Menteri Agara RI Lukman Hakim Saifuddin saat beri sambutan dalam acara Festival Budaya Islam dan Khatam Al-Qur’an 7.768 Santri se-Kabupaten Mamuju di Anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, Selasa sore, 25 Juli 2017. (Foto: Humas)

TRANSTIPO.com, MamujuSayyang Pattuqdu (kuda menari) merupakan suatu tradisi khas masyarakat Mandar, Sulbar. Sayyang Pattuqdu diadakan dalam rangka mensyukuri anak-anak yang Khatam (tamat) Al-Quran.

Tamat bacaan Al-Qur’an, bagi masyarakat di Sulbar merupakan hal yang istimewa. Karena itulah perlu dirayakan secara khusus dan meriah—namun dengan tetap dalam khasanah yang Islami.

Merayakan Khatam Al-Qur’an biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun. Waktu yang dipilih—untuk waktu khusu’nya—dipilih bertepatan dengan datangnya bulan Maulid Nabi Muhammad SAW/Rabiul Awwal, dalam kalender Hijriyah—tahun Islam.

Iringan utama Sayyang Pattuqdu adalah sejumlah ekor kuda peliharaan yang dihias begiu rupa lalu memperagakan atraksi seragam, sesuai dengan kebiasaan secara turu-temurun.

Cara ‘berlenggak-lenggok sejumlah ekor kuda itu tidak bebas oleh waktu, dalam arti dari tahu ke tahun gerakan ‘kuda menari’ itu tetap sama dalam irama dentuman rebana yang sudah lazim di telinga kuda itu.

Afdolnya gelaran Sayyang Pattuqdu ini harus tetap dilaksanakan di ‘ibu pertiwinya’—di tanah Mandar, Sulbar. bagi warga Mandar yag telah bermukim di luar Mandar, Sulbar, akan tetap kembali ke Mandar jika hendak melaksanakan hajatan Mappatamma Mangaji atau Khatam Al-Qur’a bagi sanak familinya, dan diadakankah Sayyang Pattuqdu.

Inilah sekilah tentang Sayyang Pattuqdu sebagai salah tradisi khas Mandar, Sulbar.

Di Mamuju, Sulbar, kali ini, atau bertepatan dengan Selasa, 25 Juli 2017, sebuah acara besar dilaksanakan oleh Pemkab Mamuju.

Acara ini dikemas dengan nama Festival Budaya Islam dan Khatam Al-Qur’an bagi 7.768 santri dan santriwati se-Kabupaten Mamuju. Dilaksanakan di Anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, Sulbar.

Acara ini terbilang besar sebab dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin bersama Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag RI, Trisna Willy Lukman Hakim Saifuddin.

Menteri Lukman Hakim menyaksikan pertunjukan Sayyang Pattuqdu atau kuda menari. Pada gilirannya, Lukman juga ikut menunggang pada seekor ‘kuda menari’ itu dari pelataran d’Maleo Hotel sampai Anjungan Pantai Manakarra.

Ketika beri sambutan, Wagub Sulbar Hj. Enny Angraeni Anwar mengatakan, pertunjukan Sayyang Pattuqdu merupakan tradisi yang sering dirangkaikan dengan kegiatan Khatam Al-Qur’an.

“Khatam Al-Quran dengan Sayyang Pattuqdu ini sebuah tradisi yang dilaksanakan setiap tahunnya, biasanya digelar saat momentum Maulid Nabi,” kata Wagub Enny.

Dalam pembukaan sambutannya, Mentri Agama Lukman Hakim mengapresiasi tradisi Sayyang Pattuqdu yang masih terjaga ini.

Tampak Menteri Agara RI Lukman Hakim Saifuddin (kanan) menunggang ‘kuda menari’ dalam acara Khatam Al-Qur’an di Mamuju, 25 Juli 2017. (Foto: Humas)

Menurut Lukman, penting untuk menjaga, memelihara, dan merawat tradisi warisan leluhur. Namun, sebagai generasi penerus, Lukman menyarakan untuk tetap berkreasi, berinovasi dan melahirkan karya-karya yang lebih bermanfaat.

Sehubungan dengan budaya yang masih terjaga, Lukman mengingatkan bahwa agama Islam hadir di Nusantara karena budaya. Dan terbukti, katanya, di Sulbar masih terjaga momentum Khatam Al-Qur’an yang menyatu dengan Sayyang Pattuqdu—sebuah pagelaran budaya yang berkhasanah Islam.

“Mengapa melalui budaya nilai-nilai agama itu disebarluaskan? Sekali lagi, karena inilah bukti kearifan, bukti keAliman Ulama-Ulama terdahulu. Mereka menggunakan rasa dalam menebarkan nilai-nilai agama, dan sejarah membuktikan bahwa agama, niai-nilai kebajikan itu tidak hanya semata bisa mampu untuk dijaga melalui kekuatan nalar atau logika saja, tapi seringkali budaya bagaimana olah rasa itu lebih dikembangkan. Inilah tantangannya bagi kita sekarang bagaimana tradisi yang baik-baik ini tetap mampu kita jaga, kita pelihara,” urai Lukman Hakim.

Oleh karena itu, Lukman Hakim berpesan, rasa perlu dilibatkan dalam beragama, tidak hanya semata pengetahuan saja, tapi juga bagaimana agama yang hakekatnya untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta, betul-betul mampu menjaga, melindungi, menghormati dan menghargai harkat derajat sesama umat manusia meskipun berbeda.

“Sebab perbedaan itu sendiri merupakan kehendak Sang Pencipta,” kunci Lukman Hakim Saifuddin.

DIAN HARDIANTI LESTARI/HUMAS MAMUJU

TINGGALKAN KOMENTAR