Camat Wonomulyo Umbar Sawal (kiri), Kapolsek Wonomulyo AKP Imbar Bakri (kedua kiri), bersama legislator Polman Sahabuddin Sanusi, Kepala UPTD Pendidikan Agus Pranoto, dan Sekcam Wonomulyo Sulaeman Mekka saat mengikuti Upacara Bendera HUT RI ke-72 tahun 2017 di Wonomulyo, Polman, Kamis, 17 Agustus 2017. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polewali – Camat Wonomulyo Umbar Sawal baru saja mengikuti upacara penurunan bendera dalam rangka memeringati HUT Kemerdekaan RI ke-72 tahun 2017 di Wonomulyo, Polman, pada Kamis sore, 17 Agustus 2017.

Laman ini menemui Umbar Sawal menanyakan perihal rumah walet di Wonomulyo. “Wilayah rumah walet kita sudah petakan di Wonomulyo, yakni sekitar kompleks ruko Andita Permai, Jalan Jenderal Sudirman. Yang penting tak ada yang komplain tetangga sekitar rumah walet itu, ya, kami berikan izin membangun,” kata Umbar Sawal.

Sementara di tempat yang sama, Lurah Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, Nurhalim mengatakan, di wilayah tugas kami, Kelurahan Sidodadi, banyak bermunculan rumah wallet.

“Itu tak pernah minta Izin kepada kami. Heran saya, rumah tinggal tiba-tiba jadi rumah wallet, dan di semua sudut kota warga yang punya kemampuan membuat rumah walet tumbuh seperti jamur di musim penghujan,” kata Nurhalim.

Mereka itu, masih menurut Nurhalim, tak pernah sampaikan ke kelurahan. Sementara kita tahui burung itu ditengarai akan berdampak sosial karena berada di pemukiman padat penduduk.

Lain halnya yang disampaikan oleh Agus Pranoto, Anggota Fraksi Golkar DPRD Polman. Saat dikomfirmasi soal pernyataan Camat Wonomulyo, Umbar Sawal, Agus mengatakan sebenarnya sudah banyak yang protes.

“Sejumlah warga datang ke kantor camat. Mestinya yang mengadvokasi dan menginisiasi adalah Satpol PP karena hal begini urusan mereka selaku pengawal dan penjaga Perda,” jelas Agus Pranoto.

Rumah walet di Kelurahan Sidodadi, Wonomulyo, Polman, yang diprotes oleh warga. (Foto: Burhanuddin)

Agus jelaskan, kebetulan saya sebagai ketua pengawasan lahan pertanian produktif. “Kami sudah keluarkan himbauan, dilarang membangun rumah walet di kawasan sawah-sawah produktif, apalagi yang berada di pemukiman warga,” kata Agus.

Jadi menurut Agus, ini butuh kajian karena ini burung liar, mesti ada wilayah tertentu tempatnya. “Memang secara ekonomi menjanjikan tapi kita belum tahu pasti apakah burung ini ada efek negatif terhadap manusia atau tidak. Jadi butuh kajian,” jelas Agus.

“Tak mungkin kita abaikan manusia dan menerima burung masuk bersarang dalam wilayah perkotaan. Sementara manusia adalah makluk sosial yang perlu hidup tenang dan hidup dalam lingkungan yang sehat,” tutup lelaki Jawa kelahiran Wonomulyo ini.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR