Andi Depu, beberapa wanita perkasa yang pernah lahir di Mandar sungguh masih sangat banyak.

Sebutlah misalnya Hj. Oemi Hani, St. Mulyati, St. Ruwaeda Rauf, I Masa (Ibu Seluruh) yang juga menjadi tokoh penting dalam dinamika perjuangan yang terjadi di daerah Mandar. Tak ketinggalan, St Johrah Halim, Kepala Sekolah Rakyat Puteri Tanjung Batu.

St. Johrah Halim ini merupakan satu-satunya wanita yang ikut memprakarsai dan memfasilitasi berdirinya organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI). PRI ini lahir dalam Rapat Umum Merah Putih pada 16 September 1945, yang merupakan gagasan bersama Andi Tonra, Abdul Gani Saleh, Abd. Wahab Anas, Abd. Haliem A.E, Andi Gatiye, Baharuddin dan M. Dahlan Cadang (Halang).

Deretan nama Srikandi Mandar di atas adalah sosok pejuang yang rela mengobankan pikiran, jiwa dan harta mereka untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di Majene, muncul seorang wanita yang begitu berani, cerdas, dan kuat yang menjadi tokoh sentral perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kembali ke Maemuna.

Sejak masih sekolah, ia memang sudah mencium gelagat aneh yang membuat jiwanya berontak. Keanehan itu mulai dirasakan saat masih sekolah di CVO. Pada saat itu, ia merasa ada ketidakadilan perlakuan antara teman sekolahnya. Mereka bersama dengan teman-teman yang berasal dari masyarakat biasa memperoleh berbagai tekanan dan perlakuan kurang adil dibanding dengan temannya yang berasal dari golongan pegawai pemerintah kolonial.

Jangan heran ketika dewasa—sekitar tahun 1935—Maemuna mulai ikut dalam sebuah organisasi sosial, didirikan oleh H. Muh. Syarief, yang bernama PRAMA. Berkat usulannya, pada tanggal 24 Agustus 1945, nama PRAMA diubah menjadi PERMAI.

Organisasi PERMAI ini berfungsi ganda, yaitu: (1) Perjuangan Merah Putih yang bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan untuk membela Proklamasi 17 Agustus 1945 yang diperankan oleh H. Muh. Jud Pance cs. (2) Segi sosial, ekonomi dan budaya tetap diperankan oleh H. Muh. Syarief cs dengan jalinan kerja sama yang erat kepada Ketua Umum PERMAI.

Pada saat itu ditunjuk Abdul Gani Ahmad sebagai ketua umum dengan ketentuan harus masuk di hutan. Namun Abdul Gani Ahmad tetap memilih menetap di kota Majene dengan alasan pengurusan di dalam kota tidak kalah penting, maka jabatan ketua umum dikembalikan kepada Maemuna. Secara umum perubahan nama GAPRI 5.3.1 dibentuk pada tanggal 2 November 1945.

Berpijak dalam suatu organisasi kelaskaran, Maemuna memulai kehidupan politisnya yang tentu mengandung berbagai resiko sehubungan dengan makin meluasnya pengaruh NICA di daerah Majene.

Dalam kegiatan GAPRI 5.3.1, Maemuna mengorganisasikan para pejuang baik dalam latihan kemiliteran, persediaan makanan, persediaan senjata maupun turun dalam kancah pertempuran melawan Belanda.

Pada masa perang kemerdekaan ia bergabung dengan pemuda lainnya dalam melawan Belanda dan berusaha menghimpun kaum wanita, diantaranya Sitti Habibah, Sitti Fatimah, Jaizah, Hadara, Sitti Maryam, dan lain-lain. Bersambung

MUHAMMAD MUNIR
*) Penulis adalah pegiat Literasi dan Rumah Baca di Provinsi Sulawesi Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR