Ketua DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) H. Arsal Aras Tammauni, SE (kiri) saat menghadiri Musrenbang Tingkat Kecamatan di Mateng, beberapa waktu lalu. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Katua DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) H. Arsal Aras menyampaikan bahwa Musrembang itu sebaiknya dimulai dari Dusun. “Biasanya pak Desa hanya memanggil orang-orang tertentu lalu mengatakan apa usulanmu bawa kesini sekarang,” kata Arsal Aras.

Menurut Arsal Aras, ketika kita ingin mengusulkan program di tingkat Desa maka kita harus mengundang semua Dusun maupun tokoh masyarakat kemudian kita rapatkan atau musyawarahkan apa yang menjadi prioritas di Dusun tersebut. Itulah yang kita dorong ke Desa, begitupun dengan Desa.

“Program yang mampu dikerjakan oleh Desa itu tidak perlu lagi diusulkan ke tingkat Kabupaten. Untuk itu pembangian kewenangan harus kita duduk bersama, 10 persen kita dorong ke Desa berkisar Rp90 miliar, ada yang Rp1 milliar bahkan ada yang Rp2 miliar,” urai Ketua DPRD Mateng H. Arsal Aras saat menyampaikan sambutan dalam Musrenbang Kecamatan pada 5 Maret 2019.

Arsal tambahkan, misalnya di Desa Babana yang dianggarkan berkisar Rp1,8 miliar, jika Rp1,8 miliar dikurangi 30 persen untuk belanja operasional kepala Desa dan perangkat Desa, PKK dan lain-lain di dalamnya. Masih ada Rp1 miliar lebih. Rp1 miliar inilah yang harus dirumuskan di Desa di semua pemangku kebijakan yang ada di Desa.

“Kita mau dorong ke BUMDes berapa, dikasi bantuan cappu kale mako (habis saja tidak ditau kemana arahnya),” kata Arsal Aras.

Menurutnya, Musyawarah ini harus betul-betul berjalan dengan baik sehingga dengan demikian pembangunan di Desa itu kelihatan. Jangan lagi mau dekker-dekker mintanya ke Kabupaten. Okelah jalan kebun, jalan tani, jalan lorong-lorong kita serahkan ke Desa, tapi jalan penghubung Desa – Kecamatan ini menjadi prioritas kabupaten.

Musrenbang Tingkat Kecamatan di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) yang dihadiri sejumlah Anggota DPRD Mateng, beberapa waktu lalu. (Foto: Ruli)

“Karena itu Pemerintah masih sering-sering masuk ke Kabupaten. Saya mencontohkan, biaya operasional belanja pegawai dan kita-kita semua itu kurang lebih 38 sampai 40 persen, pendidikan 20 persen, kesehatan 10 persen, Desa 10 persen, sisanya itulah yang kita pakai untuk pembagunan infrastruktur dan lain-lain,” ujar Arsal.

Jadi, sebut Arsal, wajah kota hanya mampu membangun kantor bupati saja, selebihnya hampir semua sewa kantor. Jadi pemerintah ini belum masuk bagaimana menata kota, tetapi kita lebih masuk ke infrastruktur jalan yang menjadi poin penting untuk diperbaiki.

“Karena itu sejak Mateng berdiri sendiri bisa kita katakan 90 persen jalan itu rusak, tetapi pemerintah sudah mulai sedikit demi sedikit berbenah,” terang Arsal.

Pemerintahan kita, tambah Arsal, kurang lebih 3 tahun lebih sudah begitu banyak kemajuan yang kita lihat, tetapi masih banyak juga yang belum. Sehingga dengan demikian saya mengajak kita semua untuk terus mensupport pemerintahan kita sehingga pemerintahan ini dapat berjalan dengan baik di semua sector.

“Pendidikan itu jauh lebih penting karena kenapa, sadar atau tidak, negara-negara maju sukses karena pendidikannya bagus. Kita ingin di Kabupaten Mateng ini, walaupun kita daerah baru tapi kita tidak tertinggal terkait dengan pendidikan,” tutup H. Arsa Aras. Advertorial

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR