Para wisatawan mancanegara atau peserta PIFAF sedang bersenda gurau dan berwisata ria di Pantai Mampie, Wonomulyo, Polman, pada Rabu siang, 2 Agustus 2017. (Foto: Frendi Christian)

Potensi pariwisata di Pantai Mampie sudah layak berstandar internasional.

TRANSTIPO.com, Polewali – Pantai wisata Mampie terdapat di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Polman, Sulbar. Mampie dikenal bukan hanya potensi perikanannya, tapi juga potensi wisata baharinya.

Di Pantai Mampie inilah yang jadi salah satu tempat kunjungan para turis yang sekaligus sebagai peserta PIFAF 2017 di Polman ini pada Rabu siang, 2 Agustus 2017.

Pantai ini begitu menarik bagi mereka—warga asing itu—yang datang jauh-jauh dari negeri seberang. Cuaca cerah dan desir ombak yang landai sungguh sangat bersahabat di Pantai Mampie.

Pasirnya putih dan pemandangan alam yang indah serta didukung lokasi yang luas. Banyak kegiatan bisa dilakukan di pantai ini. Sebut misalnya Gathering permainan tradisional maasingsalah satu permainan rakyat Mandar—yang dilakukan secara berkelompok.

Permainan ini biasanya dilakoni para nelayan seusai melaut. Kegiatan maasing boleh jadi sebagai pelepas penat dan hiburan bagi masyarakat pesisir pantai.

Di Mampie itu, mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian nelayan, sebagai tambak ikan dan udang. Permainan rakyat—maasing itu—dimainkan oleh para turis.

Di Pantai Mampie ini pula, ketika tiba bulan Agustus, aneka rupa permainan yang diperlombakan marak berlangsung di sini.

Para turis ini, mereka berkegiatan di pantai ini, seperti menanam pohon, melepas tukik dan bibit benih ikan dan udang. Selebihnya berwisata bahari. Ada enam delegasi yang datang di sini.

Di antaranya, empat peserta CIOFF dari Slovakia, India, Korea Selatan, Malaysia, dan 11 gabungan AIESEC sebagai peserta Sanggar Tari Nusantara dari Yogyakarta. Mereka berbaur di pantai yang indah ini.

“Yang menarik, rangkaian kegiatan hari pertama PIFAF, dirangkai dengan kegiatan di Mampie. Sungguh menggelitik. Wisatawan sekaligus peserta PIFAF ini mengadakan upacara ritual mappasabbi atau mohon ijin restu Yang Kuasa agar pohon yang ditanam tumbuh subur,” cerita Mustari Mulla Tammaga kepada Frendi Christian dari transtipo.com pada Rabu siang, 2 Agustus, di Pantai Mampie.

Para wisatawan ini sedang ‘bermain-main’ dengan beberapa anak Penyu di Pantai Mampie, Wonomulyo. Mereka tampak riang gembira bisa sampai di pantai ini. (Foto: Frendi Christian)

Dengan antusiasme para wisatawan yang memeriahkan PIFAF kali ini, Yusri, salah seorang pemuda penggiat pariwisata dan pelestari tukik mengharapkan dukungan publikasi pariwisata dan dokumentasi global.

Kata Yusri, potensi pariwisata di desanya khususnya penangkaran tukik menjadi ikon wisata dan ekonomi masyarakat pesisir.

“Harap adanya pembuatan media publikasi dan media luar ruang agar bisa diketahui oleh dunia internasional. Kita perlu dukungan pemerintah dalam hal publikasi penyu agar lebih serius dalam pelestariannya. Karena tukik dilirik dunia sekarang ini. Kiranya dinas pariwisata masukkan kalender tahunan wisata PIFAF. Dalam katalog wisata terdapat edukasi mangrove dan penyu Mampie,” urai Yusri berharap.

Harapan ini diamini pihak CIOFF. Antusiasme wisatawan ketika memiliki souvenir gantungan kunci yang diperoleh dari usaha kreatif Kelompok Sadar Wisata dan Pelestari Penyu.

“Tahun depan agenda melepas penyu akan dilakukan oleh wisatawan atau peserta PIFAF di Pantai Mampie,” kata Mustari Mulla Tammaga, menutup.

FRENDI CHRISTIAN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR