Salmia (48) warga Dusun Tangkao Indah, Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Sulbar), sangat memprihatinkan lantaran, telah menderita tumor ganas selam tujuh tahun. (Foto: Ruli)

TRASTIPO.com, Topoyo – Nasib malang dialami Salmiah (48), wanita paruh baya asal Dusun Tangkao Indah, Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Sulbar), sangat memprihatinkan.

Pasalnya, sejak tujuh tahun lalu ia mengalami tumor ganas dibagian wajah sebelah kanan yang cukup mengenaskan. Ia tinggal sebatang kara diatas gubuk berukuran 3X4 meter.

Salmia adalah anak ke tiga dari enam bersaudara, Ia satu – satunya perempuan, lahir dari pasangan Sainuddin dan Jariah.

Delapan tahun lalau, ia sempat menikah dengan seorang pria asal Mateng, namun, umur pernikahannya hanya bertahan hingga setahun saja. Saat itu, kondisi kesehatan Salmia masih membaik, hanya mengalami benjolan kecil didekat bibirnya yang disangkanya bisul biasa.

Seiring waktu berjalan, benjolan itupun semakin membesar bahkan berlubang, hingga keluarganya memutuskan untuk membawanya ke salah satu Rumah Sakit (RS) di Makassar Sulawesi selatan (Sulsel).

Salmia sempat menjalani perawatan di RS selama beberapa hari, lantaran tidak ada biaya, keluarganya memutuskan untuk membawanya pulang dan berobat kampung (Dukun). Selain tak memiliki biaya berobat, juga tak memiliki biaya hari – hari selam di Rumah Sakit.

Setelah menjalani perawatan selama beberap hari, Salmia divonis oleh dokter jika ia menderita tumor ganas, yang sebelumnya disangkanya bisul biasa. Saat itu dokter menyarankan untuk dilakukan operasi.

“Kami diminta siapkan biaya sebesar 35 – 70 juta untuk operasi,” kata Salmia.

Karena tidak mampu, akhirnya Salmia beserta keluarga sepakat untuk kembali ke Mateng dan melakukan pengobatan tradisional. Namun, hingga saat ini penyakit yang dideritanya itu tak juga sembuh, malah semakin parah.

Salmia, kini tinggal seorang diri diatas gubuk berukuran 3X4 yang nyaris roboh, dindingnya terbuat dari kayu dan atapnya sangat tidak layak, jika hujan turun Salmia terkadang kehujanan lataran, atapnya yang telah bocor – bocor.

Meski kondisinya kian memprihatinkan, Salmia tetap melakukan aktivitas demi kelangsungan hidupnya, ia memilih untuk berjalan bensin botolan, walau kondisi wajahnya nyaris tertutup.

Salmia mengaku tak pernah mendapat sentuhan dari pemerintah berupa bantuan apapun. Sejak ia menderita serangan tumor ganas, dirinya tak pernah mendapat perhatian dari pemerintah baik desa terlebih kabupaten.

Ia berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban hidupnya, walaupun itu hanya bantuan kesehatan saja demi kesembuhannya.

“Kalau bisa ada bantuan dari pemerintah agar bisa berobat,” kata Salmia, saat ditemui di gubuk tempat tinggalnya, Selasa 3 Maret 2020.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR