Bupati Mamuju Habsi Wahid (tengah pakai topi dan jaket) dan rombongan sedang berwisata di Tanjung Ngalo, Tapalang Barat, Mamuju pada Minggu pagi, 3 September 2017. (Foto: Humas Pemkab Mamuju)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sebut batu Ngalo—yang kesohor dan pernah diburu penikmat batu beberapa waktu lalu—maka ingat Tanjung Ngalo, salah satu destinasi wisata di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Tanjung Ngalo terdapat di Kecamatan Tapalang Barat, Kabupaten Mamuju.

Keindahan pantai dan pasir putihnya, menjadikan Tanjung Ngalo tak kalah dengan destinasi (daerah tujuan) wisata lainnya di Kabupaten Mamuju. Hamparan hutan mangrovenya apalagi.

Sepanjang garis pantainya sudah bisa diakses secara mudah lantaran Pemkab Mamuju telah membukanya. Di perjalanan darat menuju ke sana, Anda akan disuguhkan pemandangan berupa hamparan ratusan hektar tambak ikan dan udang milik warga. Pelbagai jenis burung tampak terbang rendah di sekitar tambak ikan itu. Indah sekali. Alamnya eksotis.

Pagi tadi, Minggu, 3 September 2017, Bupati Mamuju Habsi Wahid dan Sekkab Mamuju Suaib bersama rombongan sengaja berwisata ke Tanjung Ngalo.

Dengan keindaha alam tanjung ini kian menegaskan bahwa obyek wisata ini layak dikembangkan. “Kita akan menata ini secara bertahap. Kita sungguh bersyukur memiliki alam yang indah seperti di Ngalo ini,” puji Habsi Wahid seraya bersyukur sebab kekayaan alam ini terdapat di Mamuju.

Pesona Ngalo sudah terpancar ke mana-mana. Buktinya, ketika Habsi dan rombongan tiba di tempat itu pagi tadi, sudah ada sekitar ribuang warga—lokal dan dari luar Mamuju—yang berwisata di Ngalo.

“Saya ingin seluruh warga hendaknya dapat bersikap terbuka dan mendukung pengembangan objek wisata ini. Karena tentu hasilnya akan berpulang kepada mereka juga. Dan, kepada seluruh wisatawan, baik lokal maupun yang ada diluar daerah, mari kita berwisata ke Tanjung Ngalo. Saya yakin, meski masih terbatas sarana dan prasarananya, namun keindahan pasir putih di sini akan mengobati rasa haus kita akan obyek wisata yang indah,” jelas Habsi Wahid.

LISA SARI DEWI Kontributor

TINGGALKAN KOMENTAR