Juldi (13), penyandang disabilitas, sedang disapih ibunya, Attim. Juldi adalah warga Desa Rantelemo, Bambang, Mamasa, Sulbar. (Foto: Frendy Christian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Juldi (13), seorang anak yang mengalami keterbatasan fisik (disabilitas). Ia adalah warga yang tinggal di Desa Rantelemo, Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa, Sulbar.

Juldi adalah anak pertama dari dua orang bersaudara. Narto (17), kakak Juldi, saat ini sedang duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD), di Bambang, Mamasa.

Orang tua Juldi adalah Buntu Karaeng dan Attim. Buntu dan Attim betapa pusing tujuh keliling. Pasalnya, keduanya hendak mengobati anaknya di rumah sakit, Juldi, namun ia tak punya biaya.

Keluarga ini tergolong miskin. Seharinya-harinya ia bekerja sebagai buruh tani di kampungnya, di Bambang sana.

Kepada laman ini, ia curahkan kondisi dan realita hidupnya.

“Sehari-hari saya dapat upah Rp 50.000 dari bantu garap sawah atau kebun milik tetangga. Penghasilan saya ini tak cukup dibelanjakan kebutuhan sehari-hari. Apalagi, harga-harga sembako sekarang kian meningkat,” cerita Buntu dan Attim kepada laman ini.

Penggalian informasi tentang Juldi, diketahui dari Buntu Karaeng dan Attim di Kecamatan Bambang pada Jumat, 9 November 2017.

Buntu Karaeng bercerita.

Sampai umur tujuh tahun, Juldi masih bisa berjalan dengan bantuan kami, atau disapih. Tapi ketika ia sudah berumur sembilan tahun, ia sudah tak dapat berjalan.

Sejak itu—sejak umurnya sembilan tahun—Juldi kena celaka. Saat itu, ia bergerak tak diduga dan dengan itulah terjadi kecelakaan. Di kakinya luka. Bahkan sebuah kuku kakinya terkelupas.

Sejak itulah Juldi mulai tak bisa berjalan normal—bahkan, sejak itu pula telah mulai lumpuh.

Kepada laman ini, masih pengakuan Buntu, pihaknya memang menerima Kartu BPJS Kesehatan, namun anaknya, Juldi, tak dibawa ke Rumah Sakit (RS) lantaran—ia pikir—tak memiliki biaya cukup untuk pengobatan.

“Memang, BPJS bisa membantu untuk pengobatan. Namun, biaya hidup sehari-hari keluarga saat menemani Juldi selama berobat di rumah sakit tentu pakai ongkos. Lalu ongkos itu dari mana. Untuk biaya hidup sehari-hari saja harus banting tulang,” cerita Buntu.

Attim, ibu Juldi, menyela lalu berbicara. “Kami pernah bawa Juldi ke puskesmas, dan yang diberikan hanya obat sehingga jika obatnya habis ayahnya ke puskesmas ambil itu lagi,” kata Attim.

“Bantuan pemerintah yang kami rasakan hanya Kartu BPJS, di luar dari itu tak ada. Hal ini membuat Juldi hanya dirawat seadanya di rumah,” aku Attim.

Buntu dan Antim berharap ada uluran tangan dari pemerintah daerah guna meringankan penyakit yang diderita anaknya.

FRENDY CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR