Melayani Setulus Ibu, Kerja Belum Usai

1405
BUPATI MAMUJU, HJ. ST. SUTINAH SUHARDI, SH, M.Si (FOTO: ISTIMEWA)

Perspektif pemimpin Perempuan: rasa keIbuan dalam ‘rahim’ Pemerintahan

TRANSTIPO.com, Mamuju – Mentari pada Minggu petang di bulan April masih menyilau cerah di bumi Mamuju. Di hari libur ini tak ada aktifitas kantor. Lantaran Hari Besar RA Kartini tepat di hari Minggu, 21 April, jadilah Pemkab Mamuju merayakannya di hari libur itu.

Seusai acara, Bupati Mamuju Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH, M.Si berjalan ke mobilnya. Ia memakai kebaya. Di tangan kirinya tampak mengempit karangan bunga: bunga tanda perjuangan emansipasi Indonesia.

Sebelum berlalu pergi, dibukanya kaca jendela mobil. Ia merogoh isi tasnya dan memanggil petugas kantor. Sejumlah lelaki berseragam kantor Pemkab Mamuju mendekatinya. Kepada mereka tampak Sutinah menghadiahi bawahannya itu lembaran rupiah. Sejurus dengan itu ia berlalu ke peraduan di bukit Sapota—Rumah Jabatan Bupati Mamuju.

Sosok Mungil Berhati Besar

Tahun 1984. Kolonel (Purn.) Atiek Soetedja telah memasuki tahun kelima memimpin Kabupaten Mamuju. Dari Mamuju, perwira Atiek kembali berdinas di habitat lamanya: kesatuan militer TNI AD di Sulawesi.

Di Makassar, Sulsel, kala itu Harsinah Suhardi sedang mengandung. Tepat 7 Maret 1984 ibu Harsinah melahirkan. Suara tangis sosok perempuan memecah keheningan. Harsinah yang masih terbaring lunglai tampak senang melihat anak pertamanya itu. Suhardi Duka pun demikian.

Bayi mungil itu kemudian diberi nama Sitti Sutinah, akrab disapa Thina. Tantangan hidup Suhardi Duka kian bertambah pascakelahiran anak pertamanya. Thina masih kecil ketika kedua orangtunya memutuskan kembali ke Mamuju, kampung tercinta keluarga besarnya.

Thina tumbuh dan bersekolah di Mamuju. Pendidikan tingginya ia selesaikan di kota Makassar dan Jawa. Keberuntungan Thina mengabdi di pemerintahan mengenalkannya mengecap dinamika hidup masyarakat Kabupaten Mamuju. Ia mengabdi dari bawah lalu mencapai jabatan setingkat Eselon II di Pemkab Mamuju.

Sutinah telah 40 tahun saat ini. Selama masih di eksekutif, Sutinah telah menunjukkan kedekatan dengan insan Pers. Ia dikenal mediaable. Kematangan usia Thina kian menemukan dirinya mengakrabi tantangan.

Mengabdi di pemerintahan (eksekutif) tak cukup baginya di tengah ekspektasi nasyarakat Kabupaten Mamuju. Menunjukkan kepedulian yang tinggi bagi masyarakat mesti berada di jalur yang lebih luas. Pada titik inilah Thina kemudian berpikir bahwa politik pemerintahan adalah ruang yang lebih fleksibel membaktikan diri lebih maksimal.

Meski sosoknya tampak mungil, hatinya terlampau besar untuk Kabupaten Mamuju—daerah yang sejak kecil didambanya bergerak maju dan masyarakatnya sejahtera.

Tak Surut Melangkah Menjaga Mamuju

Sutinah Suhardi tak begitu lama di eksekutif. Menemukan dirinya di dunia politik—dunia yang sejatinya lebih akrab bagi kaum lelaki—adalah pemandangan baru di Mamuju, pun di Sulawesi Barat.

Menyatakan diri maju sebagai Calon Bupati Mamuju tentulah pilihan yang sangat berani. Karir birokrasi yang sedang moncer pun hilang.

Maju di Pilkada Mamuju 2020 lalu adalah pilihan paling berarti untuknya, dan sangat fanomenal. Seorang perempuan, melawan petahana (incumbent) pula bukanlah sebuah teka-teki.

Habsi Wahid kala itu sedang kuat-kuatnya: Bupati Mamuju. Memimpin partai besar, partai Nasdem di Provinsi Sulawesi Barat. Di parlemen Mamuju, partai ini cukup berkuasa dari sisi bilangan kursi dan seorang kadernya didapuk jadi ketua parlemen.

Sangat rasional partai ini melabuhkan kadernya—siapa pun juga—tetap berada di singgasana.

Thina datang bersama Partai Demokrat. Pilihan dan tekadnya fokus: harus menang. Saat pidato di markas pemenangannya, ia tampil berapi-api. Pada debat terakhir dua seteru—pasangan Thina-Ado dan Habsi-Irwan—di sebuah ruang melati di Hotel Maleo Mamuju, perempuan Thina lebih banyak berbicara.

Ia menguasai mikrofon. Ia mengulik sisi lemah pemerintahan Habsi-Irwan. Publik Mamuju menitip harapan padanya, juga wakilnya. Dan, akhirnya iacmemanangi pertarungan Pilkada 2020.

Sutinah Suhardi resmi berada di tampuk kuasa. Tapi semua orang meringis di awal 2021. Thina seolah tak sadar pada sosoknya secara biologis. Ia perempuan muda, yang ketika masih di eksekutif dulu masih jarang berkelana di tengah rakyat di pelosok.

Setelah gempa bumi menghantam Mamuju pada Januari 2021, pemerintahan zero. Mamuju seolah berada di titik terendah. Tak sedikit kantor pemerintahan ambruk. Sarana dan prasarana pendidikan setali tiga uang. Penduduk Mamuju merintih. Menangis. Pelayanan dasar masyarakat Mamuju terganggu.

Thina Suhardi menyingsingkan lengan baju. Sepatu laras panjang ia sediakan pelbagai warna. Tidak siang tidak malam ia turun ke bawah menemui warganya, bawa bantuan sosial cepat saji. Obat-obatan, dan yang lainnya.

Meski usia pemerintahannya masih berbilang bulan, Thina mengomandoi orkestrasi gerakan penanganan bencana daerah. Di tengah situasi Mamuju demikian parah, pemerintahan dan pembangunan kabupaten—sebagai tanggungjawab besarnya selaku bupati—tetap menjadi perhatian serius.

Sutinah bergerak mendekati Parlemen Mamuju. Ia ingin memastikan ketuk palu dewan selaku mitra sejajarnya berwawasan anggaran yang pro Rakyat. Program yang bersentuhan dengan pelayanan Rakyat mesti terbaca secara kasat dalam batang tubuh angaran publik Mamuju di tahun berikutnya, 2022.

Bupati Thina bekerja ekstra. Selain sebagai punggawa juga sebagai Ibu Mamuju. Luka akibat gempa tempo hari itu ia dengar.

Saya kali pertama bertemu Hj. St. Sutinah Suhardi setelah ia jadi bupati. Sosoknya sungguh asing dalam pekerjaan jurnalistik saya selama di Mamuju, Sulawesi Barat.

Lantaran agenda penulisan sebuah buku—buku yang kini mulai akrab untuk publik Mamuju dan Sulawesi Barat—yang membuat saya harus bertemu dengan Ibu Thina.

Saat itu akhir Januari 2023. Bersama seorang kawan, Iccang, dan masih perlu ditemani dengan salah satu orang dekat bupati Thina, saya bertemu. Saya dan Iccang menyampaikan agenda penulisan dan jadwal wawancara mendalam. Tersambut.

Pertemuan kedua di tempat yang sama di Sapota, wawancara berlangsung. Ia melayani pertanyaan dengan terbuka. Ia begitu humble. Sebagai orang baru dan samasekali tak kenal sebelumnya, ia menyambut gembira keseluruhan proses penulisan ini, dan Anda semua tahu: buku ini kini ada di genggaman Pembaca.

Agenda Musrenbang Kabupaten Mamuju sudah tentatif: waktu dan tempat pelaksanaan. Di sela diskusi penjang saat itu, bupati Thina menyebut akan melakukan kunjungan kerja sekaligus menghadiri Musrenbang di Kecamatan Bonehau dan Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju.

“Saya sengaja memilih dua kecamatan ini sebagai pembuka dimulainya Musrenbang 2023,” kata Bupati Mamuju, Hj. Sutinah Suhardi pada Januari silam itu.

Saya mengikutinya melalui media sosial milik Pemkab Mamuju. Di bulan Februari, rombongan yang dipimpin bupati bermalam di Kecamatan Bonehau. Esoknya, gelaran musrenbang di hari kedua, bupati meneruskan perjalanan ke Kecamatan Kalumpang.

Ia menyeberang di atas jembatan sungai yang menantang. Ia menemui warga di pegunungan Kabupaten Mamuju. Thina menyapa anak-anak sekolah. Pada sebuah sekolah dasar (SD) di Kalumpang sana, ia tampak bermain petak umpet dengan siswa-siswi.

Thina kerap sumringah. Anak-anak mengerubunginya. Ia hadir didorong hatinya yang tulus. Anak-anak didik menyalaminya secara bergerombol. Ia bermain di tengah anak didik selaksa anak sendiri.

SARMAN S

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini