TOMI LEBANG di pesawat pribadi, Jakarta, saat hendak pulang Lebaran ke Makassar, Sulawesi Selatan, Mei 2021.

Catatan TOMI LEBANG

AWAL tahun 80-an, saya lupa persisnya. Saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar Inpres Mambi. Sekolah kami yang sederhana menempati sepetak lahan basah di dekat pojok lapangan sepakbola desa, di kaki bukit Manta.

Sederhana, karena ruang-ruang kelasnya masih beralas tanah, bahkan bangkunya dari batang-batang bambu yang ditautkan dengan jalinan ikatan rotan.

Saat duduk di kelas satu, sekolah ini belum menamatkan murid, kelas tertinggi barulah kelas lima.

Pekarangannya untuk upacara bendera, senam pagi dan bermain, ditumbuhi belasan pohon akasia. Di luar pagarnya, lapangan bola Mambi membentang, di kejauhan Gunung Pepana menjulang.

Hari-hari sekolah berjalan rutin, hening, dingin. Sampai suatu siang, ketika sejumlah orang dari kecamatan dan kantor polsek datang ke sekolah. Guru-guru menemui mereka.

Saya ingat seorang pejabat bidang pendidikan di kecamatan yang dikenal dengan nama Papa Ronal kemudian membuat benderang keriuhan kecil pagi itu. Ia membawa kabar asing: tiga hari lagi, helikopter akan datang ke Mambi. Pesawat itu akan mendarat di lapangan bola di luar pagar sekolah kami. Anak-anak sekolah dan guru-guru melongo, nyaris tak percaya.

Bagaimana mungkin? Puluhan tahun Indonesia merdeka, mobil saja belum sampai di kampung ini. Ya, kappa’ – kami tak punya kosa kata untuk pesawat terbang, maka menyebutnya dengan kapal sahaja – akan turun di luar halaman sekolah. Seorang kawan SD, anak orang Bugis, memperjelas kabar itu. Kappala’ luttu’ (bahasa Bugis, kapal terbang) akan datang dari kota.

Hari itu terasa panjang.

Tak sabar rasanya melihat helikopter mendarat di depan mata. Ada seorang anak yang bergegas ke perpustakaan dan mencari buku dengan halaman bergambar helikopter dan menunjukkannya ke kawan se-SD. Kami berkerumun.

Tiga hari lagi.

Esoknya, masih pagi benar, kesibukan menyambut kedatangan helikopter sudah terasa. Seantero desa sudah mendengar kabar itu.

Ketika beberapa petugas Polsek Mambi datang dengan segulung kain berwarna merah ke lapangan bola, puluhan orang mendekat dengan rasa ingin tahu. Petugas membentang dua helai kain merah itu tepat di tengah lapangan, membentuk tanda silang. Helipad. Di sampingnya, sang petugas menancapkan tiang kayu yang diujungnya sebentang kain berbentuk layangan kerucut sebagai penanda arah angin. Windsock. Kami berkerumun di pagar sekolah memandang kesibukan pagi itu dari jauh.

Hari kedua, Papa Ronal datang lagi.

Kali ini, para murid dibariskan di halaman sekolah. Papa Ronal resmi menyampaikan kabar itu. Helikopter akan datang membawa pejabat tinggi, Gubernur Sulawesi Selatan Ahmad Amiruddin akan berkunjung ke Mambi. Ya, kunjungan ke daerah terpencil yang tak terjangkau kendaraan bermotor.

Saya ingat benar wejangannya. “Jika helikopter akan mendarat, jangan sekali-kali mendekat. Daun-daun akasia di halaman ini pun akan rontok oleh angin yang dikibaskan baling-baling pesawat,” katanya.

Kami semua melongo. Di saat yang sama, sekelompok orang sedang membersihkan area sekitar pendaratan, sebagian menebas ranting pohon yang menjulai melewati pinggiran lapangan.

Hari-H tiba.

Masih pagi benar, tapi orang-orang yang menunggu helikopter telah bergegas. Camat Mambi yang berkumis lebat, Ilyas Latief, sejak dinihari mondar-mandir dengan kudanya yang gagah dan galak, dari kantor camat ke ruang pertemuan. Gedung pertemuan masyarakat Mambi di sisi pasar telah bersolek. Catnya baru. Ruangannya yang biasanya berdebu telah tertutup kain. Mimbar kayu masjid dipinjam untuk tempat berpidato, pita warna-warni yang biasanya untuk acara kawinan, telah dibentang pula di singkap depan gedung. Oh ya, dan segulung kain putih juga dibentangkan hingga ke pekarangan sebagai permadani buat Tuan gubernur.

Seekor sapi, puluhan ekor ayam kampung, pagi itu telah dipotong untuk hidangan bagi rombongan tamu agung. Ibu-ibu desa memasak aneka jenis hidangan di rumah Parengnge’ Mambi, tepat di seberang gedung pertemuan.

Di lapangan bola yang hanya berjarak 200 meter dari gedung pertemuan, ratusan orang telah berkumpul di luar garis lapangan. Polisi, pamong praja, dan juga anak muda kampung yang berseragam Pramuka memegang tongkat dan menjagai setiap jengkal sisi lapangan.

Saya dengar mereka membentak seseorang yang menyalakan rokok. Pejabat desa dan keluarganya boleh berdiri lebih dekat.

Matahari naik, sinarnya muncul dari balik punggung Bukit Pepana. Setiap hari, pabila sinar matahari telah lurus dari balik bukit di timur desa ini, jam telah menunjukkan pukul 10 pagi.

Dan, momen itu pun tiba.

Mula-mula seperti desingan, lalu suaranya membesar. Menggelegar. Sosoknya terlihat tiba-tiba di angkasa di punggung Pepana. Helikopter itu seolah keluar dari balik halimun, berputar ke ujung desa lalu perlahan mendekat dan mendarat di luar bentangan kain merah penanda helipad.

Hanya sesaat. Ketika baling-baling helikopter belum lagi berhenti berputar, pintunya telah membuka. Dan sosok Gubernur Ahmad Amiruddin pun muncul. Senyumnya mengembang. Ia menyalami Ilyas Latief (mantan Camat Mambi), kepala desa, kepala polisi, kepala sekolah.

Ternyata ikut pula di helikopter itu, Bupati Polmas Said Mengga yang bahkan belum pernah ke Mambi sebelumnya. Lalu sesosok pria paruh baya ikut turun. Sosoknya menarik perhatian. Rambutnya putih keperakan. Tak seorang pun tahu siapa gerangan orang ini.

Gubernur, Bupati, dan Tuan Rambut Perak kemudian berjalan diiringi pejabat kecamatan dan desa menuju gedung pertemuan. Tak lama ia di sana, mungkin tak lebih dari satu jam. Ia bahkan tak sempat makan siang, mencicipi hidangan daging sapi, ayam, dan aneka buah hasil bumi yang dipersiapkan semenjak dinihari. Hanya ada pidato-pidato menjanjikan dari Bupati Said Mengga dan wejangan kunci dari Gubernur Sulsel, Ahmad Amiruddin.

Saya tak menyimak isi pidato, mungkin juga orang-orang kampung lainnya. Yang saya tahu, rasa penasaran merebak di orang desa kami, siapa gerangan Tuan Rambut Perak yang datang bersama gubernur?

Pertanyaan itu tak terjawab sampai helikopter yang membawa sang gubernur kembali mengangkasa, pergi bersama bupati, Tuan Rambut Perak, dan segenap janji-janji.

Entah siapa yang mengembuskan kabar, orang kampung percaya, Tuan Rambut Perak adalah orang sakti, ia dukun yang menjaga marwah sang gubernur. Lalu lama kelamaan, cerita tentang Tuan Rambut Perak menguap bersama waktu.

*****

TAHUN 1999 di Kota Makassar. Saya, bersama dua sahabat saya, Hamid Awaludin dan Aidir Amin Daud makan siang bersama mantan gubernur, Profesor Ahmad Amiruddin di kediaman beliau di kompleks Bukit Baruga, di kawasan Antang. Duduk di meja makan, selain Ahmad Amiruddin, juga istrinya Rosani Amiruddin (almarhumah).

Sembari bercakap-cakap, memandang raut wajah Ahmad Amiruddin, ingatan saya berputar ke masa silam, ketika tokoh yang makan siang bersama saya ini, datang ke desa saya dengan segenap pesonanya.

Duhai waktu dan jarak.

Kesempatan itu tak mungkin untuk saya lewatkan. Saya bertanya tentang siapa gerangan Tuan Rambut Perak, pria paruh baya yang datang bersamanya saat itu, yang kami percaya sebagai orang sakti.

“Itu Pak Salahuddin, Direktur Perusahaan Daerah. Saya perlu bawa dia siapa tahu ada yang bisa dilakukan untuk daerah terpencil seperti Mambi.”

Bersantap bersama mantan gubernur Ahmad Amiruddin siang itu sungguh nikmat. Ikan bakar dengan sambal yang tak terlalu pedas. Dan nikmat yang lengkap, karena saya telah beroleh jawaban tentang identitas si Tuan Rambut Perak.

Selamat jalan Profesor Ahmad Amiruddin.

TINGGALKAN KOMENTAR