Collete Nhourmandaw (kedua kanan) bersama suaminya (ketiga kiri) foto bersama dengan ‘keluarganya’ di Wonomulyo, Polman, Sabtu, 2 September 2017. (Foto: Burhanuddin HR)

TRANSTIPO.com, Polewali – Collete Nhourmandaw, baru 18 tahun ketika kali pertama menginjakkan kakinya di Desa Pulliwa, Wonomulyo, Polewali Mandar (Polman). Saat itu tahun 1988. Kini Pulliwa sudah menjadi bagian dari Kecamatan Bulo.

Ketika itu, Collete mengikuti program pertukaran pemuda Canada – Indonesia. Saat ini, atau setelah 29 tahun kemudian, perempuan asal Canada itu sudah tak sendiri lagi. Ia sudah punya dua anak—keduanya lelaki. Anak pertamanya sudah kuliah, dan si bungsu masih tengah duduk di sekolah menengah.

Bersama sang suami, Collete kembali ke Polman, di 2017 ini. Ia menyimpan kenangan dan menyimpan dua memori indah sekaligus: rindu akan keramah tamahan warga Pulliwa, dan mengesankan pelayanan (almarhum) sang Kepala Desa Pulliwa Abdul Rahman Logawali bersama Istrinya, Hj. Hasizah Mallimungan.

Ketika Collete ingat Indonesia, maka hamparan Pulliwa selalu terngiang di sanubarinya. Itulah yang membuatnya—bersama keluarga kecilnya—kembali berkunjung ke sini.

Ketika ditemui di rumah adik angkatnya, Elly Rahman, di Desa Sudorejo, Wonomulyo, Sabtu, 2 September 2017, Collete mengatakan, “Saya rindu mama di Mandar.”

Collete memang sedang berada di Indonesia sejak beberapa hari ini. Ia bilang sedang mengikuti sebuah seminar di Bali.

“Saya sempatkan waktu ke sini jenguk mama karena saya dengar sudah sakit-sakitan. Papa Puang sudah meninggal. Saya sedih ketika dengar kabar pada 2012 lalu, dan saya ke Polman lagi,” cerita Collete.

Bahkan, katanya, ketika itu sempat dua malam bermalam dan tidur sama mama. Pada lebaran Idul Adha kali ini, Collete datang lagi jenguk mama.

“Sudah banyak saya lupa bahasa Indonesia. Saya belum terlalu pintar karena dulu hanya satu bulan di Pulliwa atau program pertukaran pemuda. Teman pendamping saya dulu namanya Endang. Saya sudah lama tak berkomunikasi dengannya,” cerita Collete dalam bahasa Indonesia seadanya.

Sepulang ke negaranya pada 1988 lalu, Collete aktif sebagai tenaga guru atau fasilitator. Dengan itulah kemudian ia kembali ke Indonesia pada 2012 lalu.

“Empat tahun mendatang saya rencana ke Indonesia lagi beserta anak-anak,” kata Collete. “Saat ini saya bersama suami. Dia kagum akan keramah tamahan warga Pulliwa,” aku warga Canada ini.

Kepada sejumlah orang—termasuk wartawan—yang mengerubunginya, ia bilang, “Mohon doakan agar selalu bisa datang di Indonesia dan bertemu dengan Mama serta adik-adik angkat saya di sini.

“Kini saya sudah 47 tahun. Tetap akan saya kenang Pulliwa dan keluarga saya di sini, hingga selamanya,” akhir cerita Collete.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR