Tiga Jalan Demmatande: di Polewali, Mamasa, dan Sumarorong

408

Bagian ENAM

TRANSTIPO.com, Mambi – Perlawanan Demmatande Cs dalam merintis Kemerdekaan Indonesia dianggap tidak sia-sia. Demmatande berhasil mempersatukan pejuang-pejuang Pitu Ulunna Salu (saat ini dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Mamasa).

Hal ini terbukti atas persetujuan oleh kolonial Belanda dengan diterbitkannya Staatsblad tahun 1917 Nomor 43.

Pengaturan ini membagi dua wilayah dengan pusat pemerintahan di Mamasa dan Mambi.

Namun pada tahun 1924, dua pusat pemerintahan ini disatukan kembali di bawah Onder Afdeling Boven Benuang en Pitu Ulunna Salu berdasarkan Staatsblad tahun 1924 Nomor 476.

Kemudian pada tanggal 27 Februari 1940, Gubernemen de Grote Oost Nomor 21. Pada 1 Juni 1940, Onder Afdeling Boven Benuang en Pitu Ulunna Salu disatukan menjadi Onder Afdeling Mamasa. Status pemerintahan ini berlaku hingga tahun 1949.

Situs Benteng Salu Banga di Desa Paladan, Kecamatan Sesena Padang beserta salah satu senjata yaitu meriam (marattini) yang digunakan oleh Demmatande pada tahun 1914, saat ini dipajang di halaman depan Rumah Jabatan Bupati Mamasa di Tatoa, Mamasa. Kuburan tentara Belanda berada di Kompleks Pekuburan Marsosei di Banggo, Kelurahan Mamasa.

Pemberian nama jalan Demmatande di tiga tempat, pertama, Jalan Demmatande berada di kota Mamasa (sepanjang jalan dekat kampus Unasman Mamasa sampai di depan kantor Gabungan Dinas-Dinas Pemerintah Kabupaten Mamasa dan Kantor Dinas Pendidikan dan Olahraga Pemerintah Kabupaten Mamasa);

Kedua, Jalan Demmatande berada di kota Polewali, tepatnya di ujung Jalan Mambulilling sampai ke Pasar Baru dan Pantai Bahari Polewali;

Ketiga, Jalan Demmatande terdapat di Sumarorong, tepatnya di jalan poros depan Puskesmas Sumarorong membentang hingga di depan kantor KUA Kecamatan Sumarorong.

Pada karya seni juga diabadikan perjuangan Demmatande. Dalam kumpulan lagu Kondosapata volume 2 terdapat judul lagu Pa’barani, yang menceritakan 6 (enam) nama pejuang di Mamasa – Pitu Ulunna Salu yang melawan penjajah kolonial Belanda.

Nama-nama pejuang dimaksud yakni: Demmatande (Benteng Salu Banga) di Paladan, Tandi Bali (Benteng Puang) di Tatale, Demma Musu’ di Panggala, Demmajannang (Benteng Burekkong) di Matangnga, Pua’ Sela (Benteng Karakean) di Bambang, dan Andola (Benteng Tanete Pokka’) di Ulusalu.

Dalam bidang pariwisata, situs Makam Tedong-tedong telah dijadikan obyek wisata budaya di Kabupaten Mamasa, sebagai bukti peradaban sejak dahulu oleh keluarga dan kerabat Demmatande.

Bekas kawasan Benteng Salu Banga terdapat Lokko’ (gua) untuk tempat penyimpanan harta benda dan pertahanan Demmatande Cs dalam menghadapi tentara Belanda.

Hari ini — 24 Oktober 2014 — kita berkumpul untuk mengenang 100 (seratus) tahun perjuangan, pengorbanan, dan semangat yang menggelora dari para pendahulu kita.

Apa yang hendak kita lakukan sebagai generasi penerus masa depan cita-cita dan harapan rakyat Kabupaten Mamasa, bukan primordialisme sempit atau pun bentuk keangkuhan tapi nilai dan semangat yang mesti kita pertahankan terus-menerus secara bersama-sama.

Pengungkapan memori sejarah singkat ini adalah salah satu bentuk penghormatan kita kepada pejuang-pejuang yang terlahir di Kabupaten Mamasa, yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk hadirnya Kemerdekaan Republik ini.

Kritik, saran, dan koreksi dari semua pihak sangat diharapkan untuk penyempurnaan sejarah singkat ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dan memberkati kita semua. Aamiin. (Selesai)

Referensi
1. Sejarah Mandar II Tahun 1982, Penerbit Balai Purbakala Sulawesi Selatan.
2. Tulisan sejarah dalam bahasa Belanda tahun 1975 oleh Yan Vandreell.
3. Kisah Perjuangan Pahlawan Pongtiku di Tana Toraja, Penerbit Balai Purbakala Sulawesi Selatan, 1986.
4. Buku Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Polewali Mamasa, 1986.
5. Sejarah Perjuangan Demmatande, oleh W.M. Manala, 1987.
6. PUS & PBB dalam Imperium Sejarah, Sarman Sahuding, 2008.

IRVANDI DEMMATANDE – SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR