Narasumber pada dialog optimalisasi pendidikan wawasan kebangsaan di Topoyo, Mateng, Jumat, 21 Desember 2018: Asisten Bidang Pemerintahan Pemprov Sulbar HM Natsir (kedua kiri), Kepala Badan Kesbangpol Sulbar HM Rahmat Sanusi (kedua kanan), Kepala Bidang Bina Ideologi Badan Kesbangpol Sulbar Muhiddin (kanan), dan moderator Ahmad Amiruddin (kiri). (Foto: Ruli).

TRANSTIPO.com, Topoyo – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menyelenggarakan dialog optimalisasi pendidikan wawasan kebangsaan bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Materi dialog yang cukup interaktif ini disampaikan narasumber, yaiyu HM Natsir  (Asisten Bidang Pemerintahan Pemprov Sulbar), HM Rahmat Sanusi (Kepala Badan Kesbangpol Sulbar), Muhiddin (Kabid Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan) yang dipandu moderator Ahmad Amiruddin.

“Di undang-undang kita sudah jelas, Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI sudah harga mati. Melalui dialog ini diharapkan bagaimana kita harus terus merawat wawasan kebangsaan ini,” ujar HM Natsir dalam dialog yang berlangsung di Wisma Cahaya Batu Batu (CBB) Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Mateng, Jumat, 21 Desember 2018.

Mantan Sekda Kabupaten Pasangkayu itu juga berharap agar seluruh elemen bangsa khususnya kalangan generasi muda dapat mengambil peran yang terdepan untuk melakukan penetrasi jika ada suatu gerakan—gerakan yang ‘mencurigakan’.

Dijelaskan bahwa bangsa kita tidak menginginkan sebuah gerakan seperti kecenderungan yang terjadi di Uni Soviet, Rusia, Jerman Barat dan Jerman Timur, Korea Utara dan Korea Selatan. Bangsa yang berdaulat ini tidak menghendaki adanya gerakan seperti RMS, Aceh Merdeka, dan sekarang muncul lagi OPM.

Peserta pada dialog optimalisasi pendidikan wawasan kebangsaan di Topoyo, Mateng, Jumat, 21 Desember 2018: (Foto: Ruli).

“Kita dituntut bagaimana pentingnya merawat wawasan kebangsaan ini. Kita patut bersyukur bahwa NKRI ini kaya dengan sumberdaya alam, memiliki beragam suku, agama dengan jumlah penduduk urutan keempat di dunia, memiliki 17 ribu pulau. Ini perlu kita syukuri dan kita harus merawat dengan baik apalagi kaitannya dalam konteks pembangunan,” kata Natsir.

Kepala Badan Kesbangpol Sulbar Rahmat Sanusi mengakui bahwa pemahaman mengenai wawasan kebangsaan ini masih kurang. Dicontohkan bahwa beberapa waktu lalu banyak peserta ujian CPNS yang tidak lulus dalam test wawasan kebangsaan (TWK).

“Kita harus tetap bersama dalam bingkai NKRI. Sehingga sosialisasi 4 pilar Bangsa Indonesia terus dilakukan yaitu Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945,” ucap Rahmat Sanusi.

Sementera Kabid Bina Ideologi Badan Kesbangpol Sulbar, Muhiddin menyampaikan materi yaitu makna Bhinneka Tunggal Ika bagi Bangsa Indonesia.

ISHAKA M. TOIB/RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR