Suasana rumah duka almarhum Kades Buangin, di Salulemo, Desa Buangin, Kecamatan Rantebulahan Timur, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulabr), diwarnai isak tangis dari keluarga. (Foto: Wahyu)

TRANSTIPO.COM, Rantebulahan Timur – Jenazah Pelipus (38 tahun) tiba di rumah duka di Dusun Salulemo, Desa Buangin, Kecamatan Rantebulahan Timur (Rantim), Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar).

Rumah itu tak lain adalah rumah milik almarhum yang dibangunnya bersama sang istri, Elsi. Di rumah inilah hidup satu keluarga yang dibina Pelipus dan Elsi.

Kedatangan jenazah Kepala Desa Buangin dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) disambut isak tangis oleh keluarga. Bahkan Elsi tak kuasa menahan tangis sembari memanggil nama suaminya, hingga tubuhnya lemas.

Suara tangisan nampak terdengar bersahutan dari ruang depan rumah duka.

Jenazah almarhum tiba di rumah duka sekitar pukul 13. 00 Wita,  Elsi terus menangis sembari memanggil-manggil sang suami, yang telah kembali ke sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Diketahui, Kades Pelipus ditemukan gantung diri diatas pohon tingginya sekitar dua meter dengan kabel mikrofon, lantaran diduga depresi akibat persoalan yang terjadi di desanya.

Jasad Pelipus, pertama kali ditemukan warga bernama Teolipus sekitar pukul 10.00 Wita. Namun, saat itu ia tak kuasa untuk menyentuhnya karena takut dan kaget.

“Saya langsung lari panggil camat di kantor desa,” kata Teolipus, Senin 28 Juli 2020.

Kepala Desa Pelipus berangkat dari rumahnya di Salulemo sekitar pukul 08.00 Wita, menuju kantor desa di Dusun Buangin, hendak menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada warganya.

Namun ditengah perjalanan, entah apa yang merasukinya hingga ia tega mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Pihak berwajib masih menyelidiki motif dibalik meninggalnya Kades Pelipus, dugaan sementara murni karena gantung diri.

“Untuk saat ini murni karena gantung diri, tapi kami masih akan mempelajari, karena kami tidak bisa menduga-duga, ” ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Mamasa, Iptu Dedi Yulianto.

Sebelum meninggal, Kades Pelipus menitipkan sepucuk surat kepada sang istri dan dua orang anaknya yang ditinggalkan. Dalam surat itu, Pelipus menitipkan beberapa pesan terhadap istri dan anaknya.

Titipan surat yang ditulis almarhum Kades Pelipus, sebelum mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. (Foto: Wahyu)

“Pesan-pesan saya buat keluarga, kiranya apa yang terjadi pada saat ini tidak mempengaruhi hubungan atau tekanan keluarga.

Untuk istri tercinta (Elsi) jaga baik-baik Arga sama Dirga, sekolahkan dengan baik, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan.

Buat ananda Arga/Dirga, sekolah yang baik agar tidak mengulang apa yang dilakukan bapak kalian, jangan sekali-kali masuk jalur politik karena tidak sesuai dengan ajaran agama kita.

Kalau kalian sudah besar nanti, jaga baik-baik ibu kalian kasihi dan sayangilah, maafkan saya, saya melakukan semuanya ini dengan sangat terpaksa karena lebih baik saya berdosa hanya satu kali lagi, dari pada tiap hari melakukan kebohongan hanya karena terpaksa.

Sekali lagi, bagi semua masyarakat saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan saya selama ini yang kurang berkenan di hati saudara-saudaraku.

“Terima kasih atas dukungannya selama saya menjalankan pemerintahan saya, kiranya Tuhan mengampuni akan semua kesalahan yang terjadi selama ini dan tidak akan menjadi batu sandungan bagi pemimpin seluruh lapisan masyarakat untuk membangun kampung tercinta ini,” kata Almarhum Pelipus dalam goresan penanya.

Demikian sepucuk surat yang dititipkan almarhum Pelipus kepada istrinya Elsi bersama dua orang putranya, Arga dan Dirga.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR