Kantor Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah. (Foto: Ruli)
Kepala Desa Tobadak Ashar Djamal bersama istrinya Ratna, yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Dari ujung kota yang disimbolisasi oleh sejarah lokal sebagai sebuah benteng pertahanan di zaman dulu, berkendara menyusuri jalan meliuk, berundak nan sesekali menanjak curam, berkisar belasan menit. Ujung dari sejauh lima atau tujuh kilometer, sebuah kantor besar yang telah mengarungi waktu berdiri di atas lokasi yang lapang.

Di kantor itu sejarah pendek dibuka. “Dulu, penduduk asli di sini hanya 47 kepala keluarga (KK). Kawasan ini dulunya rawa-rawa,” kata I Ketut Udiana.

I Ketut lalu mendeskripsikan makna nama Tobadak. “Orang tua bilang itu bahasa lokal di sini. Tobadak ini tempat orang-orang besar,” sebut I Ketut lagi. Sembari tersenyum, ia lanjutkan, “Jika dilihat dari kondisinya saat ini, ya benar juga, ya.”

Ketut Udiana adalah tokoh masyarakat Tobadak. Ia akui berdarah campuran Bali dan Sumatra. Lelaki dengan status ASN ini beruntung, mungkin karena ia baik. Saat I Ketut bicara kepada laman ini di Kantor Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Senin, 2 Desember 2019, sekitar pukul 09.30 pagi WITA, posisinya sebagai Sekretaris Desa Tobadak.

I Ketut tak sendiri. Ia bersama punggawa Desa Tobadak, Ashar Djamal, lelaki 45 tahun. “Saya dilantik sebagai Kepala Desa Tobadak pada 29 November 2019,” ujar ayah lima anak ini yang duduk berdampingan dengan I Ketut.

Masjid besar di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah. (Foto: Ruli)

Tobadak adalah potensi besar Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng). Ia lahir sebagai daerah otonomi baru (DOB) pada 14 Desember 2012. Oleh Bupati Mateng yang pertama—yang kini masih memimpin—Haji Aras Tammauni menyebutnya, “Daerah ini dimekarkan jadi kabupaten sebab dukungan kuat para transmigran.”

Penduduk yang datang bermukim di kawasan Lalla’ Tassisara’ ini dari dulu hingga kini adalah penopang penting hadirnya sebuah kabupaten di Bumi Manakarra—Mamuju tempo dulu.

Beton dan Sawit

Berkendara menuju Desa Tobadak begitu leluasa sebab jalanannya yang luas sudah dilapisi pengeras berupa beton dan aspal. Umumnya di dua sisi jalan, sejak dari titik Tugu Benteng Kayumangiwang, hingga sejauh sebelum sampai di perkampungan desa yang padat, tanaman sawit merayap hingga ke tumit kebun yang dijamah pemiliknya.

Ashar Djamal yang memimpin desa tua yang luas ini begitu tenang. Putri kecil yang bungsu, yang datang bersama ibunya, sesekali jadi penyela diskusi santai. Dalam data potensi disebutkan, luas wilayah Desa Tobadak 17.400 meter persegi. Jumlah penduduk 2.212 KK dengan 7.887 jiwa.

Ashar dan I Katut bilang, desa ini berdiri sebagai komunitas pemerintahan pada 1987. “Statusnya masih disebut Karya Unit Persiapan Transmigrasi (KUPT) yang berjalan efektif selama empat tahun,” sebut I Ketut.

Gereja besar di Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah. (Foto: Ruli)

Pada 1991, Tobadak berubah status menjadi Pemerintahan Desa. Sejurus dengan status itu kemudian, seorang tokoh dan pemilik kebun sawit yang luas, Haji Aras Tammauni didaulat secara sah sebagai Kepala Desa Tobadak, yang pertama. Waktu terus berjalan, hingga 23 tahun kemudian, Aras Tammauni telah menahbiskan dirinya sebagai pemimpin formil desa terlama.

Cerita I Ketut, pada 2014 Aras Tammauni mangkat dari kursi Kepala Desa Tobadak. I Ketut, yang telah jadi sekretaris desa saat itu, merangkap sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Desa, hingga empat tahun berjalan. Pada 2018, sesuai hasil pemlihan kepala desa (Pilkades), Ashar Djamal merengkuh jabatan itu dan sekaligus penerus Aras Tammauni—pamannya sendiri.

“Saya lebih suka usaha, tapi keluarga besar meminta saya jadi kepala desa,” kata Ashar di Tobadak.

Tobadak Juara Nasional

Energi dan kesungguhan Aras Tammauni membangun bukan isapan jempol semata. Pernah, pada 2001, Pemerintah Desa Tobadak menjuarai lomba desa di tingkat kabupaten. Pada lomba di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Desa Tobadak keluar sebagai Juara II.

Lantaran itu, kisah I Ketut, Uwe’—sapaan akrab kades Aras Tammauni—tak puas. Tahun itu juga di 2001, pembenahan dikebut, pembangunan digenjot. “Pokoknya kerja keras di desa ditingkatkan secara maksimal,” Ashar Djamal menyela yang ia tambahi bahwa, “Saya sejak kecil selalu sama-sama dengan beliau (Aras, red). Jadi saya paham betul keinginannya.”

Tahun berikutnya, kisah I Ketut, Desa Tobadak kembali ikut lomba. “Sampai-sampai, salah seorang pemimpin formal di Sulawesi Selatan protes karena menganggap bahwa Desa Tobadak sudah pernah ikut lomba.” Lalu ia bilang, mengutip kata-kata Aras Tammauni, sebagai respon atas protes seorang pejabat daerah di selatan itu, “Kan tahun lalu kita belum juara I.”

Info Grafik Desa Tobadak. (Foto: Ruli)

Cerita Ashar Djamal terkadang harus diteruskan oleh sekretaris I Ketut, sebab tak sedikit warga desa yang datang menyetor selembar kertas untuk ditandatanganinya. Salah seorang warga desa sempat ditanyai kades Ashar.

“Bagaimana kabar anak bapak yang keluar negeri?” Seorang ayah yang tampak pendek dan putih menjawab. “Kakaknya sudah di Jepang. Dan adiknya akan menyusul ke sebuah daerah di China.” Anak bapak itu adalah peserta pertukaran pelajar. Begitu penjelasan warga lainnya kepada kru laman ini di ruang pertemuan kantor desa.

Memimpin 48 RT

Pada layar info grafik Desa Tobadak yang terpampang jelas di dinding depan kantor desa, adalah sebuah bukti i’tikad baik pemimpin Desa Tobadak terkait transparansi anggaran dan sumber pendapatan desa. Di situ tercantum Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2019. Pada alur akuntansi Desa Tobadak diketahui, Dana Desa (DD) sebesar Rp 749.027.000, Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp 1.103.268.000, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 23.720.000. Total pendapatan Desa Tobadak tahun anggaran 2019 sebesar Rp 1.876.015.000. (Rinciannya lihat gambar Info Grafik).

Desa Tobadak terdiri dari 13 dusun, 48 RT. “Semua kepala dusun dan ketua RT dapat tunjangan setiap bulan,” kata Kades Tobadak Ashar Djamal. Pendapatan setiap kepala dusun Rp 850 ribu perbulan. Masing-masing ketua RT Rp 200 ribu perbulan.

Di Desa Tobadak terdapat 12 Masjid, 6 di antaranya sudah terdaftar atau berbadan hukum. Gereja sebanyak 16, dan 8 di antaranya sudah terdaftar atau berbadan hukum oleh pemerintah. Imam bagi Masjid dan Kepala Jemaat setiap Gereja di Desa Tobadak beroleh insentif atau pendapatan dari Pemerintah Desa Tobadak.

Taman Kanak-Kanak (TK) Kantor Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah. (Foto: Ruli)

“Bahkan ada sekolah minggu di setiap Gereja. Pasraman (Hindu)—lembaga pendidikan agama semacam TPA—juga diberi honor,” ujar Ashar Djamal.

Di tengah Tobadak, berdiri dua bangunan besar: Masjid dan Gereja. Dua bangunan megah ini menjadi primadona desa ini. Masjid yang dibangun telah menelan anggaran sekitar Rp 2,5 miliar.

“Mungkin jika selesai nanti, diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar Rp 3 miliar. Dalam lokasi Masjid akan dibangun TPA,” kata Ashar. Dari Masjid yang hanya berjarak sepelemparan batu, berdiri sebuah Gereja. Besar tapi masih sementara perampungan pembangunannya.

Di Masjid sendiri, sudah bisa dibilang rampung. Dalamnya sudah tampak lengkap dan indah. Jemaah sholat teduh dengan dua alat pengatur suhu: dingin sekali. “Meski itu dibangun warga desa tapi bantuan pak bupati lebih banyak,” ujar Ashar sembari menyungging.

Beberapa waktu lalu Masjid ini telah berfungsi seperti umumnya. “Saat pembukaan dulu, pak Aras Tammauni yang Imami sholat berjamaah.”

Kantor Desa Tobadak yang tampak megah dan mewah—terutama pada interiornya—dibangun pada 1991, atau sejak Aras Tammauni sebagai kepala desa. Terdapat satu aula yang lapang dan tujuh ruangan lainnya. Ada sekretariat Badan Permusyawaratan Desa (BPD), LKMD, LPMD, dan Taman Kanak-Kanak (TK). Kantor ini berdiri di pinggir persis di sisi tengah lapangan sepak bola.

Di ujung utara lapangan, terdapat pasar rakyat semi-modern. Pada Senin pagi, pasar ini ramai sekali. Warga Desa dari kalangan ibu-ibu, yang hadir di kantor desa untuk sebuah acara dan syukuran PKK Desa Tobadak atas keberhasilannya mengikuti Lomba Jambore PKK tingkat Kabupaten Mateng, beberapa hari sebelumnya.

Obrolan belum usai ketika suara mikrofon riuh. Ibu PKK Desa Tobadak Ratna Ashar sedang memimpin rapat. Istri kades ini telah melahirkan lima orang anak. Anak bungsunya yang perempuan, masih seumur anak PAUD, tengah dalam dekapan ayahnya saat ibunya memimpin rapat di aula desa.

Pekerjaan baru kepala desa yang baru ini sungguh menumpuk dan menantang. Salah satunya, akan mempercepat bangun tempat wisata desa. Pemekaran desa dan kecamatan juga hal yang sudah mendesak.

Kepala Desa Tobadak Ashar Djamal bersama warga dalam sebuah kegiatan gotong royong di Desa Tobadak, beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

Wisata Desa Gunung Kapal

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sudah mulai jalan, tapi ashar bilang, “Baru dimulai, masih apa adanya. Kami sudah punya usaha, pertamini yang ada di depan di sisi luar pintu masuk kantor.

Gedung BUMDes Desa Tobadak sudah ada. “Bangunannya kecil makanya akan dirombak. Dulu rumah jabatan camat. Pelan-pelan direhab. Usaha yang sudah jalan pertamini, nanti kerajinan masyarakat, sewa jasa bus, kursi, dan lain-lain. Apa adanya dulu,” ujar Ashar.

Kecamatan Tobadak yang kini dihuni 8 desa diakui memang belum memiliki satu pemerintahan berstatus kelurahan. “Tapi itu sudah tidak lama ada kelurahan di Kecamatan Tobadak,” kata I Ketut.

Jalan desa dengan panjang terbentang tak kurang 10 kilometer, kini memiliki 9 buah posyandu. Setiap posyandu terdapat 5 kader sebagai tenaga kesehatan. “Seharusnya hanya 3 posyandu,” kata Ashar bangga. Jembatan juga dibangun beberapa buah.

Terkait posyandu dan jembatan desa, menurut I Ketut, “Pelaksanaannya kita lakukan berdasarkan petunjuk dari kementerian desa.” Ia tambahkan, mengapa kita pasang info grafik desa agar masyarakat bisa mengontrol setiap pemakaian anggaran publik di desa.

“Kita pasang info grafik desa sebagai transparansi. Memudahkan kontrol oleh masyarakat desa. Masyarakat bisa lihat. Proses penggunaan Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan PAD yang miliaran itu, masyarakat tahu. Pemerataan, masyarakat tahu semua prosesnya,” jelas I Ketut.

Soal anggaran desa itu yang hampir dua miliar rupiah di tahun ini, Ashar menimpali, “Dibanding luas wilayah dan jumlah penduduk, sebenarnya ini anggaran desa kami kecil.”

Suara meninggi I Ketut dan merubah posisi duduknya, terlihat benar Ashar Djamal punya harapan besar terhadap gagasannya barunya bersama sekretarisnya itu.

Tim Penggerak PKK Desa Tobadak saat mengikuti Jambore PKK tingkat Kabupaten Mamuju Tengah, beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

“Kami sudah rancang sebuah ikon baru sebagai wisata unggulan desa,” katanya berdua saling mengamini. “Desa wisata Gunung Kapal,” sebutnya. Pada sebuah puncak gunung di ketinggian Sipodeceng, Tobadak, akan dikembangkan sebagai lokasi wisata desa.

Di tempat itu, yang jalanan ke sana belum bisa dilalui kendaraan bermesin, terdapat sebuah kapal. “Tanah sekitarnya sudah dihibahkan ke Pemerintah Desa Tobadak. Jalanannya kami sudah usulkan ke PU Mateng tapi belum terealisasi,” kata Ashar Djamal.

Dulu, konon, kisah Ashar, di tempat itu adalah perairan yang sering dilalui kapal. Ketika air surut, tiba-tiba tempat itu meninggi yang lama-kelamaan jadi gunung. Dan ada sebuah kapal terdampar yang kemudian jadi batu.

“Makanya kami menyebutnya gunung kapal. Dari atas gunung kapal itu semua kota bisa kita lihat,” katanya.

Pada area gunung kapal itu, ketika Sipodeceng telah terwujud sebagai sebuah desa, maka kawasan wisata alam itu pula akan dijadikan satu dusun: Dusun Kapal.

Selamat berwisata di kaki gunung yang tinggi dengan menikmati kerlap-kerlipnya cahaya kota Tobadak dan Topoyo, tentu di malam hari, untuk waktu yang tak lama lagi.

HARY/RULI SYAMSIL/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR