Kenali ‘Pemikiran’ BI Membangun Ekonomi Provinsi Sulawesi Barat

366

TRANSTIPO.com, Mamuju – Di Bawah ini adalah pemaparan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat, Budi Sudaryono dalam acara sambutan pembukaan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2019 di Ballroom d’Maleo Hotel & Convention, Mamuju, Kamis, 5 Desember 2019.

Pertama-tama, mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, karena hanya atas rahmat dan perkenan-Nya kita semua dapat dipertemukan pada pagi ini dalam keadaan sehat, pada “Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019” di Mamuju, Sulawesi Barat. Kami menghaturkan terima kasih atas kehadiran Ibu Wakil Gubernur Sulawesi Barat, dan seluruh undangan. Kehadiran Bapak Gubernur dan para hadirin menunjukkan tekad kita semua untuk menyatukan derap langkah ke depan guna membangun Sulawesi Barat yang Maju dan Malaqbi’ dengan perekonomian yang makmur, sejahtera, dan berkeadilan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah dan instansi lainnya, perbankan, korporasi, pelaku UMKM, dan perorangan yang telahberkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi di Sulawesi Barat. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengungkapkan apresiasi kami kepada para mitra kerja yang telah mendukung pelaksanaan tugas-tugas Bank Indonesia.

Dalam kesempatan yang baik ini, perkenankan kami menyampaikan evaluasi kinerja ekonomi tahun 2019 serta prospek ekonomi dan arah kebijakan Bank Indonesia tahun 2020 yang kami rangkum dengan satu tema “Sinergi, Transformasi, dan Inovasi Menuju Indonesia Maju”. Tema yang menurut kami tepat sebagai strategi dalam menghadapi tantangan eksternal dan internal untuk memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat.

Sebagaimana pidato Presiden Republik Indonesia, Bpk. Joko Widodo, dalam kesempatan pertemuan IMF – World Bank dan Pertemuan Bank Indonesia tahun 2019, winter is coming, kiasan yang tepat untuk menggambarkan ekonomi global yang sedang tidak ramah. Tensi perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat berdampak pada perlambatan ekonomi global, tidak terkecuali Indonesia.

Ketahanan domestik diuji khususnya regional yang bertumpu pada sektor pertanian beserta industri komoditas. Permintaan negara importir tidak sekuat dahulu berdampak pada penurunan volume perdagangan global. Akibatnya harga komoditas menjadi tidak kompetitif. Dari sisi korporasi, penundaan investasi lanjutan merupakan langkah konkrit dalam mengantisipasi ketidakpastian ini.

Selanjutnya, transmisi ini mengalir pada daya beli masyarakat yang menurun. Imbal hasil kegiatan pertanian tidak optimal mendorong sikap kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja. Kinerja perdagangan komoditas dan retail pun melesu. Secara kumulatif, kondisi ini tergambar dari dua indikator makro. Pertumbuhan ekonomi melambat serta inflasi yang cukup rendah.

Ekonomi dunia ke depan diperkirakan juga belum pulih sempurna. Volume perdagangan tahun 2020 akan tumbuh positif setelah terkoreksi pada tahun ini. Peluang ini diharapkan didukung oleh perbaikan harga komoditas dalam level harga yang optimal. Meskipun demikian, IMF memperkirakan dampak perlambatan masih akandialami oleh Tiongkok dan India sebagai dua negara importir komoditas Sulbar. Pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut tidak akan setinggi perkiraan sebelumnya.

Hingga triwulan III 2019, capaian kumulatif tercatat 4,89% (ctc) lebih rendah jika dibandingkan tahun 2018, bahkan berada dibawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04%.

Tantangan pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak jauh berbeda dari perspektif global. Harga komoditas yang tidak kompetitif serta produksi komoditas yang tidak optimal merupakan tantangan utama tahun ini.Kondisi ini berdampak pada sektor lanjutannya baik perdagangan maupun industri. Daya tarik investasi perlu diperkuat sebagai salah satu penahan laju perlambatan. Hal ini ditunjukkan dengan realisasi investasi yang tidak cukup optimal karena sikap swasta yang memilih menunda investasi. Peran pemerintah juga perlu didorong melalui peningkatan kemandirian fiskal dan perbaikan pola belanja.

Ekonomi Sulawesi Barat bertumpu pada sektor pertanian. Jika ditelusuri lebih lanjut, komoditas kelapa sawit merupakan mesin pertumbuhannya. Meskipun demikian, isu produktivitas dan harga yang merupakan faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini telah membuktikan bahwa urgensi pengembangan sektoral lain sangat diperlukan. Selain itu, produktivitas yang kurang optimal juga ditemukan pada komoditas lain seperti kakao dan padi.

Secara umum, sejumlah tantangan internal yang perlu di atasi meliputi mekanisasi pertanian, kelembagaan, pola tanam, proses paska tanam dan lahan non produktif dapat mengganggu upaya peningkatan produktivitas.

Keunggulan komparatif daerah yaitu garis pantai sekitar ±752 km turut menjadikan Sulawesi Barat sebagai salah satu penghasil ikan tuna terbaik di Kawasan Timur Indonesia. Namun, secara realita, aktivitas ekspor komoditas ikan tidak dilakukan secara mandiri. Tantangan produksi dan distribusi merupakan isu utama pengembangan sektor perikanan.

Dari sisi pengeluaran, dampak perlambatan ekonomi ini tergambar dari penurunan optimisme Rumah Tangga. Masyarakat cenderung berhati-hati dan menyimpan sebagian penghasilannya. Korporasi menahan investasi yang semula dilanjutkan pada tahun ini. Tantangan peningkatan nilai tambah perlu diatasi melalui orientasi proses olah menuju end use product sehingga memiliki daya saing yang kuat.

Perlambatan ekonomi Sulawesi Barat menyebabkan persepsi optimis masyarakat yang menurun. Masyarakat memilih berjaga-jaga untuk menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi.

Diversifikasi investasi juga menjadi tantangan dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi. Investor masih diarahkan kepada motor pertumbuhan ekonomi yaitu aktivitas perkebunan dan proses olahnya. Dari sinilah, upaya perluasan investasi dapat diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi lainnya

Rentannya kegiatan perkebunan berkaitan pada dua hal yaitu nilai tambah dan demand. Rantai nilai komoditas berada pada tingkat dasar. Perdagangan komoditas masih belum diolah secara optimal sehingga tidak memiliki daya saing produk.

Dari sisi demand, perlambatan ekonomi menyebabkan penurunan volume impor mitra dagang utama yaitu India dan Tiongkok. Hal ini dipengaruhi kebutuhan bahan baku yang tidak meningkat sebagai antisipasi perlambatan ekonomi global.

Peran Pemerintah dapat hadir dalam menahan laju perlambatan ekonomi. Kuncinya ada dua yaitu perbaikan pola belanja yang selama ini berulang, serta peningkatan kemandirian fiskal. Ketergantungan dana perimbangan sebagai sumber pembangunan daerah memerlukan tindaklanjut penguatan dari sisi PAD melalui implementasi NPWP lokal dan sumber pajak lainnya.

Sebagaimana benchmarking wilayah lain, sejumlah wilayah telah menetapkan peraturan tersebut hingga level Pergub.

Fluktuasi harga yang diukur dari inflasi terpantau rendah dan stabil. Hal ini tidak lepas dari dampak perlambatan ekonomi yang mempengaruhi daya beli masyarakat. Bahkan, pada dua tahun terakhir, realisasi inflasi Sulawesi Barat berada di bawah rentang target inflasi nasional.

Meskipun tekanan inflasi terpantau rendah, pengendalian inflasi dapat difokuskan pada dua kelompok yaitu ikan segar dan bumbu-bumbuan. Keduanya secara garis besar memiliki pengaruh yang kuat dalam fluktuasi harga.

Jika ditinjau lebih lanjut, pengendalian inflasi kelompok ikan segar dapat menitikberatkan pada ikan cakalang, layang, dan ikan kembung. Sedangkan, komoditas cabai dan bawang merah merupakan kunci utama pengendalian harga kelompok hortikultura.

Sistem keuangan Sulawesi Barat terpantau terkendali. Aktivitas penghimpunan dana terpantau tumbuh kuat sejalan dengan persepsi masyarakat dalam mengantisipasi ketidakpastian ekonomi. Perbankan Sulawesi Barat juga melakukan kebijakan akomodatif melalui seleksi penyaluran dana yang berisiko rendah dalam rangka menjaga kualitas.

Kondisi ini tergambar dari indikator risiko stabilitas sistem keuangan tahun 2019. Kinerja kredit yang tumbuh relatif stabil didukung nilai NPL dan LaR yang terjaga. Meskipun demikian, tantangan pengumpulan dana juga menjadi isu dalam rangka menjaga nilai Loan to Deposit Ratio (LDR).

Ekonomi Sulawesi Barat ke depan masih tumbuh positif dengan arah perkiraan tumbuh moderat. Ekonomi kumulatif tahun 2019 diperkirakan tumbuh sekitar 4,7% – 5,1% (yoy) melambat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 6,23% (yoy) sejalan dengan dampak aktivitas pertanian yang melambat. Kondisi ini menggambarkan urgensi new source of growth (sumber pertumbuhan baru) dalam rangka optimalsiasi pertumbuhan ekonomi.

Namun, optimisme penguatan pertumbuhan tahun 2020 sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan perbaikan kondisi domestik. Volume perdagangan Sulawesi Barat diperkirakan tumbuh dengan kisaran 4,8 – 5,2% (yoy).

Dari sisi inflasi, Bank Indonesia memandang inflasi Sulawesi Barat akan stabil dan terjaga. Pada tahun 2019, inflasi Sulawesi Barat akan mencapai 1,0 – 1,4% (yoy) menurun dibandingkan tahun sebelumnya 1,80% (yoy). Ke depan, inflasi Sulawesi Barat diperkirakan akanmenemui tantangan yang tidak mudah. Sejumlah kebijakan yang berasal dari Pemerintah Pusat dan tantangan domestik yaitu fluktuasi harga hortikultura dan ikan segar perlu diantisipasi melalui Strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Komunikasi Efektif, dan Kelancaran Distribusi)

Bank Indonesia menilai adanya sejumlah peluang akselerasi pertumbuhan ekonomi. Peningkatan sektor pertanian dapat berjalan optimal sejalan dengan upaya perbaikan internal dan fenomena El Ninoyang tidak akan mengganggu produksi tahun 2020. Kinerja sektor industri pengolahan dapat terus didorong melalui upaya peningkatan produk turunan menjadi end use product.

Potensi perikanan juga sangat prospektif. Wilayah perikanan Sulawesi Barat masih dapat terus didorong untuk meningkatkan volume produksi. Rencana pemindahan ibu kota berpotensi mendorong daya tarik investasi Sulawesi Barat sebagai provinsi penyangga.

Sektor Pariwisata dapat dikembangkan sebagai suplemen ekonomi Sulawesi Barat. Hal ini sejalan dengan peluang overtourism pada destinasi seperti Bali. Pengembangan sektoral ini juga merupakan quick win solution dalam optimalisasi pertumbuhan dan isu defisit transaksi berjalan.

Sebagai bentuk advisory kepada Pemerintah Daerah, Bank Indonesia telah menyusun sejumlah rekomendasi kebijakan yang diarahkan pada 3 sektor yaitu perkebunan, perikanan dan pariwisata.

Perkebunan kelapa sawit dapat berfokus pada peningkatan produktivitas dan hilirisasi kelapa sawit. Hal ini untuk mengatasi tantangan nilai tambah produk yang rendah. Pengembangan produk kelapa sawit dapat diarahkan pada tiga jenis yaitu industri oleofood, oleochemical, dan biofuel. Sejumlah langkah strategis yang dapat ditempuh adalah sertifikasi petani, replanting lahan yang kurang produktif, pembangunan infrastruktur pendukung, dan optimalisasi lahan sela perkebunan.

Kakao sebagai salah satu komoditas unggulan Sulawesi Barat dapat kembali Berjaya dengan orientasi intensifikasi lahan. Tantangan lahan yang sebagian besar telah tua dan tidak produktif dapat menjadi fokus utama melalui penggunaan bibit unggul dan standarisasi tanam. Pendampingan petani secara intensif diharapkan dapat mendorong kompetensi petani.

Sektor perikanan dapat bertumpu pada dua subsektor yaitu perikanan tangkap dan budidaya. Fokus pengembangan sektoral dapat diarahkan pada produksi dan pengolahan. Dari sisi produksi, dukungan infrastruktur pelabuhan, pabrik es dan pengolahan diharapkan dapat mendukung aktivitas penangkapan ikan. Komunikasi secara intensif kepada kelompok nelayan diharapkan dapat memperbaiki jalur distribusi. Sejalan dengan hal tersebut, perikanan budidaya dapat diperkuat melalui pendampingan secara intensif dan penggunaan bibit ikan yang berkualitas.

Potensi wisata sebagai suplemen ekonomi juga dapat dilanjutkan melalui perbaikan 3A yaitu amenitas, aksesibilitas dan atraksi yang diharapkan dapat memperkuat branding wilayah sebagai destinasi wisata unggulan. Pengembangan sektoral diharapkan dapat memberikan transmisi pertumbuhan yang cepat untuk mendorong perekonomian Sulawesi Barat.

Sebagai penutup, Sulawesi Barat telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global dengan stabilitas yang terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut. Ke depan, prospek ekonomi Sulawesi Barat akan lebih baik pada tahun 2020. Kuncinya adalah sinergi kebijakan ekonomi Sulawesi Barat antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia dan berbagai otoritas terkait. Optimisme dan persepsi positif perlu terus kita perkuat untuk menyongsong masa depan ekonomi Sulawesi Barat yang lebih baik.

Dalam kesempatan yang baik ini, ijinkan kami menyampaikan bahwa pada acara ini akan dilakukan sharing pengembangan pariwisata dengan narasumber Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang dalam ini diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi. Beliau akan menceritakan success story pengembangan pariwisata di Banyuwangi. Selain itu, peneliti pariwisata dari Pusat Studi Pariwisata UGM juga akan memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan bersama Bank Indonesia dalam rangka optimalisasi wisata Sulawesi Barat.

Akhir kata, semoga event ini bermanfaat dan mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat menuju Provinsi yang Maju dan Malaqbi.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR