Keluh Kesah Warga Akibat Jalan Kubangan

425
Kondisi Jalan Poros Sika-Mehalaan, terletak di Salulambu, Desa Salukonta, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, kian memburuk. (Foto: Wahyu)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Kerusakan ruas jalan poros Sika-Mehalaan, tertetak di Salulambu, Desa Salukonta, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa semakin memburuk, terlebih ketika hujan turun kondisi jalan itu ibarat kubangan kerbau.

Jalan ini merupakan akses utama masyarakat menuju Ibukota Kecamatan Mehalaan, dengan kondisi jalan ini nyaris terputus, membuat aktivitas masyarakat lumpuh.

Tak sedikit warga yang diresahkan, namun, semua Masyarakat Kecamatan Mehalaan mengalami keresahan akibat kondisi jalan yang berhias lumpur dari tanah merah itu.

Akses jalan poros menuju Kecamatan Mehalaan rusak parah meresahkan warga. (Foto: Wahyu)

Jangankan roda emapt (Mobil), sepeda motor pun tidak bisa melintas, bahkan pejalan kaki juga tidak dapat melaluinya apalagi dengan cuaca ekstrem saat ini.

Ironisnya, kondisi jalan yang rusak parah ini bukan karena faktor alam simata, namun, akibat perintisan jalan Tani milik Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa.

Pasalnya, perintisan jalan tani itu berada tepat diatas jalan poros, galian tanahnya menimbun ruas jalan hingga menjadikan lumpur dikala hujan datang.

Perintisan jalan Tani di Desa Salukonta, merusak jalan poros menuju Ibukota Kecamatan Mehalaan. (Foto: Wahyu)

Kondisi yang memprihatinkan ini, seolah-olah ada unsur kesengajaan dari pihak pelaksana pekerja jalan Tani milik Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa. Lantaran, tidak membersihkan galian tanah yang menutup ruas jalan poros tersebut usai pekerjaan.

“Seharusnya setelah pekerjaan Tani itu selesai, dibersihkan tanah yang menutup jalan supaya tidak jadi kendala bagi warga,” ucap salah seorang warga Desa Leko Ivan, saat dikonfirmasi via Whatsapp Senin 13 Januari 2020.

Dikonfirmasi Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura  Kabupaten Mamasa Ir. Mambu mengatakan, dirinya tidak begitu memahami terkait proyek perintisan jalan Tani itu. Namun, ia membenarkan jika pekerjaan tersebut adalah milik Dinas Pertanian.

Ia mengatakan, hal itu merupakan kelalaian sepenuhnya oleh pihak konsultan dan pengawas, tidak memperhatikan dampak lingkungan disekitar lokasi pekerjaan.

Dikatakannya, secepat mungkin akan memanggil konsultan dan pengawas untuk bertanggung jawab atas ulahnya yang mebuat masyarakat resah.

“Cuman saya tidak tau siapa konsultan dan pengawasnya, yang lebih paham itu pekerjaan kepala bidang, tapi sedang tidak berada di tempat, dia ke lokasi meninjau pekerjaan,” kata Mambu, saat dikonfirmasi siang tadi.

Laman ini mencoba menghubungi Kepala Bidang Holtikultura Aris, yang merupakan penanggung jawab pekerjaan tersebut, namun, sedang diluar jangkauan.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR