Aliansi Solidaritas Perempuan Mamasa Peduli dan Menolak Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak, menggelar unjukrasa di depan Gedung DPRD, Kabupaten Mamasa, Senin 3 Januari 2020. (Foto: Frendy)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Sejumlah massa tergabung dalam Aliansi Solidaritas Perempuan Mamasa Peduli, menggelar unjukrasa menyikapai maraknya kesus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur, Senin 3 Februari 2020, pagi tadi.

Dalam orasinya, mereka mengecam dan menolak keras tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dibawah umur, akhir-akhir ini meresahkan warga Mamasa.

Dalam tahun 2019, aliansi ini mencatat 17 kasusu kekerasan diantaranya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebanyak empat kasus, penganiayaan anak 10 kasus, dan tiga kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur.

Sementara, ditahun 2018 tercatat sebanyak sembilan kasus antara lain, KDRT lima kasus, penghinaan dan kekerasan seksual terhadap anak masing-masing satu kasus, serta penganiayaan sebanyak dua kasus.

Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Solidaritas Perempuan Mamasa, menuntut pemerintah daerah memberikan pendampingan psikologis terhadap korban kekerasan seksual, serta memberukan jaminan hidup.

Kordinator Lapangan aksi, Firdha Mutmainnah. (Foto: Istimewa)

“Sungguh miris karena kekerasan terhadap perempuan sudah sering terjadi di Mamasa dan hal secam ini tidak bisa dibiarkan tumbuh kembang di daerah kita yang beradab ini,” ungkap kordinator lapangan Firdha Mutmainnah, pagi tadi.

Olehnya itu, ia meminta kepada penegak hukum agar  memeberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku sebagai efek jera agar kejadian serupa tidak lagi terjadi di Mamasa ini.

Menanggapi hal itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mamasa Fraksi PKB Mangguali mengatakan, akan segera memanggil pihak terkait melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) menyikapi segala tuntutan yang disampaikan para pengunjukrasa.

Menurut Mangguali, mendengar keluh kesah masyarakat akibat kekerasan terhadap perempuan dan anak dibawah umur, pihaknya sesegera mungkin meminta pemeriksaan daerah untuk menyikapi hal itu.

Dikatakan Mangguali, hal ini perlu adanya penanganan secara serius agar kasus serupa tidak terjadi lagi ditengah masyarakat, apalgi melibatkan anak dibawah umur.

“Paling lambat besok kami akan panggil pihak terkait untuk menyikapi kejadian tersebut supaya dalam waktu singkat segera diadakan penanganan terhadap korban,” kata Mangguali.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR