Ilustrasi, anak yang menderita gizi buruk. (Foto: Net.)

TRANSTIPO.com, Polewali – Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggunya pertumbuhan fisiknya, bertubuh pendek atau kerdil saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya. Jika begitu akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas, dan kreativitas di usia-usia produktif.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

Untuk Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tercatat sebanyak empat kabupaten yang menjadi lokus Stunting, diantaranya Kabupaten Mamuju, Kabupaten Majene, Kabupaten Polman, dan Kabupaten Mamasa.

Dari empat kabupaten yang menjadi lokus Stunting, tiga diantaranya telah melakukan rembuk untuk penanganan stunting. Tersisa satu Kabupaten yang belum melakukan rembuk yakni Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kabupaten Polman adalah salah satu kabupaten penderita stunting tertinggi setelah Kabupaten Majene di Sulbar. Kapan rembuk itu dilakukan?

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat Dr. Ihwan, awal bulan Agustus mendatang itu akan dilakukan penilaian kinerja bagi Kabupaten yang menjadi lokus stunting, jika belum melakukan tindakan jauh hari sebelum, tentu itu akan menjadi kendala besar khususnya di Polman.

“Sekitar tanggal 3-4 akan dilakukan penilaian, jadi kabupaten yang belum melakukan rembuk tentu sangat terlambat karena tidak ada lagi waktu,” kata Ihwan saat dikonfirmasi via telpon, Rabu, 31 Juli 2019.

Seharusnya, kata Ihwan, dua atau tiga bulan sebelum proses penilaian itu sudah dilaksanakan rembuk yang melahirkan hasil upaya terkait langkah dalam menangani stunting.

“Tapi kalau waktu mepet seperti ini tentu itu tidak bisa lagi kerja dengan maksimal apalagi sudah mau penilaian,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Polman Suaib mengatakan, pelaksanaan rembuk dalam hal menangani stunting baru akan dilakukan pada tanggal 5 Agustus mendatang.

“Kami baru akan lakukan rembuk tanggal 5 Agustus mendatang karena pemateri yang kami hadirkan dari Luwu Banggae,” katanya.

Keterlambatan Polman dalam melakukan rembuk itu bukan dikarenakan anggaran melainkan waktu yang belum mendukung hingga sampai saat ini belum dilaksankannya.

“Baru-baru ini kami baru saja kembali dari Luwu Banggae dalam rangka studi banding mengenai penanganan stunting dan memang rencananya setelah itu baru dilakukan rembuk di Polman,” tuturnya.

Dikatakannya, untuk anggaran pelaksanaan rembuk telah siap kauh sebelumnya, hanya saja kata dia, waktu pelaksanaan yang belum ada sehingga sedikit terlambat.

“Kalau dananya sudah ada, dan kegiatannya sudah akan dilaksanakan tanggal 5 Agustus mendatang,” pungkasnya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR