Dua Siswa Tolak Divaksin, Kasek SMPN 01 Budong-budong Beri ‘Ancaman’ Peringatan

865
Siswa SMPN 01 Budong-Budong, Afdal Harianto Saputra (tengah). (Foto: Ruli Syamsil)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Keputusan Afdal Herianto Saputra (15 tahun) dan Muh. Yasin Khairil (14 tahun) tinggalkan kelas berbuntut panjang.

Dua remaja ini tercatat sebagai siswa SMP Negeri 01 Budong-budong, Babana, Kacamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulbar.

Afdal Herianto Saputra duduk di kelas tiga dan Muh. Yasin Khairil duduk di kelas dua sekolah itu.

Mendengar kabar kedua siswa “kabur” dari sekolahnya, transtipo kemudian mendatangi rumah keluarganya pada Senin, 27 September 2021.

Keluarga Afdal Herianto tinggal di Desa Babana, Kecamatan Budong-budong. Ibunya bernama Uhudra (50 tahun) dan Bapaknya bernama Maliang Dg. La’bang (53 tahun). Sedangkan Yasin Khairil adalah cucu kedua orangtua tersebut.

Pada petang Senin kemarin itu, keduanya mengaku bahwa anak dan cucunya dikeluarkan dari sekolah lantaran ia menolak divaksin.

Keduanya menuding pihak sekolah tidak adil, sebab menurutnya, ada juga siswa lainnya yang belum ikut vaksinasi tapi tidak dikenakan ‘hukuman’ serupa.

Uhudra bilang, pekan lalu (Selasa, 21 September 2021) anaknya sementara mengikuti ulangan tengah semester (UTS) di kelas saat kepala sekokah masuk ruangan lalu meminta siswa angkat tangan yang belum divaksin.

Sejurus dengan itu, tiga orang siswa angkat tangan, termasuk Afdal dan Yasin — sang anak dan cucu pasangan tersebut.

Saat itu, cerita Uhudra, memang pihak kepala sekolah membujuk Afdal dan Yasin untuk ikut vaksin, tapi keduanya tetap tidak mau divaksin karena takut.

Ia juga sebutkan, pihak kepala sekolah (kasek) juga “ancam” kedua siswa ini tidak akan diberikan beasiswa jika tidak ikut vaksinasi.

Besoknya, Rabu, 22 September, kedua siswa ini datang ke sekolah minta gurunya dibuatkan surat pindah, dan pihak sekolah setujui dengan alasan daripada kedua anak ini putuh sekolah.

“Kami heran kenapa hanya anak kami yang diminta pindah, padahal di sekolah itu masih banyak yang belum divaksin,” ujar Uhudra.

Kepala Sekolah SMPN 01 Budong-budong, Suardi. (Foto: Ruli Syamsil)

Kepala Sekolah SMPN 01 Budong-budong, Suardi, menepis pernyataan apa yang “dituduhkan” oleh orangtua kedua siswanya itu.

“Apa yang dikatakan itu tidak benar,” ujar Suardi.

Mestinya, sebut Suardi, maksud sekolah tidak disalah artikan yang terkesan pihak seolah mengeluarkan mereka karena menolak divaksin.

“Kami pihak sekolah tidak sama sekali tidak mengeluarkan siswa dari sekolah karena menolak vaksin, apalagi disebut pemaksaan,” kata Suardi di kantornya pada Senin, 27 September 2021.

Suardi mengakui bahwa saat siswa sedang ujian, kami minta angkat tangan bagi yang belum divaksin, dan saat itu ada tiga orang siswa angkat tangan.

“Siswa yang angkat tangan waktu itu kami minta agar pulang dulu untuk mengikuti vaksinasi yang sedang berjalan di Kantor Camat Budong-budong,” terang Suardi.

Ia tambahkan, pihaknya tidak bermaksud mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah. “Kami suruh pulang ke rumah untuk ikut vaksin. Ini yang disalah artikan,” terang Suardi.

Pihaknya juga akui ada semacam ‘ancaman’ kepada siswanya itu. “Kalau tidak mau divaksin, ya, tidak diberi itu beasiswa.”

Meski Afdal dan Yasin telah ajukan permohonan pindah, tapi Suardi mengaku bekum tanda tangan surat pindak kedua siswanya itu.

“Anak ini masih berstatus siswa kami, permohonan pindahnya belum saya tanda tangani,” ujar Suardi.

Ia juga bilang sekolah yang dituju tidak jelas. “Mau pindah ke sekolah mana?” Ia tambahkan, “Rekomendasi itu ada sekolah yang dituju.”

Suardi tegaskan, “Jadi pernyataan siswa dan keluarganya itu tidak benar.”

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini