Sepasang Sandal Jepit, Nataniel ‘Pergi’ Tinggalkan Maria di Tawalian

2473
Sepasang sandal jepit diduga milik korban (Nataniel) ditemukan di dalam kios, tempat korban mengakhiri hidupnya, Barra-barra, Desa Tante Tangnga, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, Rabu petang, 15 September 2021. (Foto: Sarman Sahuding)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Lelaki Oskar (40an tahun) menyetop motornya persis di depan kios Nataniel (22 tahun). Sembari bergegas dengan langkah cepat, Oskar sempat berkata: “Laditutuk indee gardu akalabongi.”

Satu persatu papan penutup bagian depan kios Nataniel dipasang secara beraturan oleh Oskar. Sebelum tiga lembar papan terakhir sebagai penutup gardu Nataniel itu, Oskar masih sempat menunjuk sepasang sandal jepit.

“Mungkin ini sandal korban,” ujarnya. Ia gerakkan kakinya mendorong sandal itu ke dalam gardu.

Sebuah lampu penerang menyala dalam kios (gardu) Nataniel. Pada petang menjelang malam, Rabu, 15 September 2021, waktu sudah menjunjukkan pukul 17.30 WITA.

Oskar bergegas pulang. Kios miliknya yang hanya belasan meter dari kios Nataniel sudah tertutup.

Belasan kios satu jejeran memanjang di Pasar Barra-barra, Tawalian, Mamasa itu, masih ada satu kios yang buka, pas yang ada di ujung, dekat pintu masuk kompleks pasar.

Akhir rangkaian olah tempat kejadian perkara (TKP) atas penemuan mayat Nataniel alias Niel di Pasar Barra-barra oleh personil Sat Reskrim dan Polsek Mamasa, Polres Mamasa, Kaur Bin Ops (KBO) Polres Mamasa Yunus beri keterangan pers sekitar pukul 17.30 WITA — di TKP.

Sejak pukul 15.30 WITA, Unit Identifikasi Sat Reskrim Polres Mamasa melakukan olah TKP atas penemuan mayat pada sebuah kios di Pasar Barra-barra, Desa Rantetangnga, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa.

Menurut keterangan BKO Polres Mamasa Yunus, korban adalah seorang pemuda bernama Nataniel atau biasa disapa Niel.

Sehari-harinya pemuda berprofesi sebagai pedagang kecil-kecilan (wiraswasta).

“Korban ditemukan gantung diri dengan sebuah tali nilon,” ujar Yunus.

Setelah mendapat informasi dari warga yang juga tetangga korban, aparat kepolisian dari Polsek Mamasa kemudian menuju ke TKP.

Sekitar pukul 15.30 WITA, polisi membawa korban (Nataniel) ke RS Banua Mamase.

Menurut Yunus, motif korban melakukan gantung diri diduga karena himpitan ekonomi.

Keterangan tertulis Sat Reskrim Polres Mamasa IPTU Dedi Yulianto menyebutkan, sesuai hasil pemeriksaan terhadap korban di RS Banua Mamase oleh dr Eka, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Saat pemeriksaan di rumah sakit disaksikan oleh pihak keluarga dekat korban. Setelah itu, pihak kepolisian mengantar jenazah korban ke rumah duka.

Sesuai informasi resmi dari pihak keluarga korban, Polres Mamasa menyimpulkan bahwa Nataniel meninggal murni bunuh diri dengan cara gantung diri.

Nasib seseorang tiada yang bisa menduga. Pemuda Niel masih sangat muda. Dari romannya tersirat kepolosan.

Ia cepat menikah. Nataniel mengakhiri masa lajangnya sekitar dua bulan yang lalu.

Ia menikah dengan seorang perempuan Tawalian bernama Maria (19 tahun).

Setelah menikah, sebut Kristin, pemuda Niel berangkat ke Pinrang (Sulsel).

Nataniel bekerja di Pinrang. “Baru seminggu yang lalu ia pulang ke Mamasa,” kata Kristin.

Dan, selama seminggu ini — sebelum tali nilon menekan kuat kulit lehernya awal petang tadi — belum ada keterangan detail apa saja yang terjadi pada diri Nataniel.

Mungkin sang istri, Maria yang sedang hamil muda, tahu apa sebenarnya gejolak yang dialami suaminya itu.

Tapi Maria kini dalan keadaan ‘tak berdaya’ — berat menerima kenyataan suaminya ‘pergi’ terlalu cepat.

Di linimasa facebook ditemukan potongan percakapan sejumlah pemilik akun — yang tak lain teman pergaulan korban — yang menyebut korban adalah pribadi yang terbuka dan baik.

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR