Panitia Pilkades Mamasa “Marahi” Wartawan

1350

Saya sudah bilang tadi saya tidak mau berkomentar,” kata Muh. Amin kepada kedua wartawan yang mewawancarainya itu.

TRANSTIPO.com, Mamasa – Sebuah kejadian tak mengenakan bagi pekerja media di Mamasa pada Rabu, 12 April 2017.

Kejadian ini siang kemarin 12 April 2015.Kejadian mengejutkan terjadi ketika sejumlah awak media mewawancarai panitia pemilihan kepala desa (Pilkades) tingkat Kabupaten Mamasa. Hal yang dikonfirmasi terkait tahapan dan persyaratan pemilihan kepala desa yang akan diselenggarakan secara serentak pada April mendatang.

Cerita kejadiannya begini. Dua orang wartawan di Mamasa. Semuel adalah reporter Polman Ekspres dan Frendy Cristian adalah Jurnalis transtipo. Keduanya mengonfirmasi data Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk salah satu desa Kabupaten Mamasa yang pada April nanti akan berpilkades.

Muh. Amin, ketua panitia pilkades tingkat kabupaten, yang saat ini menjabat Kasubag Administrasi Bina Pemerintahan Desa dan Kecamatan, Bagian Administrasi Pemerintahan Pemkab Mamasa, tak bersedia menunjukkan data yang dimaksud.

Muh. Amin beralasan data itu harus diserakan dulu kepada Bupati Mamasa, “Nanti saya kasih kalau daftar Ini sudah diserahkan ke bupati. Saya tidak akan memberi komentar lagi. Titik.” Begitu cara Muh. Amin melayani wartawan pada Rabu, 12 April itu.

Awak media juga menanyakan soal Surat Keterangan (Suket) bebas temuan dari Inspektorat Daerah terhadap kepala desa yang saat ini kembali mencalonkan diri. Belumlah usai pertanyaan itu ketika Amin kemudian memotong pembicaraan dengan nada keras.

“Saya sudah bilang tadi saya tidak mau berkomentar,” kata Muh. Amin kepada kedua wartawan yang mewawancarainya itu.

Setelah bicara dengan nada tinggi itu, sejurus dengan itu Amin lalu tanya balik ke wartawan bersangkutan dengan mengonfirmasi surat tugas keduanya. Dengan sekelebat itu pula, Semuel dan Frendy lalu menunjukkan surat tugas dan kartu pers atas nama medianya.

Meski dengan begitu, Amin masih tak beri perlakuan baik kepada wartawan yang sudah bermaksud baik menemuinya.

“Silahkan tanyakan aturan pers ke bagian humas. Kita bisa layani kalau ada surat tugas,” kata Amin yang mengarahkan wartawan ke Bagian Humas Pemkab Mamasa untuk minta surat tugas peliputan.

Ketika awak media ini berusaha menjelaskan ke Amin bahwa yang ditanyakan bukan soal DPT melainkan soal Suket, tapi nasi sudah jadi bubur. Pertanyaan itu justru dipotong oleh salah seorang panitia Pilkades. Oknum panitia itu adalah Kasubag Pemerintahan Umum.

“Kenapa persoalan ini terus yang ditanyakan. Tiap hari ini terus, nah orang juga kerja, banyak pekerjaan lain yang mau dikerjakan di sini,” kata pejabat ini dengan nada seolah marah-marah.

Menurut Semuel, dirinya sangat kecewa terhadap perlakuan jajaran panitia Pilkades di Mamasa ini.

“Kita sangat kecewa terhadap sikap sejumlah panitia yang arogan itu. Padahal kita hanya berusaha mengail data dan fakta untuk kepentingan penulisan berita. Berita yang baik—dari reportase yang benar—kan untuk kepentingan masyarakat Mamasa juga. Kan informasi yang jelas itu baik,” kata Semuel dengan nada retorik, kesal.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR