Suara Diam Mehalaan, Kini Kesabaran itu Meruap

967
Inisiatif warga di Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, untuk memperbaiki jalan. (Foto: Wahyuandi Taslim)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Bertahun-tahun lamanya warga se-Mehalaan berdiam sepi dari menuntut hak: hak warga Negara untuk disetarakan dengan warga Bangsa lainnya.

Jalan, ya, jalan. Suara ini kini menyeruak riuh. Telah menahun infrastruktur jalan tak kunjung dilihat, diperbaiki.

Dari Mehalaan — ibu kota Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa — ke kampung paling ujung di kecamatan itu tak lebih 12 km.

Sebelum sampai di Desa Passembuk, kampung tua paling ujung yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Matangnga, Polewali Mandar, akan mendapati dulu kampung tua pesohor: Desa Botteng.

Dari Mehalaan ke desa ini berjarak sekitar 7 km saja. Meninggalkan kampung “pendekar” tempo dulu ini, masih ada 5 km ke Passembuk.

Relatif dekat. Tapi jangan ditanya kondisi jalannya. “Terakhir dikerja pada 2017. Tapi kualitasnya ya begitu, lalu hancur lagi,” kata seorang pemuda MSN (40 tahun).

Sejumlah warga dan pelintas sedang memperbaiki jalan di Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, belum lama ini. (Foto: Wahyuandi Taslim)

Pemuda dari Botteng, Mehalaan, ini kerap datang ke Mamasa. Ia rasakan jalan bebatuan bercampur lumpur sebelum tiba di daerah Sika atau jalan Trans Nasional.

Terkadang sepeda motornya harus singgah di bengkel untuk diperbaiki. “Paling sering kempes ban. Tali rem dan kopleng juga sudah langganan. Salah-salah jatuh,” katanya.

Di antara warga Passembuk yang kerap ke Mamasa, ibu kota Kabupaten Mamasa, setali tiga uang.

Kesabaran dan ketabahan warga di dua desa jauh itu sudah teruji dengan waktu. Tapi rupanya sabar itu ada batasnya.

Suara-suara protes pun mulai terdengar. Tak sedikit warga mengekspresikan kegelisahannya di sosial media (sosmed), facebook misalnya.

Botteng dan Passembuk, atau umumnya desa-desa jauh di Mehalaan, bisa dibilang masih terisolasi. Isolasi ini meski dibuka secara permanen. Pemerintah Kabupaten Mamasa dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mesti punya good will (kemauan baik) dan terutama political will (kesungguhan politik) memperbaiki jalan jalur Rantebulahan – Mehalaan – Matangga.

Jalur ini strategis. Selepas Passembuk melewati Matangnga, pintu Wonomulyo di pesisir pantai — kawasan perdagangan yang cukup ramai — menganga lebar-lebar didatangi warga pegunungan.

Perlu akses jalan yang baik, lebih kondusif.

Tandu Pasien

Kegelisagan warga di dua desa bertetangga itu berada di titik nadir ketika salah seorang warga sedang sakit yang mengalami pendarahan. Kenyataan ini belum hilang dari ingatan. Isunya viral. Media sosial, pula media daring mempublis begitu jelas, beberapa hari lalu.

Salah seorang warga Desa Passembuk terpaksa ditandu sejauh 12 kilometer untuk sampai ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Mehalaan. Warga yang sedang sakit parah ini tak bisa diantar pakai kendaraan roda empat (mobil) karena jalan tak bisa dilalui mobil.

Dan, naas pun tiba. Si sakit mengalami (maaf) keguguran di atas tandu saat di perjalanan.

“Jangankan roda empat, roda dua saja dipaksa baru bisa lewat begitu parahnya,” kata Adin, warga setempat, Sabtu 4 Juni 2022.

Jeritan Adin mewakili warga di desanya, Passembuk. “Kalau tidak ada ini perbaikan dalam waktu singkat terpaksa kami melakukan aksi,” geramnya.

Salah satu contoh kondisi jalan antara Mehalaan – Passembuk rusak parah. (Foto: Wahyuandi Taslim)

Adin punya dasar yang kuat mengeluarkan suara sumbang. Selain keadaan pasien yang menderita akibat jalan, hasil bumi di desanya layak dibanggakan.

“Di Desa Passembuk saat ini, jagung warga mencapai 300 ton. Namun sulit mobilisasi keluar karena akses jalan,” keluh Adin.

Ia berharap ada kepedulian pemerintah melihat desanya begitu. “Warga berharap pemerintah sesegera mungkin melakukan perbaikan jalan di jalur desa kami,” harapnya.

Keluh Adin juga suara diam menggelora di hati warga sedesanya.

“Setiap selesai panen tidak bisa dibawa keluar hasil petani. Kami butuh makan,” tegas Adin, pilu.

Meski belum sempat diberi ruang untuk “bersuara” di halaman media ini, Pappuangan — Camat Mehalaan saat ini — perlu pula bersuara nyaring: benahi jalan yang dituntut warga sekecamatan.

WAHYUANDI TASLIM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini