David Bambalayuk (kedua kiri) bersama Kapolres Mamasa (kedua kanan) dan Marthinus Tiranda (kanan), di Kantor Polda Sulawesi Barat, Mamuju, Rabu, 11 Juli 2018. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Pilkada serentak nasional tahap ketiga telah usai—meski tahapannya belum berakhir benar. Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, sebagai salah satu daerah di Indonesia yang melaksanakan Pilkada pada 27 Juni lalu, bisa dibilang terselenggara dengan sukses.

Meski pada Pilkada Mamasa 2018 itu hanya diikuti oleh kontestan satu pasangan calon yakni Ramlan Badawi–Marthinus Tiranda (Harmonis), dan karena itu pasangan ini hanya melawan Kotak Kosong—sebutan formalnya Kolom Kosong, yang populer disingkat KOKO.

Masa-masa Pilkada Mamasa yang telah berlalu itu dimenangkan oleh pasangan Harmonis. Lalu apa yang bisa dikisahkan tentang KOKO?

Adalah David Bambalayuk. Dia seorang lelaki Mamasa, 42 tahun. Pemuda Mamasa ini tumbuh dari dunia pendidikan. Disebut begitu sebab setamatnya di SMA Negeri 1 Polewali pada 1995 silam, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Teknik Perkapalan Universitas Hasanuddin (Unhas, 1995-2000), Ujungpandang, Sulawesi Selatan.

Dari rekam jejaknya yang diketahui laman ini, David adalah pemuda Mamasa yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia berguru tak kenal waktu. Selain suntuk menimba ilmu di bangku kuliah, lelaki berkulit agak gelap berpostur tinggi ini, pun senang mengelana kepada sejumlah tokoh-tokoh pendidikan di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu untuk memperluas wawasan.

Jadilah David sebagai seorang intelektual muda Mamasa di perantauan yang disegani—untuk tidak menyebut dirindukan warga sekampungnya di Mamasa.

Dari tinggi badannya yang secara kasat tampak kekar, dipadu dengan model rambutnya yang cepak seolah menyiratkan David selaksa aparat pemegang senjata.

Dari kampus Unhas itulah, David mulai merasakan ada aroma perjuangan leluhurnya yang belum tuntas. Apa itu? Pembentukan Kabupaten Mamasa.

Proses perjuangan ini telah pernah dimulai seiring hadirnya daerah pemekaran baru di jazirah Mandar pada 1958 silam. Dalam sejarah terang bahwa pada 1960 terbentuk tiga daerah tingkat dua (Dati II), yakni Dati II Polewali Mamasa, Dati II Majene, dan Dati II Mamuju.

Daerah tingkat dua ini adalah daerah pemekaran baru dalam kandungan wilayah sejarah Swatantra Mandar. Di masa kolonial Belanda lebih populer disebut Onder Afdeling.

Dari 4 Onder Afdeling yang kemudian dibentuk jadi 3 Dati II, dengan penjelasaan yakni Onder Afdeling Mamasa dan Onder Afdeling Polewali (menjadi Dati II Polewali Mamasa), Onder Afdeling Majene (Dati II Majene), dan Onder Afdeling Mamuju (Dati II Mamuju).

Lantaran digabungkannya Onder Afdeling Mamasa dan Onder Afdeling Polewali dalam satu Dati II yakni Dati II Polewali Mamasa inilah salah satu faktor ‘penyulut’ perjuangan warga pegunungan hendak berpisah sejak tempo dulu itu.

Memori sejarah inilah yang menyemayam di relung dan benak David. “Ini pekerjaan rumah kita bro. Inilah panggilan sejarah yang harus kita tuntaskan,” kata David Bambalayuk kepada Sarman SHD, sekian tahun lalu.

Jejak David dalam pelibatan dirinya secara total dalam barisan perjuangan pembentukan Kabupaten Mamasa—dalam periode perjuangan generasi yang ke sekian kalinya—yang dimulai pada momentum reformasi 1998 lalu, adalah panggilan pikiran, hati, dan ideologi politiknya.

Dalam pemekaran Mamasa, ia dipercaya selaku Ketua Presidium LKPM Massumpa dan Anggota Delegasi Mamasa ketika perjuangan Mamasa telah bergulir di Jakarta (2001). Tugas David di sini adalah memantapkan lobi lintas lembaga, terutama ke Kemendagri dan DPR RI.

Bahwa kemudian David dipercaya selaku bagian penting panitia dalam barisan perjuangan kala itu, ia hanya bilang, “Posisi itu tidak penting bro. Salah satu cita-cita kita di barisan pemuda intelektual Mamasa adalah kabupaten di pegunungan harus terwujud. Saya pikir itu yang terpenting.”

Masuk Parpol dan KOKO

Politik David benar-benar demi Mamasa. Nyaris selama waktunya sejak ia mengecap sarjana lengkap dari kampus “merah” di Makassar itu, ia persembahkan total untuk Mamasa.

Setelah Kabupaten Mamasa terwujud pada 11 Maret 2002, David malah tak latah ikut memegang bendera politik kepentingan. Apa maksudnya? Ia justru meninggalkan Mamasa untuk melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Makassar.

Lantaran ia rasai bahwa ongkos dalam berjuang di dunia pendidikan teramat berbiaya tinggi, ia kemudian merelakan diri menjadi tenaga pamong di Pemkab Mamasa—yang baru.

Berkarir sebagai ASN, David terus gelisah. Mewujudkan lanjutan cita-cita perjuangan Mamasa tidak bisa diayun jika tetap memakai baju besi (baca: ASN).

Ia kemudian tinggalkan dunia pamong, dan pada awal 2008 lalu, ia memilih bergabung ke salah satu partai politik, Partai Bintang Reformasi (PBR), yang sekaligus menjadi ketua partai ini di Kabupaten Mamasa.

Sebelum di partai ini, David telah lebih dulu mengenyam asam garam di dunia politik melalui partai Demokrat, hanya selang setahun setelah Mamasa jadi kabupaten.

Langkah David cukup berani, seperti hal keberaniannya begitu tidak populer dan nasibnya terkatung-katung selama proses perjuangan penuntutan Kabupaten Mamasa dulu.

Dari PBR itulah yang mengantar David Bambalayuk meraih kursi di parlemen Mamasa pada Pemilu 2009. Sejak itulah David baru terus menghiasi politik formal Mamasa.

Setiap ajang Pilkada, namanya tak pernah hilang dalam panggung pertarungan. Meski ia selalu kalah—entah sebelum bertanding atau setelah ia benar-benar kalah tanding di panggung nyata dalam politik formal itu.

David berbelok haluan politik. Lima tahun lalu ia menerima amanah untuk memegang partai Hanura Mamasa—hingga kini. Dan, dengan partai ini juga kembali mengantar David duduk sebagai legislator untuk periode lima tahun yang kedua.

Penghargaan untuk David

Pilkada Mamasa 2018 ini melambungkan namanya. Tentu ia tak sendiri, tapi sebagai Ketua Laskar Kotak Kosong (KOKO)—lawan tanding Harmonis dalam Pilkada Mamasa—David kemudian dielu-elukan sebagai pejuang tak kenal akhir masa.

Ia tampil begitu garang di depan dan belakang KOKO. Meski kemudian KOKO kalah dari Harmonis, tapi David dianggap sebagai pejuang demokrasi yang menghantar perlawanan rakyat Mamasa secara sehat, demokratis, dan bermartabat.

Pilkada memang telah usai, dan barisan KOKO kalah, tapi seolah tidak bagi David. Oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Barat menilai perjuangan David bersama KOKO adalah sebuah model perjuangan rakyat yang sejati namun berjalan di atas koridor hukum dan demokrasi yang santun, menjunjung tinggi asas-asas berbangsa dan bernegara.

Karena itulah, pimpinan Kepolisian daerah ini, dalam hal ini Kapolda Sulawesi Barat mengganjar David Bambalayuk dengan sebuah penghargaan. Ia dinilai telah berpartisipasi membantu tugas Polri menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat pada Pilkada 2018 di Kabupaten Mamasa.

Piagam ini diserahkan di Mamuju pada Rabu, 11 Juli 2018, oleh Kapolda Sulawesi Barat Brigjen Pol. Baharuddin Djafar.

“Saya mendapatkan penghargaan ini karena kerja keras memperjuangkan keadilan demokerasi di Kabupaten Mamasa. Sekalipun keinginan masyarakat begitu kuat untuk memperjuangkan hak demokrasinya, tapi mereka bisa dikendalikan untuk berjuang secara damai tanpa menimbulkan gesekan dalam masyarakat,” jelas David kepada Frendy Christian dari transtipo.com.

Karena itu, ia tambahkan, saya selaku pimpinan Laskar Kotak Kosong adalah bagian dari masyarakat mengapresiasi penghargaan dari Polda Sulawesi Barat ini.

“Lembaga ini menghargai kinerja kami dalam menegakkan demokrasi yang baik tanpa menimbulkan keresahan dan gesekan-gesekan sosial dalam masyarakat Kabupaten Mamasa,” tambah David.

Di Mamasa, dalam perbincangan melalui layanan WhatsApp, dalam satu pejelasan David, ia menulis, “Tentu saya akan tetap jadi pengontrol pemerintah sebagai Anggota DPRD Mamasa supaya berada pada jalur yang benar, dan membangun Mamasa dengan baik.”

FRENDY CHRISTIAN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR