Pemeran utama film Maerre’ dan kru produksi film sedang berada di lokasi syuting, Kalumpang, Mamuju, Sulbar, beberapa waktu lalu. (Foto: Zulkifli)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Bintang Sembilan Production (BSP) Mamuju, melakukan syuting film di Desa Karataun, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, yang mengangkat tema ‘Kebhinekaan’.

Film yang digarap BSP tersebut, berjudul Maerre’, artinya persatuan, persahabatan, dan juga bisa dikatakan sebagai ikatan yang kuat.

“Film yang teman-teman garap ini judulnya Maerre’. Maerre’ ini diangkat dari bahasa lokal di Kabupaten Mamuju, tepatnya bahasa Kalumpang, yang artinya persatuan atau persahabatan atau bisa juga dikatakan sebagai ikatan yang kuat,” kata Ikhawan Wahid, sutradara film Maerre’ kepada transtipo.com, Kamis, 30 November 2017.

Nah, film ini, tambah Ikhwan, nantinya kita ikutkan di sebuah lomba, yang saat ini kita ikuti—lomba film pendek yang temanya tentang Kebhinekaan.

Salah satu adegan dalam film Maerre’, Kalumpang, Mamuju, Sulbar. (Foto: Zulkifli)

Ikhwan berujar, melihat kultur dan kehidupan masyarakat Kabupaten Mamuju—yang berbeda dari segi suku, bahasa, dan agama—inilah yang membuat sang sutradara tertantang untuk ikut dalam lomba film pendek tingkat nasional itu.

“Kita ingin menyampaikan ke seluruh masyarakat Indonesia, karena filmnya levelnya nasional, bahwa daerah Mamuju ini, kalau mau melihat potret Kebhinekaan atau potret keberagamaan, di sinilah tempatnya. Hampir semua suku dan agama yang ada di Indonesia ada di Kabupaten Mamuju. Sehingga inilah yang kemudian yang menantang kami untuk membuat film untuk menunjukkan keberagamaan yang kita miliki di Kabupaten Mamuju,” jelas Ikhwan lagi.

Terkait tentang lokasi film yang di tempatkan di Kecamatan Kalumpang, sutradara Film Maerre’ menjelaskan:

“Film ini ceritanya mengangkat soal perbedaan keyakinan antara Islam dan Kristen. Dan, kita tahu betul bahwa di Kalumpang mayoritas penduduknya beragama Kristen, sehingga daerah ini menjadi sebuah pilihan lokasi syuting yang tepat karena kita ingin mengangkat perbedaan agama, atau kita ingin membuat sebuah cerita tentang Islam dan Kristen.”

Dalam isi cerita film Maerre’ tersebut, selain menceritakan tentang dua agama—Islam dan Kristen—juga mengangkat cerita tentang kebudayaan yang ada di Kalumpang.

“Kita juga ingin mengangkat kebudayaan yang ada di Kabupaten Mamuju. Kita tahu betul Kalumpang ini adalah salah satu daerah yang memiliki warisan kebudayaan atau warisan sejarah lokal yang sangat kuat. Inilah yang kemudian kita tuangkan dalam cerita, khususnya soal tenunan Sekomandi. Kalumpang memiliki kebudayaan yang sangat kuat,” urai Ikhawan.

Sejumlah siswa SD di Kalumpag sedang menyeberang di atas jembatan gantung. Para siswa ini, atau adegan ini, adalah salah satu potongan adega film Maerre’, Kalumpang, Mamuju, Sulbar. (Foto: Zulkifli)

Sinopsis dalam film Maerre’, bercerita tentang seorang guru yang di tempatkan di salah satu desa di Kecamatan Kalumpang yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, sedangkan guru tersebut adalah seorang Muslim yang taat.

Dalam cerita tersebut, terjadi problematika keagamaan antara guru dan masyarakat setempat, juga kepada muridnya dikarenakan adanya perbedaan keyakinan.

Perbedaan keyakinan tersebut akhirnya dipersatukan oleh kebudayaan yang ada di Kalumpang atau di Mamuju.

“Hasil dari film ini kita dedikasikan untuk seluruh perbedaan atau keberagamaan yang ada di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dan tentunya kita persembahan untuk Indonesia,” Ikhwan meneguhkan nilai dalam film ini.

Adapun yang terlibat dalam pembuatan Film Maerre’ ini, yakni Bintang Sembilan Production, mahasiswa, dan para siswa-siswi SD yang ada di Desa Karataun, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju.

ZULKIFLI

TINGGALKAN KOMENTAR